Pasca Kejadian Kopi Beracun, Kafe Olivier Justru Makin Laku

Rabu, 27 Juli 2016 | 14:27 WIB
BM
YD
Penulis: Bayu Marhaenjati | Editor: YUD
Terdakwa kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, Jessica Kumala Wongso (kiri), menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jakarta, 20 Juli 2016.
Terdakwa kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin, Jessica Kumala Wongso (kiri), menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jakarta, 20 Juli 2016. (Antara/Rivan Awal Lingga)

Jakarta - Manajer Kafe Olivier Devi mengungkapkan, pasca-kejadian kasus kopi beracun yang menewaskan Wayan Mirna Salihin, Es Kopi Vietnam semakin banyak yang memesan.

"Awalnya berkurang. Setelah 2 bulan costumer balik lagi. Kopi awalnya tidak terlalu laku, 10 sampai 15 gelas per hari. Tapi, semenjak kejadian ini semakin banyak yang pesan," ujar Devi saat memberikan kesaksian dalam sidang lanjutan kasus kopi beracun, di PN Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (27/7).

Dikatakan Devi, kopi dan air yang digunakan Kafe Olivier untuk membuat Es Kopi Vietnam higienis.

"Setelah kejadian juga datang BPOM memeriksa. Tapi tidak ada masalah. Saya cek semuanya, mulai dari expired date sampai kualitas, semuanya tidak ada masalah," ungkapnya.

Menurutnya, kopi yang dipakai adalah produk dalam negeri dan dibeli dari pemasok masih dalam bentuk biji kopi.

"Kopi produk dalam negeri dari Banyuwangi. Penyajiannya saja berbeda seperti vietnam kopi. Kopi kita ambil dari suplier. Mereka suplai juga ke restoran-restoran lain. Beli kopinya paketan satu kilo. Sudah digoreng (panggang/sangrai), masih berbentuk biji," katanya.

Ia menambahkan, kalau untuk akhir pekan Kafe Olivier stok kopi cukup banyak 6 sampai 8 kilogram.

"Tapi kalau Senin-Kamis kami tidak stok banyak. Stok kopi disimpan di bar ada storage kayak lemari, itu disimpan di sana. Yang disimpan di sana ada biji kopi, snack bar, susu, dan lainnya. Tidak ada barang kimia, kecuali sabun cuci piring," jelasnya.

Ia menegaskan, sebagai manajer dirinya selalu mengontrol stok barang-barang yang dibutuhkan.

"Saya selalu kontrol. Tapi, kalau seperti kopi tidak kami coba. Kalau memang tidak bagus, itu terlihat. Masih berlapis minyak. Kalau tidak fresh dia kusam," ucapnya.

Majelis hakim kemudian bertanya terkait Standard Operational Procedure (SOP) bagaimana cara pembuatan Es Kopi Vietnam.

Devi pun menjelaskan panjang lebar. Ada dua SOP, pertama general dan kedua untuk pegawai training. "Orang baru tidak boleh membuat minuman dulu," katanya.

"Bukan itu maksud saya. Bagaimana SOP pembuatan kopi," tanya Hakim Kisworo.

Devi kembali menjelaskan, pembuatan Es Kopi Vietnam bisa fleksibel. Bisa es duluan atau susu duluan.

"Kalau itu bukan SOP. Standarnya bagaimana. Kalau fleksibel bukan SOP namanya. Anda jangan melebar, kalau begini berarti tidak jelas SOP Olivier," timpal Hakim Binsar.

Merespon hal itu, Devi menyatakan, memang seperti itu standarnya. Fleksibel bisa es dulu, baru kopi atau sebaliknya.

"Sudah-sudah. Anda jangan ngeyel. Anak buah Anda sebelumnya menyatakan ada SOP. Jadi yang benar mana? Kalau fleksibel bukan SOP," kata Kisworo.

Selanjutnya, majelis hakim menanyakan pertanyaan yang lain terkait apakah Devi melihat warna kopi dan lainnya. Sidang kemudian ditunda sementara untuk istirahat makan siang dan salat.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon