3 Faktor yang Bikin IHSG Fluktuatif Menurut BEI

Minggu, 24 Januari 2016 | 18:55 WIB
JM
B
Penulis: Jauhari Mahardhika | Editor: B1
Dirut BEI Tito Sulistio
Dirut BEI Tito Sulistio (Istimewa)

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan, fluktuasi yang terjadi di pasar modal Indonesia dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, inflasi, dan penurunan daya beli masyarakat.

Meski demikian, BEI menilai kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih jauh lebih baik dibandingkan 1998 dan 2008. Jika pada akhir 1998, sebanyak 70 emiten mengalami kerugian, maka sampai dengan kuartal III-2015 sebanyak 70 emiten berkapitalisasi besar memperoleh laba.

"Selain itu, tingkat imbal hasil pasar modal Indonesia dalam 10 tahun terakhir merupakan salah satu yang tertinggi dibandingkan bursa-bursa lain di seluruh dunia," kata Direktur Utama BEI Tito Sulistio di sela acara seleksi calon tenaga profesional pasar modal (Capital Market Professional-Development Program atau CMP-DP) di Gedung BEI, Jakarta, Sabtu (23/1).

Tito menegaskan, infrastruktur di pasar modal Indonesia sudah sangat siap ketika menghadapi krisis. Menurut dia, ada beberapa alasan mengapa pasar modal Indonesia masih bergerak fluktuatif, walaupun telah memiliki saham-saham yang berkualitas baik dengan dukungan infrastruktur yang optimal.

Pertama, stabilitas kurs rupiah terhadap mata uang negara lain, khususnya dolar AS yang sangat dipengaruhi oleh kondisi global. Tito percaya pemerintah dan Bank Indonesia (BI) telah dan akan terus berupaya maksimal untuk membuat nilai tukar rupiah kembali stabil.

"Kedua adalah rentang (spread) antara laju inflasi dengan suku bunga acuan perbankan yang terlalu lebar, sedangkan di negara-negara lain justru menerapkan negative spread dengan menekan tingkat suku bunga perbankan demi memacu pertumbuhan ekonominya," jelas Tito.

Adapun alasan ketiga adalah banyak investor yang menunggu kebijakan pemerintah untuk meningkatkan daya beli masyarakat Indonesia. Jika daya beli masyarakat Indonesia membaik, secara tidak langsung tentunya akan berimbas positif terhadap kenaikan laba emiten di BEI, sehingga akan meredam fluktuasi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG).

Di sisi lain, BEI sendiri terus berupaya meredam fluktuasi di pasar modal Indonesia dengan cara meningkatkan jumlah investor domestik. Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa aliran dana investor asing di pasar modal Indonesia masih berpengaruh terhadap pergerakan IHSG.

Sebagai contoh, lanjut Tito, manajer investasi asing terbesar di dunia seperti BlackRock Investment Management LLC, yang memiliki dana sekitar Rp 77 triliun, akan mudah untuk masuk dan mengoleksi saham-saham di BEI. Apalagi di Amerika Serikat, masih banyak manajer investasi yang memiliki dana besar yang dapat masuk ataupun keluar dari pasar modal Indonesia dalam periode singkat.

"Jadi pasar modal Indonesia terlalu kecil. Makanya kami terus berupaya memperbesar pasar dengan meningkatkan jumlah emiten ataupun jumlah investor," jelas Tito.

Sekedar informasi, BlackRock sendiri memang telah memiliki investasi di pasar modal Indonesia. Salah satunya berwujud exchange traded fund (ETF) yang diberi nama Indonesia Investable Market Index Fund (EIDO) atau yang lebih dikenal dengan iShares MSCI Indonesia ETF.

Berdasarkan prospektus ringkasnya, Nilai Aktiva Bersih (NAB) EIDO per 31 Desember 2015 adalah senilai US$ 268,26 juta atau setara dengan Rp 3,71 triliun.

Aset dasar ETF EIDO ini adalah saham-saham berkapitalisasi besar yang tercatat di BEI seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon