Arie Christopher Setiadharma

"Passion" Membuat Segalanya Lebih Mudah

Rabu, 2 September 2015 | 07:16 WIB
IH
AB
Penulis: Indah Handayani | Editor: AB
CEO PT Surya Sejahtera Otomotif (Ferrari Indonesia), Arie Christopher Setiadharma
CEO PT Surya Sejahtera Otomotif (Ferrari Indonesia), Arie Christopher Setiadharma (BeritaSatu Photo/GAGARIN)

Tak banyak orang yang mampu mewujudkan mimpi masa kanak-kanaknya di kala dewasa. Salah satu orang yang mampu mewujudkan mimpinya adalah Arie Christopher Setiadharma. Mimpinya kala kecil untuk berkerja di sebuah perusahaan otomotif asal Italia, Ferrari, telah menjadi kenyataan. Ia bahkan dipercaya menempati posisi puncak sebagai chief executive officer (CEO) PT Surya Sejahtera Otomotif, agen resmi Ferrari di Indonesia.

Tentu saja Arie mewujudkan mimpinya dengan kerja keras dan melewati jalan berliku. Ia bahkan memulai kariernya di dunia otomotif dari posisi bawah. Arie pernah menjadi sales administration staff pabrikan mobil Swedia, Volvo, di Jakarta. Semua itu dilaluinya dengan penuh sukacita. Maklum, dunia otomotif merupakan kecintaan dan hobinya sejak duduk di bangku SD.

Sewaktu SD, Arie Christopher sudah hobi mengumpulkan brosur mobil demi mengetahui keunggulan dan karakteristik sebuah mobil. Jika anak sebayanya kebanyakan menjadikan mobil-mobilan itu sekadar sebagai mainan, tidak demikian dengan Arie. Ia menyimpan mobil miniatur alias die cast tersebut dan mengumpulkannya hingga jumlahnya mencapai 4.000 buah.

"Hal itu terus berlanjut sampai saya kuliah. Saat lulus kuliah, kalau saya ditanya mau kerja apa, jawaban saya langsung tegas, yaitu bekerja di dunia otomotif," tutur Arie di Jakarta, belum lama ini.

Namun, setelah lulus kuliah, Arie malah diarahkan oleh orangtuanya agar bekerja di bidang finance di Barito Pacific. Di bidang itu, ia hanya mampu bertahan enam bulan. Arie merasa pekerjaan tersebut bukan tempatnya.

Akhirnya, ia mulai merangkai wujud mimpinya dengan melayangkan lamaran ke berbagai industri otomotif. Bahkan, kepada perusahaan otomotif yang tidak membuka lowongan pekerjaan, ia nekat mengirimkan lamaran. Upaya Arie akhirnya membuahkan hasil kala ia dipangil Indomobil.

Pada sesi wawancara, ketika ditanya ingin menangani merek pabrikan mobil apa, dengan mantap Arie menjawab Volvo. "Saat itu, saya memang sangat ingin menangani high segment. Singkat kata, akhirnya saya diterima bekerja di Volvo dari tahun 1995 hingga 2000. Berbagai jabatan dan bidang telah saya geluti, mulai sales administration staff hingga sales coordinator used," paparnya.

Hingga pada suatu hari, Arie Christopher melihat iklan lowongan di salah satu media massa bahwa Ferrari tengah mencari karyawan. Tanpa pikir panjang, ia melayangkan lamaran sebagai sales supervisor ke perusahaan tersebut. Ferrari memang mobil favorit Arie sejak kecil. Bahkan, sewaktu SMP, ia sudah mengoleksi ensiklopedia mobil pabrikan Italia tersebut.

Tidak disangka-sangka, ia dipanggil untuk wawancara. Arie senang bukan alang-kepalang. Soalnya, ia diwawancara langsung oleh salah satu founder Ferrari Indonesia, Indrajit Sardjono. Apalagi saat itu, Indrajit juga menjadi komentator balapan F1 di televisi yang notabene adalah idolanya.

"Waktu itu saya diwawancara hingga satu jam. Pada 1 Desember 2000, saya dipanggil dan dinyatakan diterima bekerja di Ferrari. Rasanya bagaikan mimpi, senangnya luar biasa. Hingga saat ini, saya bekerja sesuai impian saya," katanya.

Arie percaya semua itu terwujud karena ia selalu berprinsip bahwa seseorang harus bekerja berdasarkan hobi atau gairah (passion)-nya. "Bagi saya, kalau tidak bekerja berdasarkan kesenangan atau gairah, hampir pasti kita tidak bisa melampaui berbagai rintangan. Hobi dan passion menjadikan segalanya lebih mudah," tegasnya. Berikut penuturan lengkap eksekutif kelahiran Jakarta, 14 April 1972 itu.

Bagaimana rasanya bisa mewujudkan impian masa kecil Anda?
Luar biasa senangnya. Semua ini terwujud karena saya selalu berprinsip dari dulu bahwa seseorang harus bekerja berdasarkan hobi atau passion-nya. Hal itulah yang selalu saya ungkapkan kepada tim saya untuk memotivasi mereka.

Bagi saya, kalau tidak bekerja berdasarkan kesenangan kita, hampir dipastikan kita tidak bisa melampaui berbagai rintangan. Jadi, itulah yang saya lakukan sejak Ferrari berdiri di Indonesia hingga saat ini, yaitu bekerja dengan hati, berdasarkan hobi dan passion.

Banyak orang yang bilang bahwa saya enak bisa bekerja sesuai hobi dan impian saya. Saya selalu membalasnya, maka cobalah untuk mewujudkannya dengan mencari pekerjaan yang sesuai hobi Anda.

Kalau saya sih selalu berprinsip jangan menjalani pekerjaan yang tidak sesuai hobi kita. Apalagi kalau cuma mementingkan materi atau mengejar gaji besar semata, padahal hati nurani tidak di situ. Bagi saya, itu nothing. Kalau bekerja berlandaskan kesenangan dan gairah, hasilnya akan mengikuti dari belakang.

Sampai saat ini, kesenangan saya terhadap dunia otomotif tidak pernah berhenti. Bahkan, teman-teman masih suka meminta pendapat saya tentang mobil ini dan itu. Bagi saya, itu sebuah penghormatan dan bukan karena saya hebat, tapi karena memang passion saya yang selalu ingin mencari tahu berbagai hal tentang mobil.

Biasanya, saya memberikan masukan tentang mobil bukan hanya dari segi teknikal, tapi juga karakternya. Masukan itu saya gali melalui berbagai searching di internet. Tak jarang pula saya sengaja mendatangi berbagai pameran mobil hanya untuk mengetahui produk terbaru mereka.

Apalagi mendatangi pameran otomotif, itu hobi saya sejak SMP. Lucunya, waktu masih SMP, saya datang ke pameran sendiri atau ditemani sopir ayah saya waktu itu karena di keluarga saya tidak ada yang hobi otomotif. Saya datang ke pameran otomotif hanya ingin bertanya kepada orang sales-nya tentang spesifikasi mobil tersebut dan apa istimewanya. Terakhir, saya meminta brosur.

Terkadang orang sales-nya bertanya, buat apa anak kecil minta brosur? Waktu itu saya suka berbohong bahwa papa saya ingin beli mobil dan minta pendapat saya. Hingga sekarang pun saya masih suka pergi ke pameran mobil, iseng-iseng duduk dan mencoba mobil-mobilnya, meski tidak beli. Bagi saya, otomotif it's everything.

Hobi berpengaruh dalam pembentukan karakter Anda?
Bagi saya, mobil sama dengan manusia atau kehidupan. Setidaknya ada kemiripan. Mobil itu punya karakter, baru bisa diapresiasi orang. Begitu pula hidup. Jadi, setiap orang harus memiliki karakter agar bisa diapresiasi.

