Belitung Jadi Pusat "Ekspedisi Kapsul Waktu 2085"
Rabu, 14 Oktober 2015 | 08:21 WIB
Jakarta - Tim Ekspedisi Kapsul Waktu 2085 sudah tiba di Belitung, Selasa (13/10). Kehadiran tim yang membawa kapsul waktu itu diharapkan mampu memicu masyarakat Negeri Laskar Pelangi itu untuk mewujudkan mimpi menjadi kawasan tujuan wisata dunia.
Menteri Pariwisata (menpar), Arief Yahya ingin agar kapsul waktu itu mendorong masyarakat setempat merealisasikan potensinya sebagai tujuan wisata alam, budaya, dan olahraga di Indonesia.
Tim Ekspedisi Kapsul Waktu 2085 akan menjelajahi Indonesia dari ujung barat Sabang, Aceh sampai titik paling timur Merauke, Papua, dari utara Mianggas, sampai ke Pulau Rote di selatan.
Menpar secara khusus menyempatkan diri menjemput dan melepas konvoi pembawa pesan mimpi 70 tahun ke depan itu menuju etape berikutnya, Lampung, Banten, Jakarta dan seterusnya.
Ekspedisi yang membawa spirit "Gerakan Ayo Kerja 70 Tahun Indonesia Merdeka" itu diawali dengan perjalanan darat dari titik nol di Pulau Weh, Aceh, dan dilepas oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 10 Maret 2015.
Indonesia sudah merdeka 70 tahun, bebas dari penjajahaan fisik dan nonfisik. Kini, pada 2015, berada di titik 0. Seperti apa wajah negeri ini 70 tahun ke depan? Pada 2085? Sehebat apa, secanggih apa, semaju apa? Apa cita-cita dan mimpi kita? Yang hendak kita wariskan kepada generasi anak cucu yang akan membawa estafet nahkoda negeri ini?
Pesan itulah yang hendak ditangkap, dikumpulkan, dan dimasukkan ke dalam kapsul, lalu diabadikan di sebuah museum berbentuk bola mata di ujung Merauke sana.
Kelak, ketika 70 tahun dari sekarang, tepatnya 17 Agustus 2085, saat Indonesia memperingati HUT Kemerdekaan ke-140 tahun, kapsul yang disimpan di monument public di Merauke itu akan dibuka. Apakah gambaran mimpi kita sekarang, sama dengan yang terjadi di zaman nanti? Apakah jahitan cita-cita kita saat ini jauh dari kenyataan di masa depan? Itu semua akan menjadi catatan perjalanan sejarah yang amat bermakna buat negeri ini.
Ekspedisi Kapsul Waktu ini adalah upaya untuk merangkai mozaik harapan, lukisan imajinasi, mimpi besar, desain cita-cita tentang Indonesia dari semua komponen bangsa. "Imajinasi (mimpi) adalah berawal dari akhir, mulai dari keinginan, bukan dari kebiasaan," kata Arief.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




