Ryan Kiryanto
Jagoan Bulutangkis
Rabu, 1 Juli 2015 | 22:28 WIB
Berbeda dengan kebanyakan teman-teman eksekutifnya yang umumnya menggemari golf atau tenis lapangan, Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Ryan Kiryanto justru sangat mencintai olahraga bulutangkis atau badminton. Sejak 1996, saat mulai berkarya di BNI hingga sekarang, pria kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, pada 12 Oktober 1967 ini, masih rutin dan disiplin berlatih dan bermain bulutangkis minimal tiga kali seminggu.
Ryan mengatakan dengan berlatih bulutangkis secara rutin, kebugaran dan kesehatannya tetap dapat dijaga, sehingga menstabilkan produktivitas dalam bekerja, di samping memiliki lebih banyak teman-teman sehobi.
Dia pun menjadi kenal secara baik dengan sejumlah mantan pemain bulutangkis Indonesia yang dulu pernah mengharumkan nama baik bangsa dan negara, di antaranya Chandra Wijaya, Alan Budi Kusuma, Susi Susanti, Bobby Ertanto, Bambang Supriyanto, dan Simbarsono.
Dalam beberapa kesempatan, Ryan juga bermain dengan mereka untuk pertemanan atau silaturahmi. "Saat ini, saya bermain dan berlatih bulutangkis tidak lagi semata-mata mengejar prestasi, namun lebih mengutamakan aspek kesehatan dan silaturahmi," kata Ryan di Jakarta, baru-baru ini.
Dia juga menyampaikan bulutangkis memang termasuk cabang olahraga keras, menguras fisik, dan membutuhkan kelenturan tubuh. Karena itu, sehabis berlatih, biasanya tubuh akan serasa segar, pikiran juga segar, karena stres hilang.
Bulutangkis sesuai dengan prinsip yang dipercayai Ryan, yakni mens sana in corpore sano, artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. "Apalagi, bulutangkis termasuk olahraga rakyat yang murah-meriah (padat karya, Red). Berbeda dengan golf atau tenis lapangan yang padat modal. Bulutangkis paling setahun sekali cukup Rp 1,5 jutaan untuk ganti raket, iuran bulanan Rp 450.000 untuk tiga kali latihan dalam seminggu," tambah Ryan.
Kecintaannya pada dunia bulutangkis itu bukan tanpa alasan. Ryan sudah menekuni bulutangkis sebagai olahraga prestasi sejak SMP. Sewaktu masih SMP dan SMA di Purworejo, Ryan sering bertanding mewakili sekolah atau Kabupaten Purworejo apabila ada kejuaraan antardaerah, misalnya Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Tengah.
Saat kuliah di UGM Yogyakarta, dia juga aktif bermain mewakili Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP UGM) pada 1986-1990. "Mungkin, ini bakat alam. Kebetulan, sewaktu saya masih tinggal di Purworejo, dekat rumah saya ada lapangan bulutangkis. Saya dan adik laki-laki saya berkembang dan menjadi juara beberapa kali di Kabupaten Purworejo dan sering mewakili Purworejo dalam berbagai turnamen," katanya.
Begitu pun saat mulai berkarier di BNI, lulusan Magister Manajemen UI tersebut masih aktif berlatih dan bermain bulutangkis, dimulai dari menjadi pemain paling muda (1996) hingga menjadi pemain paling tua (2015).
Beberapa kali, Ryan menjadi tim inti BNI berpartisipasi dalam kegiatan Porseni BUMN dan POR Bank. Sampai 2014, masih terlibat di tim inti Porseni BUMN mewakili BNI, dan tahun ini, Ryan optimistis dipercaya kembali di Porseni BUMN.
Jika Ryan menyukai bulutangkis, dua anak lelakinya justru mencintai sepakbola. Dua anak laki-lakinya Ryan, Yohanes Amadeus Raditya dan Yovian Christopher Pradipta kini disekolahkan di SSB ASIOP sejak tujuh tahun lalu. Tujuannya agar mereka sehat dan bugar, serta memiliki banyak teman, sekaligus mengembangkan jiwa kepemimpinan, toleransi, dan kooperatif.
Di samping olahraga bulutangkis, Ryan juga gemar membaca dan travelling saat senggang. Melalui hobi membaca dan travelling, wawasannya menjadi lebih terbuka, lebih luas, dan lebih toleran dalam menyikapi dinamika kehidupan yang beragam dari aspek apa pun.
Filosofi hidup Ryan sangat simpel, selalu menyenangkan hati Tuhan, yang memiliki arti sangat luas dengan mematuhi yang menjadi perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Untuk itu, ia harus selalu berusaha berbuat baik terhadap semua orang.
"Passion" Ekonomi
Ryan sebenarnya memiliki latar belakang pendidikan administrasi publik. Namun, karena sejak menjadi karyawan BNI dituntut untuk mengetahui lebih banyak lagi pengetahuan tentang ekonomi demi menunjang pekerjaannya sebagai analis kredit waktu itu, kecintaan atau passion-nya terhadap analisia ekonomi semakin membesar.
"Kebetulan, pimpinan BNI memberikan ruang dan waktu yang memadai kepada saya untuk berkembang hingga sekarang ini," katanya.
Melalui pendalaman analisis ekonomi, dia berharap mampu memberikan manfaat yang optimal bagi pimpinan BNI dalam mengambil keputusan dan kebijakan bisnis. Kinerja BNI pun diharapkan dapat meningkat secara berkesinambungan.
"Saya juga memikirkan untuk mendalami bidang-bidang lain yang menantang guna memperkaya kompetensi, kapabilitas, dan kapasitas saya ke depan. Bagi saya, perjalanan karier selama di BNI sangat mengesankan, dan semuanya, karena passion, sehingga saya menikmatinya dengan sepenuh hati," ujarnya.
Jauh sebelum menjadi kepala ekonom BNI mulai 2011, Ryan sudah terlibat aktif di beberapa organisasi, di antaranya sebagai pengajar di Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) di Kemang, Jakarta, juga menjadi pengajar tamu di Program Pasca-Sarjana Kelas Eksekutif Jakarta UGM dan pengajar tidak tetap di program Certified Securities Analyst (CSA) di Jakarta. Ryan juga aktif di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk bidang keuangan dan perbankan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