Sebuah mobil kalau enggak punya karakter akan sama saja dengan mobil-mobil lainnya. Dalam hidup, kita harus punya warna dan karakter sendiri. Jika tidak membuatnya, kita akan sama saja dengan orang lain dan mengikuti arus yang entah akan membawa kita ke mana. Bagi saya, karakter itu bukan dinilai baik atau buruknya, tapi memang itulah keunggulannya.

Gaya kepemimpinan Anda di perusahan?
Saya selalu berpikir, dalam perusahaan tidak ada bos dan anak buah. Saya menyamakan kami semua di perusahaan ini seperti sebuah tim sepakbola. Setiap orang punya fungsi dan tugasnya masing-masing. Begitu pun pimpinan, tidak bisa dibilang asal perintah atau memberikan tugas tanpa mengerti apa artinya.

Jadi, saya selalu bilang enggak ada yang lebih berguna atau tidak di tim ini. Layaknya tim sepakbola, jika masing-masing sadar terhadap tugas dan fungsinya masing-masing, tim ini akan terus berjalan dan mencetak prestasi. Untuk itu, saya selau berusaha hadir di tengah karyawan.

Hal itu terbentuk karena saya memang memulai karier ini dari bawah. Makanya saya mengerti betul apa yang harus dilakukan. Terlebih kalau dikerjakan bersama-sama, tentunya akan selesai lebih cepat. Terpenting lagi, spirit tim tetap terjaga karena bagi saya yang terpenting adalah spirit tim. Kalau spirit tim kuat dan solid, rintangan apa pun akan tertangani dan teratasi.

Sudah banyak pengalaman yang kami hadapi, mulai saya bergabung hingga saat ini. Tantangan selalu ada, misalnya yang menyangkut ekonomi. Tapi kembali lagi, semua rintangan bisa dilalui apabila kami solid dalam membangun perusahan ini. Berbagai rintangan malah membuat kami semakin kuat. Seperti tim sepakbola, semakin banyak tanding malah semakin bagus.

Target Anda selanjutnya setelah mimpi terpenuhi?
Target saya adalah tetap melakukan yang terbaik hari demi hari. Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Potensi pasar di Indonesia masih besar, meski situasi seperti sekarang kurang mendukung. Dengan nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi dan kenaikan pajak bea masuk (BM), orang akan berpikir dua kali untuk membeli mobil premium.

Tapi kami sangat yakin, tidak selamanya ekonomi mengalami kesulitan. Pada saatnya nanti pasti akan bounce back dan membaik lagi. Seperti bisnis lainnya, bisnis otomitif pasti juga mengalami pasang surut.

Terlebih, di pasar Indonesia, segmen Ferrari masuk kategori pasar premium yang pangsanya masih sangat kecil. Meski demikian, kami selalu berpikir positif. Tahun ini saja kami tetap meluncurkan V8 488 dan responsnya terbilang sangat bagus. Mobil itu sendiri baru akan terkirim ke pembeli tahun depan. Mobil Ferrari yang menjadi favorit masyarakat Indonesia kebanyakan memang kategori V8 mid engine atau sport car.

Pengalaman paling berharga selama berkarier?
Satu achievement yang dicapai kami dalam satu kesatuan tim ini adalah berhasil membawa mobil Ferrari untuk tur di Singapura dan Malaysia dengan pelat mobil Indonesia. Kami sendiri bekendara di sana dan untuk pertama kalinya mobil Indonesia sebanyak 31 buah melintasi jalan-jalan utama di Singapura dan Malaysia selama seminggu. Bagi para peserta yang mengikuti touring, itu memberikan kebanggaan dan rasa haru tersendiri.

Bagi kami, itu mendobrak sejarah. Tim kami sempat tidak pecaya bisa melakukannya. Itu bisa terwujud karena kami punya mimpi yang sama dan bergandengan tangan untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon