Tentara Suriah Rebut Kota Kuno Palmyra dari NI

Minggu, 27 Maret 2016 | 23:22 WIB
LC
B
Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
Pasukan pro-rezim Suriah merayakan keberhasilan merebut kembali benteng kuno selama serangan melawan para pejuang Negara Islam (NI) di Palmyra, Sabtu, 26 Maret 2016.
Pasukan pro-rezim Suriah merayakan keberhasilan merebut kembali benteng kuno selama serangan melawan para pejuang Negara Islam (NI) di Palmyra, Sabtu, 26 Maret 2016. (AFP Photo/Maher Al Mounes)

Palmyra – Tentara Suriah merebut kota kuno Palmyra dari kelompok Negara Islam (NI), Minggu (27/3), dan berjanji membangun kemenangan dengan kemajuan melawan kubu-kubu jihad lainnya.

Presiden Suriah Bashar al-Assad pun memuji kemenangan itu sebagai prestasi penting dan bukti baru dari efisiensi tentara Suriah serta sekutu-sekutunya dalam memerangi terorisme.

Tentara menyampaikan pasukan pro-pemerintah telah membersihkan para pejuang NI dari situs warisan dunia UNESCO, di mana tindakan itu memicu protes global dengan penghancuran sistematis terhada monumen-monumen yang berharga.

"Palmyra akan menjadi landasan utama untuk memperluas operasi terhadap Daesh atau NI di berbagai daerah, terutama di Deir Ezzor dan Raqqa," kata militer dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah.

Di bagian utara kota Raqqa yang merupakan benteng utama NI dan provinsi Deir Ezzor timur yang kaya akan minyak merupakan benteng utama lainnya.

Dengan didukung oleh rentetan serangan udara Rusia, pasukan Suriah dan sekutu milisi melancarkan serangan besar untuk kembali merebut kota gurun pasir, pada bulan ini.

Palmyra merupakan hadiah simbolis dan strategis bagi pasukan Assad, karena memberi kontrol terhadap gurun di sekitarnya yang luas hingga ke perbatasan Irak.

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sedikitnya ada 400 pejuang NI yang tewas dalam pertempuran memperebutkan kota. Sedangkan di pihak pemerintah, korban yang tewas terdiri dari 188 tetara dan milisi.

"Itu adalah kerugian terberat yang dipertahankan NI dalam satu pertempuran sejak terbentuk pada 2013," ujar Rami Abdel Rahman, direktur Observatorium yang berbasis di Inggris, kepada AFP.

Dia mengatakan ada dua mobil yang dipenuhi bahan-bahan peledak telah meledak di sore hari, satu terjadi di Palmyra barat sedangkan sisanya di bagian timur laut kota.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon