Korban Aviastar Dievakuasi Lewat Udara

Selasa, 6 Oktober 2015 | 09:57 WIB
MS
B
Penulis: M Kiblat Said | Editor: B1
Tim SAR melakukan persiapan saat akan melakukan pencarian pesawat Aviastar DHC6/PK-BRM yang hilang di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, 3 Oktober 2015
Tim SAR melakukan persiapan saat akan melakukan pencarian pesawat Aviastar DHC6/PK-BRM yang hilang di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, 3 Oktober 2015 (Antara/Yusran Uccang)

Makassar - Korban pesawat twin otter milik maskapai penerbangan Aviastar yang jatuh di Buntu Bajaja kawasan pegunungan Latimojong, Kabupaten Luwu, Selasa (6/10) dievakuasi langsung dari lokasi kejadian ke Pangkalan Udara (Lanud) Sultan Hasanuddin Makassar di Maros.

Pesawat Aviastar yang take off Jumat (2/10) pukul 14.25 Wita dari Bandara Andi Djemma, Masamba, Luwu Utara ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros, hilang kontak dari Menara Pemantau Bandara Andi Djemma sekitar 11 menit kemudian atau pukul 14.36 Wita.

Setelah dilakukan tiga hari pencarian, pesawat ditemukan Senin (5/10) sekitar pukul 15.15 Wita oleh tim SAR gabungan yang dipimpin Kapolres Luwu AKBP Adex Yusdianto setelah menjejaki informasi dari kesaksian masyarakat yang melihat benda jatuh dan terbakar dibelantara Gunung Latimojong yang berketinggian 3.478 dpl (dari permukaan laut).

Pesawat DHC6/PK-BRM dengan nomor penerbangan MV 7503 itu hancur menabrak gunung. Pilot Capt Iri Afriadi, Co Pilot Yudhistira dan teknisi Soekris Winarto bersama tujuh penumpangnya, masing-masing Nurul Fatimah Muhajir, Lisa Falentin, Riza Arman, M Nasir, Sakhi Arqam, M Natsir serta dua orang bayi Afif dan Raya, tewas dan jenazahnya sulit untuk dievakuasi melalui jalur darat karena jarak dari desa terdekat ke lokasi kejadian cukup jauh dan tak bisa dilalui kendaraan.

Dusun Buntu Bajaja adalah lokasi yang dekat dengan jatuhnya pesawat, peralatan seluler tak bisa digunakan dari lokasi ini karena tak ada jaringan, harus ke Desa Ulu Salu dengan berjalan kaki lebih 24 jam. Desa ini berbatasan dengan Kabupaten Toraja dan Enrekang dan dikelilingi hutan lebat.

Kepala Basarnas, Marsekal Madya FX Bambang Soelistiyo mengatakan, medan jatuhnya pesawat cukup berat, berada di ketinggian dan jurang terjal serta hutan belantara dan sangat jauh dari pemukiman penduduk. Evakuasi akan dilakukan menggunakan helikopter dan Basarnas telah mengerahkan personil tim gabungan yang tadinya 125 orang, jumlah ini bertambahan menjadi 259 orang terdiri TNI, Polri dan SAR dari beberapa daerah .

"Korban akan kita evakuasai melalui jalur udara dari lokasi menuju Makassar, karena sangat sulit untuk dievakuasi menempuh jalur darat," katanya.

Kepala Divisi Humas Polda Sulselbar, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, setibanya di Lanud Hasanuddin, korban akan dijemput oleh Tim Disaster Victims Investigation (DVI) dan dibawa ke RS Polri Bhayangkara di Jalan Mappaouddang, Makassar.

Keluarga korban telah berdatangan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, mereka menunggu kedatangan jenazah, mereka berharap mendapat informasi mengenai kondisi di lokasi kejadian, namun tak seorang pun petugas di Posko yang bisa memberi keterangan.

Suasana duka menyelimuti rumah korban, doa bersama dilakukan untuk keluarga mereka sejak mengetahui pesawat telah ditemukan dan hancur, seperti yang berlangsung di rumah Kepala Bandara Seko, M Natsir, sanak keluarga korban berdatangan di kompleks Bandara Lama 6. Hal serupa juga berlangsung di rumah Muhajir, Pegawai Kementerian Perhubungan yang juga ayah Nurul Fatimah, staf Otoritas Bandara Andi Djemma yang turut menjadi korban dalam pesawat itu bersama dua balitanya Afif dan Raya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon