Indonesia Ramaikan Karnaval di Basel

Selasa, 28 Februari 2012 | 05:58 WIB
AD
B
Penulis: Antara/ Yudo Dahono | Editor: B1
Suasana di Karnaval Basel (The Basler Fasnacht).
Suasana di Karnaval Basel (The Basler Fasnacht). (http://www.traveldestinationguide.net)
Wisata Indonesia, yang mengajak wisatawan untuk berkunjung ke tujuan wisata di Indonesia seperti Raja Ampat, Borobudur, Komodo, Lombok dan Bali.

Indonesia ikut meramaikan karnaval terbesar yang diadakan di kota Basel, Swiss Die Dreei Schnenschte Dagg (tiga hari yang mengagumkan), diawali dengan matinya lampu di jalan kota Basel pada pukul empat subuh.

"Waktu belum lagi menunjukkan pukul 04.00 pagi namun semua lampu lampu di jalan Kota Basel maupun lampu dirumah-rumah penduduk dimatikan dimana kegelapan mencapai puncaknya yang disebut Morgestraich," ujar staf Pensosbud KBRI Bern, Budiman Wiriakusumah.

Budiman mengatakan pada saat Morgestraich itu, Karnaval terbesar di Swiss di Kota Basel, yang berbatasan dengan wilayah Prancis dan Jerman, dimulainya.
   
Karnaval untuk tahun 2012 dimulai Senin tanggal 27 Februari berlangsung selama 72 jam dan akan berakhir Kamis, 1 Maret pada pukul 04.00 pagi atau dinamakan Endstraich
  
Menurut Budiman, edisi kali ini Indonesia ikut meramaikan Karnaval di kota Basel. Di tram no 1 dan 14 yang merupakan tram promosi Wisata Indonesia, mengantar ribuan turis yang datang, dari stasiun kereta api (Basel Hauptbahnhof) ke pusat kota, tempat berlangsungnya karnaval.

Di tram no 1 dan 14 merupakan tram promosi Wisata Indonesia, yang mengajak wisatawan untuk berkunjung ke tujuan wisata di Indonesia seperti Raja Ampat, Borobudur, Komodo, Lombok dan Bali.
   
The Basler Fasnacht atau Karnaval Basel yang berpusat ditengah kota terutama di kuta tua, manampilkan beragam kostum mulai dari tokoh-tokoh legenda Swiss, pakaian dari daerah/kanton swiss lainnya sampai kepada pakaian konvensional lainnya.

Karnaval ini juga sebagai sebagai ajang mencela politisi-politisi di kanton Basel maupun di pemerintahan Federal (Swiss).
   
Menurut Budiman, ciri khas lainnya adalah pemisahan secara jelas antara penonton dan peserta karnaval, sehingga penonton tidak berbaur dengan peserta. Bahkan di karnaval ini diantara penonton juga terjadi saling melempar konfeti (serbukan kertas).

Bisa dikatakan bahwa di karnaval Basel inilah asal dari terjadinya saling lempar-melempar konfeti, yang kemudian diikuti oleh karnaval di kota-kota besar lainnya di dunia.

Sedangkan pawai untuk anak-anak dan Keluarga dilakukan pada hari Selasa (28/2), dilakukan di tengah kota dan siapupun boleh ikut serta dengan mendaftar terlebih dahulu, biasanya mereka ikut berpartisipasi tidak secara grup namun perorangan.

Sementara itu karnaval ini juga dimanfaatkan sebagai tempat untuk mencicipi makanan khas swiss, mulai dari fondue (keju yang dilelehkan dan dimakan dengan roti), Raclette, dan tentunya sosis-sosis yang dijual oleh petani-petani dari Kanton Basel.

Tidak seperti karnaval di Jerman, sebagian besar penonton karnaval di Basel ini mencat mukanya dengan make-up yang lucu-lucu.

Basel merupakan selain kota Industri Swiss juga terkenal dengan budaya, membuat banyak turis yang berkunjung kesana dan moment ini kita manfaatkan untuk melakukan promosi wisata di tengah ramainya turis yang berkunjung.

Selain itu pada bulan Maret juga akan dilaksanakan Basel World, pameran Avant Premiere dari perhiasan dan jam-jam mewah dari seluruh dunia, promosi Indonesia di tram line 1 & 14 pun masih ikut meramaikan kesibukan kota Basel untuk mengajak wisatawan yang datang ke Basel untuk juga berkunjung ke Indonesia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon