PKL di Jakarta Belum Rasakan Dampak Kemerdekaan

Senin, 17 Agustus 2015 | 15:54 WIB
B
YD
Penulis: BeritaSatu | Editor: YUD
Sejumlah warga mengerumuni PKL yang berjualan makanan untuk berbuka puasa di Jalan Soka, RT03/RW11, Kelurahan Rawa Badak Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, 18 Juni 2015.
Sejumlah warga mengerumuni PKL yang berjualan makanan untuk berbuka puasa di Jalan Soka, RT03/RW11, Kelurahan Rawa Badak Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, 18 Juni 2015. (Suara Pembaruan/Carlos Roy Fajarta)

Jakarta - Pedagang kaki lima (PKL) di wilayah Jakarta yang berpenghasilan sekitar Rp 20.000-100.000 perhari, mengatakan, belum merasakan dampak Kemerdekaan Republik Indonesia, yang sudah memasuki usia ke-70 tahun.

"Dampak kemerdekaan itu belum terasa sampai sekarang. Hidup semakin lama semakin susah, harga-harga semakin mahal," ujar Kayun, pedagang kaki lima yang berjalan di Kawasan Tanah Abang, Jakarta, Senin (17/8).

Kayun melanjutkan semakin beratnya himpitan ekonomi membuat pedagang kecil sepertinya sulit untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.

"Dari hasil dagang ini, jika berjualan dari pagi sampai malam, saya bisa mendapat maksimal Rp 100.000 sehari. Penghasilan sebesar itu sulit untuk menyekolahkan anak-anak, bisa sampai SMA saja sudah syukur," kata pedagang minuman ringan yang memiliki enam orang anak ini.

Hal senada juga disampaikan Jumadi, yang sehari-hari berjualan rokok dan minuman. Dia mengatakan tingginya harga barang membuat kehidupannya semakin susah.

Dengan penghasilan sebanyak-banyaknya Rp 40.000 perhari, dia terus berjuang keras mencari cara bagaimana dapur bisa tetap mengepul.

Namun, dia mengaku tetap bisa menyekolahkan anak-anaknya walau tidak sampai ke perguruan tinggi.

"Anak saya tiga orang dan semuanya bersekolah. Sehari-hari saya juga dibantu istri yang berjualan nasi," kata Jumadi.

Sementara itu pedagang kaki lima lain, Setiana, berharap agar pemerintah bisa segera menurunkan harga barang-barang, untuk mengurangi beban hidup orang-orang kecil seperti dirinya.

"Saya minta harga jangan naik terus, hidup sudah semakin susah," kata Setiana yang berpenghasilan sekitar Rp 20.000 perhari.

Sementara, Kayun meminta pemerintah, beserta pejabat dan elit politik agar benar-benar memperhatikan rakyat kecil dan jangan cuma memanfaatkan orang-orang miskin menjadi "jualan" saat masa kampanye.

"Saat pemilu mereka berteriak-teriak membela rakyat kecil, namun setelah terpilih kemudian dilupakan, karena tidak lagi diperlukan. Ini harus diubah," tutur Kayun.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon