Hadang Gerakan Radikal, Muhammadiyah Melakukan Dakwah Pencerahan

Rabu, 5 Agustus 2015 | 09:32 WIB
YP
B
Penulis: Yustinus Patris Paat | Editor: B1
Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti
Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti (Istimewa)

Makassar - Salah satu kandidat kuat Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2015-2020 Abdul Mu'ti menuturkan,  Muhammadiyah melakukan sejumlah dakwah pencerahan untuk menghadang gerakan-gerakan radikal sehingga menciptakan Islam yang damai dan sejuk.

"Dakwah pencerahan merupakan wujud dari visi Islam berkemajuan yang tidak pernah memberi ruang pada gerakan-gerakan radikalisme baik yang disebabkan oleh rasa takut secara teologis, budaya, politik dan ekonomi," ujar Abdul, di Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (5/8).

Sekretaris PP Muhammadiyah ini mengungkapkan, tiga langkah dakwah pencerahan yang dilakukan Muhammadiyah untuk mencegah gerakan-gerakan radikal. Pertama, langkah teologis yang dilakukan dengan memberikan pedoman kepada anggota Muhammadiyah untuk tidak terlibat dalam gerakan radikal.

"Ini dilakukan dengan berbagai pendidikan, diskusi, ceramah atau kajian-kajian teologis dan agama Islam tentang toleransi, kebebasan beragama, kerukunan beragama dan sikap saling menghargai," ujar Abdul.

Langkah pencerahan kedua, lanjutnya, adalah langkah politis. Melalui langkah ini, katanya, Muhammadiyah mendorong pemerintah membuat kebijakan-kebijakan yang menghargai toleransi dan tidak membiarkan gerakan-gerakan radikal berada di Indonesia.

"Dalam konteks ini, pemerintah juga memberikan sumbangan pemikiran kepada pemerintah untuk memerangi gerakan-gerakan radikal, serta mendorong pemerintah menegakkan hukum positif jika ada yang terbukti terlibat dalam gerakan radikal," katanya.

Langkah pencerahan terakhir, kata Abdul, adalah langkah kultural. Menurutnya, langkah ini dibangun Muhammadiyah melalui dialog lintas agama dan budaya. Selain itu, langkah ini juga dibangun melalui kerja sama di bidang kemanusiaan, sosial dan bencana alam.

"Langkah kultural melalui dialog dan kerja sama antara agama dan budaya telah dilakukan Muhammadiyah baik di dalam negeri maupun di luar negeri," ujar Abdul.

Abdul mengingatkan bahwa radikalisme tidak hanya monopoli agama Islam. Semua agama, katanya, memiliki gerakan radikalisme.

"Radikalisme itu terjadi karena adanya insecurity atau rasa tidak aman baik secara teologis, budaya, politik dan ekonomi. Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara komprehensif dan melibatkan berbagai pihak, seperti pemerintah, aparat penegak hukum, dan kelompok masyarakat madani seperti Muhammadiyah," kata Abdul.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon