Reksa Dana Pilihan 2016

Jumat, 22 Januari 2016 | 14:50 WIB
PA
B
Penulis: Putu Anggreni | Editor: B1
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida didampingi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, mengunjungi stand saat pembukaan kegiatan Investor Summit and Capital Market Expo (ISCME) 2015 di Jakarta, 9 November 2015.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida didampingi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, mengunjungi stand saat pembukaan kegiatan Investor Summit and Capital Market Expo (ISCME) 2015 di Jakarta, 9 November 2015. (BeritaSatu Photo/David Gita Roza)

Jakarta - Meski sepanjang tahun 2015 performa kinerja reksa dana tidak terlalu baik, total dana kelolaan reksa dana justru mencatat angka tertinggi di penghujung tahun 2015. Per akhir Desember 2015 NAB total reksa dana mencapai Rp 272 triliun, naik 12,59% dibanding akhir 2014 Rp 241,580 triliun. NAB reksa dana sempat mengalami penurunan di bulan Agustus-September 2015 dan kemudian naik kembali hingga penutup tahun.

Schroder Investment Management Indonesia masih menduduki peringkat pertama manajer investasi dengan dana kelolaan terbesar, yakni Rp 48,26 triliun per November 2015. Berikutnya, Mandiri Manajemen Investasi dan BNP Paribas Investment Partners masing-masing Rp 21,978 triliun, dan Rp 21,712 triliun per November 2015.

Bagaimana reksa dana di tahun 2016? "Kami masih melihat reksa dana saham dan reksa dana terproteksi menjadi reksa dana favorit tahun 2016," ujar Adrian Panggabean, dirut Sucorinvest Asset Management. Ia memperkirakan return reksa dana saham tahun ini sekitar 9%.

Sementara Muhammad Hanif, dirut Mandiri Manajemen Investasi (MMI) memperkirakan return reksa dana saham seiring kenaikan IHSG yang menurut hasil riset lembaganya di kisaran 12-17%. Reksa dana lainnya, diperkirakan MMI akan menghasilkan return sebesar 8,6% untuk pendapatan tetap, terproteksi 8,85%, dan reksa dana pasar uang 7%.

Head of Investment Aberdeen Asset Management Bharat Joshi menyebutkan, reksa dana yang layak dipilih tahun 2016 tak banyak berbeda dibanding tahun lalu. "Reksa dana saham memang menurun tahun 2015, tapi peluang ke depan akan naik kembali. Di pasar obligasi juga tak akan banyak berubah, sehingga perkiraan return reksa dana pendapatan tetap tahun ini juga tak akan jauh berbeda dengan tahun lalu," ujarnya. Bharat memperkirakan, kondisi ekonomi sudah stabil. Sehingga secara keseluruhan ia mengatakan akan ada pemulihan kinerja reksa dana ke depan.

Seperti manajer-manajer investasi lainnya, Dirut Danareksa Investment Management (DIM) Prihatmo Hari meyakini reksa dana saham memiliki peluang rebound pada 2016. "Dalam jangka panjang, reksa dana saham masih tetap memberikan peluang investasi yang menjanjikan. Namun, fluktuasi saham harian atau dalam jangka pendek tetap merupakan salah risiko berinvestasi saham," tandasnya mengingatkan. Ia pun sepakat, reksa dana saham akan tetap menjadi favorit tahun ini.

Bagi Agus Yanuar, dirut Samuel Asset Management, perlambatan ekonomi, pelemahan rupiah, dan koreksi IHSG sudah tercermin pada harga-harga saham yang terkoreksi saat ini. "Sekarang, saham-saham perusahaan yang sebenarnya berkinerja baik, memiliki harga yang menarik, sehingga potensi kenaikan harganya tinggi," ujar Agus. Sehingga ia menyimpulkan, produk reksa dana saham berpotensi memberi imbal hasil yang tinggi tahun ini.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon