Kapolri Pertama Soekanto Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Kamis, 11 Agustus 2016 | 14:08 WIB
FA
FB
Penulis: Farouk Arnaz | Editor: FMB
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar.
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar. (Antara/Hafidz Mubarak A)

Jakarta-- Buku tentang Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, Kepala Kepolisian Negara RI pertama, diluncurkan di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Jakarta Selatan Kamis (11/8).

Soekanto merupakan bapak kepolisian karena dialah yang merupakan peletak dasar kepolisian nasional profesional dan modern. Dia menjabat mulai 29 September 1945 hingga 14 Desember 1959.

"Beliau mulai tugas sebagai kepala kepolisian dari nol. Tidak ada kantor maupun staf. Beliau yang dikokohkan sebagai kepala polisi oleh Presiden Soekarno mulai 1 Juli 1946 sehingga akhirnya tanggal itu dijadikan hari Bhayangkara," kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar Kamis (11/8).

Buku ini ditulis oleh mantan Kapolri Jenderal (pur) Awaloeddin Djamin dan pengajar Kajian Ilmu Kepolisian pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia Ambar Wulan. Bertindak sebagai editor adalah Komjen (pur) Alwi Luthan dan Irjen Soepardi.

"Sebagai penghargaan jasa-jasa R.S. Soekanto sekiranya tidak berlebihan kalau kita mengusulkan agar beliau dianugerahi sebagai pahlawan nasional," lanjut Boy. Sejauh ini dari polisi baru Komjen (pur) M. Jasin yang dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Ambar Wulan mengatakan jika R.S. Soekanto adalah bapak bangsa. Dia juga menyebut jika secara historis, Soekanto bisa membuktikan sebagai kepala kepolisian negara yang melaksanakan seluruh tugasnya dengan baik.

"Dulu tahun 1945 itu jaman perang dan apakah tahun itu tidak ada krimininalitas? Makanya saya meneliti dan menemukan dalam situasi perang itu kriminalitas tinggi dan Pak Kanto berhasil menangani semua. Saat beliau meninggal beliau tidak punya apa-apa dan masih meminjam asrama Polri Ragunan," kata Ambar.

Terkait polisi yang sekarang--yang belum mempunyai ketokohan seperti RS Soekanto-- menurut Ambar seharusnya polisi yang sekarang bisa menggunakan value di masa lalu itu untuk menjadi polisi yang baik.

Pakar komunikasi UI, Effendy Ghazali, yang hadir dalam acara itu, mengatakan, selain nama Hoegeng, diharapkan dengan buku ini dapat memunculkan nama Soekanto. Soekanto menjadi teladan karena tidak mengejar kelebihan materi.

"Peluncuran buku ini semoga dapat menumbuhkan polisi dengan semangat yang baik seperti Pak Hoegeng yang didambakan sebagai polisi yang baik," kata Effendi.

Hendardi dari Setara Institute juga mengapresiasi peluncuran buku ini sebagai bentuk penghargaan atas ketokohan Soekanto. Dia menyebut buku ini adalah bukti atas ketokohan itu.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon