Jelang Lebaran, Jasa Penukaran Uang Receh Makin Menjamur

Senin, 13 Juli 2015 | 20:13 WIB
CH
B
Penulis: Chiquita Hutauruk | Editor: B1
Ibu Marbun sedang menjajakan penukaran uangnya di Jalan Gadjah Mada (sekitar halte Harmoni), 13 Juli 2015
Ibu Marbun sedang menjajakan penukaran uangnya di Jalan Gadjah Mada (sekitar halte Harmoni), 13 Juli 2015 (Beritasatu.com/Chiquita Olivia Hutauruk)

Jakarta - Memasuki H-4 Idul Fitri, jasa penukaran uang receh di sepanjang Pondok Indah, serta Jalan Gadjah Mada menuju Kota, semakin marak. Bagi beberapa penjual jasa tersebut, lebaran tak hanya perayaan, tetapi juga memberikan rezeki.

"Besok (H-3) sampai H-1 lebaran biasanya puncak ramainya orang-orang menukarkan uang. Makanya saya mulai jualan seminggu sebelum lebaran saja karena ramainya ya di hari-hari itu," jelas Marbun kepada Beritasatu.com, di Jalan Gadjah Mada, Senin (13/7).

Menurut keterangannya, alasan ia dan suaminya, Marpaung, berjualan jasa penukaran uang adalah adanya permintaan besar uang receh saat Ramadan.

"Kan banyak orang tua ingin nyawer ke anak-anak. Butuh uang kecil, tapi malas pergi ke bank. Jadi kami pikir usaha ini lumayan juga untuk tambah-tambah. Musiman saja," jelas Marbun.

Marpaung menjelaskan, setiap paket yang dijual ditarik keuntungan sebesar 10 persen.

"Paketnya ada macam-macam, ada yang Rp 200.000, Rp 500.000, Rp 1 juta, dan seterusnya. Misalnya ada orang beli paket Rp 500.000, berarti harganya Rp 550.000," jelas Marpaung.

Untuk tahun ini, rata-rata penjual memang hanya menarik keuntungan 10 persen saja. Meskipun demikian, kata dia, tak jarang pembelinya meminta potongan harga.

"Bukannya pelit, tapi memang tak bisa terlalu banyak kortingnya karena uang ini kan bukan uang sendiri, tapi ada koordinator yang menukarkannya ke Bank Indonesia. Jadi, sekitar 30 persen dari 10 persen keuntungan itu harus kami bayarkan ke koordinator," jelasnya.

Potongan harga tersebut, kata dia, berpengaruh pada pendapatan mereka, bukan pada pendapatan kordinator.

Omzet yang didapatkan Marbun setiap harinya berkisar Rp 200.000 sampai Rp 300.000. "Lebih enak kalau pakai uang sendiri, keuntungannya bisa buat sendiri. Kalau ini kan harus bayar dulu ke atasan," katanya.

Menurutnya, jasa penukaran uang ini sangat populer di masa uang pecahan Rp 2.000 baru dicetak. "Di masa itu (sekitar tahun 2009), kami bisa ambil untung 20 persen, dan tetap ramai. Tapi kalau tahun 2015 ini tergolong sepi dibanding Ramadan tahun sebelumnya," kata Marpaung.

Pada hari ketiganya berjualan, paket termahal yang dapat dijual adalah Rp 2,5 juta.

"Kalau di tempat lain katanya ada yang bisa sampai jual paket Rp 50 juta. Tapi namanya juga usaha ya bersaing satu sama lain saja, tak usah iri. Yang penting tak mengusik rezeki orang," kata Marbun.

Menurut salah satu pembeli jasa ini, Andi, jasa penukaran uang ini sangat memudahkan orang-orang yang ingin lebaran. "Sebenarnya ambil 10 persen itu enggak mahal-mahal banget. Tapi namanya naluri pembeli, inginnya tetap dapat diskon. Tapi sejauh ini kelihatannya baik-baik saja karena saya jadi lebih mudah untuk nyawer saudara yang kecil-kecil," jelas Andi.

Selama berjualan, Marbun, Marpaung, serta jasa penukar uang lainnya membawa jutaan rupiah di tas mereka. "Kami sih tidak takut kecopetan. Kalau niatnya baik, pasti diberkati Tuhan," kata Marbun.

Menurut mereka, daerah yang pasti masih ramai dengan jasa penukaran uang adalah Gadjah Mada, Pondok Indah, dan Kota.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon