Ilaga Memanas, 2 Warga Tewas

Senin, 6 Februari 2012 | 16:06 WIB
FN
B
Penulis: Farouk Arnaz/ Ratna Nuraini | Editor: B1
Sejumlah anggota Pasukan Brimob Detasemen Pelopor Polda Papua saat diberangkatkan menuju Ilaga, Kabupaten Puncak Papua dari Jayapura dengan menggunakan pesawat Charter twin Otter  melalui Wamena, Kabupaten Jayawijaya (20/1/12).     FOTO ANTARA/Chanry Andrew Suripatty
Sejumlah anggota Pasukan Brimob Detasemen Pelopor Polda Papua saat diberangkatkan menuju Ilaga, Kabupaten Puncak Papua dari Jayapura dengan menggunakan pesawat Charter twin Otter melalui Wamena, Kabupaten Jayawijaya (20/1/12). FOTO ANTARA/Chanry Andrew Suripatty
Salah satu korban diketemukan dengan leher hampir putus.

Ketenangan Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua terusik. Kali ini dua warga ditemukan tewas diserang sekelompok orang tidak dikenal bersenjata parang, panah, dan senjata api.

Kejadian terakhir itu pada Sabtu, (4/2). Yakni, saat delapan orang kampung Wandidok, Ilaga, sedang mencari ubi di hutan. Mereka lalu diserang sekelompok orang tak dikenal dan kontan mereka pun lari menyelamatkan diri.

Namun, dua warga, yakni Jano Alom dan Nemek Amawe, gagal menyelamatkan diri.

"Jano sebenarnya sempat memanjat pohon karena mengira pelaku hanya  menggunakan parang. Ternyata mereka punya senapan api dan menembak korban hingga tembus punggung," kata Kadiv Humas Polri Irjen Saud Usman Nasution di Mabes Polri,  hari ini.
 
Saud melanjutkan, Nemek ditemukan di sungai dengan kondisi sekujur tubuh dipenuhi luka tusuk dan leher hampir putus. "Kasusnya ditangani Polres Puncak. Kasus-kasus begini akan sulit terungkap karena minim saksi dan bukti," lanjutnya.
 
Saud belum mengetahui apa motif penyerangan ini terkait dengan kisruh  Pemilukada. Tapi yang jelas, kedua korban adalah warga asli Ilaga. Mereka bukan pendatang.
 
Konflik yang terkait dengan pilkada di Kabupaten Puncak memang terus  menelan korban. Sejak konflik mencuat pada Juli 2011, korban terus  berjatuhan.

Data terakhir pada Januari lalu menyebutkan, setelah konflik berlangsung enam bulan, 49 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Konflik itu melibatkan pendukung dari dua calon bupati. Kebetulan, dua-duanya disokong oleh Partai Gerindra.
 
Konflik berawal saat bakal calon bupati Elvis Tabuni- Heri Dosinay mendaftar ke KPU setempat dan diterima. Sedangkan, bakal calon bupati Simon Alom-Yosian Tenbak yang juga mendaftar ke KPU Puncak ditolak. Pasalnya, mereka menggunakan partai yang sama yakni Gerindra. Hal itu memantik konflik antardua kubu yang berlanjut sampai sekarang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon