Jangan Salah Kaprah soal "Kimia" dalam Makanan
Minggu, 6 September 2015 | 16:01 WIB
Bogor - Penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) secara berlebihan dalam makanan yang terungkap dari beberapa kasus belakangan ini patut diwaspadai. Namun, pemahaman yang benar perlu ditingkatkan agar masyarakat tidak salah kaprah dan tidak terjebak dengan kata "kimia" yang menakutkan.
Demikian disampaikan pakar teknologi pangan dan juga guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Hanny Wijaya baru-baru ini. Penegasan itu terkait dengan kesalahpahaman dan minimnya pengetahun terkait bahan tambahan pangan (BTP) dan unsur kimia dalam makanan.
Seperti diketahui, bahan tambahan pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang bukan bagian dari bahan baku pangan secara alami, melainkan ditambahkan ke dalam pangan untuk memengaruhi sifat atau bentuknya. Misalnya, bahan pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti gumpal, pemanis, pemucat, dan pengental.
Menurut Hanny, penggunaan BTP tentu harus disesuaikan dengan aturan dan proporsi dalam batas yang sudah ditentukan. Sayangnya, masih ada saja pihak-pihak tertentu yang tidak mematuhi ketentuan tersebut.
Akibatnya, kata Hanny, muncul salah kaprah soal kandungan kimia dalam makanan dan seolah-olah menjadi hantu bagi masyarakat. Padahal, semua makanan dan minuman juga terbentuk dari unsur kimiawi. Bahkan, air sekalipun terbentuk dari unsur kimia.
"Pemahanan yang keliru dan tampaknya kata 'kimia' menjadi tumbal untuk dideskreditkan, seakan sesuatu yang berkaitan dengan kimia adalah hal yang perlu dihindari," kata Hanny.
Dikatakan, penggunaan kata kimia tanpa pemahaman dan penyampaian yang seutuhnya tanpa disadari akan menjadi bumerang bagi banyak aspek kehidupan kita.
"Sangat sering dalam keseharian, kita melihat atau mendengar penggunaan kata maupun istilah kimia yang tidak pada tempatnya sehingga menimbulkan salah persepsi dan kerancuan, yang terjadi baik di level penjaja pangan segar hingga iklan produk perusahaan besar," ujarnya.
Untuk itu, kata dia, diperlukan upaya agar masyarakat dan semua pihak terkait bisa memahami dengan tuntas soal kimia dalam pangan dan pemanfaatan BTP yang benar. Dengan demikian, konotasi kimia tidak lagi keliru dan tidak salah kaprah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




