Gubernur Minta Pengusaha Sajikan Kopi Asal Jawa Barat
Sabtu, 21 November 2015 | 08:10 WIB
Bandung- Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meminta pengusaha hotel, restoran, kafé, dan warung di wilayahnya menyajikan kopi asal Jawa Barat dalam bisnisnya. Upaya ini dipercaya bisa meningkatkan pengetahuan masyarakat soal cita rasa kopi yang dikenal dengan sebutan Java Preanger Coffee pada abad ke-18. "Rasanya unggul," kata Heryawan saat membuka Festival Kopi Jawa Barat di Trans Studio Mall, Bandung, Jumat (20/11).
Heryawan mengungkapkan, penggunaan kopi dengan indikasi geografis Java Preanger Coffee merupakan salah satu usaha tidak langsung untuk melindungi produk petani. "Ini bagian dari nasionalisme, ya tidak apa pakai dari luar Jawa juga, masih sama-sama Indonesia," imbuh Heryawan.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat sengaja menggelar Festival Kopi Jawa Barat untuk mempromosikan kepada masyarakat cita rasa kopi yang ditanam pada daerah pegunungan. Setidaknya ada 11 daerah penghasil kopi dalam pameran yang digelar sejak tanggal 20-22 November ini. "Kopi asal Jawa Barat ini sudah menang di berbagai festival luar negeri," terang Heryawan.
Ketua Panitia Festival Kopi Jawa Barat, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Ferry Sofwan Arief mengatakan, sejarah kopi di Indonesia memiliki perjalanan panjang di Jawa Barat, khususnya wilayah Priangan.
"Pertama kali ditanam pada tahun 1696 di wilayah Priangan. VOC mulai ekspor ke Belanda dan masuk Eropa pada tahun 1711. Mereka mengenalnya sebagai Java Coffee Preanger, maka sering disebut meminum a cup of Java," kata Ferry.
Perjalanan sejarah itu menjadi salah satu bagian edukasi kepada masyarakat dalam mengenali kopi di Jawa Barat. Ferry mengungkapkan, kopi asal Jawa Barat itu kalah pamor dengan kopi dari daerah lain karena sering dibeli dan dijual dengan indikasi geografis daerah lain. Upaya pendaftaran indikasi geografis Java Coffee Preanger ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual di Kementerian Hukum dan HAM menjadi upaya perlindungan.
Kepala Dinas Perkebunan Jawa Barat Arief Santosa mengatakan, indikasi geografis kopi atau hasil bumi menjadi penting terkait kekhasan produksi dari suatu daerah. "Jadi kalau ada rasa kopi seperti Java Preanger Coffee dan dibilang kopinya dari tempat lain, kita bisa bilang itu dari Jawa Barat. Karena untuk menyatakan indikasi geografis itu sudah diumumkan dulu selama tiga bulan di website internasional," kata Arief.
Daerah asal Java Preanger Coffee itu beragam dari 11 gunung di utara dan selatan Kota Bandung seperti Gunung Manglayang, Tangkubanparahu, serta Cikuray.
Menurut Arief, Dirjen HKI sudah menerbitkan Indikasi Geografis Java Preanger Cofee sejak 2013 lalu. Saat ini prosesnya masih berlangsung. "Kemarin baru selesai di re-assessment, dicek lagi. Belum ada pengumuman, tapi kemungkinan lolos," kata dia. Pendaftaran IG itu dilakukan oleh Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis yang anggotanya petani dan praktisi kopi.
Upaya pendaftaran indikasi geografis itu menjadi penting. Apalagi, sambung Ferry, potensi industri berbahan dasar kopi di Jawa Barat cukup besar. "Hanya selama ini kopi kita lebih banyak dibeli oleh pengusaha dari luar daerah dan di-branding dengan produk asal daerahnya. Masyarakat dan pasar kurang tahu produksi kopi asal Jawa Barat yang sebenarnya seperti apa," kata Ferry.
Besarnya peluang ekspor itu, sambung Ferry, terlihat dari data Badan Pusat Statistik sejak tahun 2012 hingga bulan September tahun 2015. Berdasarkan data itu, nilai ekspor produk olahan kopi mencapai US$ 7,09 juta dengan volume 150 ton. Sementara ekspor roasted dan green bean kopi pada kurun waktu yang sama volumenya mencapai 187,7 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 1,3 juta.
Menurut Ferry, produksi kopi itu masih terlalu rendah dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat di provinsi yang populasinya mencapai sedikitnya 46 juta jiwa. "Jika setengahnya saja meminum kopi, peluang buat petani dan industri berbahan dasar kopi akan semakin besar," ujar Ferry sembari menambahkan 75 persen produksi kopi itu lari ke pasar luar negeri.
Luas perkebunan kopi rakyat terus tumbuh. Tahun ini tercatat, luas tanam kebun kopi menembus 32.000 hektare dengan produksi 22.000 ton.
Menimbang tren gaya hidup masyarakat masa kini, Ferry optimistis kopi asal Jawa Barat bisa menjadi tuan rumah di daerahnya. Meski demikian, pasar ekspor kopi juga harus tetap digarap.
Guna menjawab tantangan tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat menggelar West Java Coffee Festival mulai tanggal 20-22 November 2015 di Trans Studio Mall, Bandung.
"Gelaran ini menghadirkan berbagai acara seperti workshop, talkshow, dan berbagai lomba yang intinya mengenalkan produksi kopi asal Jawa Barat. Sampai saat ini sudah ada 43 peserta yang mengirimkan kopi untuk diikutsertakan dalam Golden Cup Competition, kompetisi untuk mencari kualitas kopi terbaik asal Jawa Barat," imbuh Ferry.
Masyarakat yang hadir juga bisa menikmati seluruh kopi tersebut secara cuma-cuma dalam gelaran acara ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




