PDIP: Ada Pesan Nasionalisme di Film 3 Srikandi

Rabu, 17 Agustus 2016 | 06:23 WIB
AP
AO
Penulis: Asni Ovier Dengen Paluin | Editor: AO
Ketua DPP PDIP Andreas Pareira, sutradara film
Ketua DPP PDIP Andreas Pareira, sutradara film "3 Srikandi" Iman Brotoseno, dan aktor utama Reza Rahardian (pemeran Donald Pandiangan) berdiskusi soal film tentang tim panahan putri Indonesia pada Olimpiade Seoul di Jakarta, Selasa (16.8/2016). (Istimewa/Istimewa/Asni Ovier)

Jakarta - Puluhan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menonton bareng film 3 Srikandi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (16/8). PDIP menilai, film tersebut sarat dengan nilai-nilai nasionalisme.

Hadir dalam acara tersebut Ketua DPP PDIP Andreas Pareira, sutradara Iman Brotoseno, dan aktor utama Reza Rahardian (pemeran Donald Pandiangan, pelatih tim panahan putri Indonesia pada Olimpiade Seoul 1998).

Menurut Andreas, film yang bercerita tentang perjuangan tiga pemanah wanita Indonesia dalam meraih medali pertama di Olimpiade Seoul 1988 ini sangat memberi inspirasi. "Ini memperlihatkan perjuangan, militansi, komitmen dan kerja keras untuk mencapai mimpi," katanya.

Andreas mengatakan, dirinya tahu betul prestasi tiga pemanah wanita Indonesia pada 1988 meraih medali perak karena kala itu dia sedang duduk di bangku SMA. "Kami ramai-ramai menonton dari televisi," kata anggota Komisi I DPR itu.

Andreas mengakui, Nurfitriyana Saiman (diperankan Bunga Citra Lestari), Kusuma Wardhani (Tara Basro), dan Lilies Handayani (Chelsea Islan) memang memberi semangat bagi anak-anak remaja zaman itu. "Dengan komitmen tinggi, kerja keras, dan gotong royong, kita bisa memberikan kontribusi bagi negeri ini," kata Andreas.

Sementara itu, Iman mengatakan, maksud pengangkatan tema olahraga panah dalam film ini yakni ingin memberi pengetahuan kepada publik bahwa medali pertama yang berhasil diraih Indonesia sejak 36 tahun ikut Olimpiade adalah dari cabang panahan.

"Jadi, bukan bulutangkis. Ini ingin meluruskan sejarah juga," kata Iman. Dikatakan, 70% cerita film perdananya tersebut adalah kisah nyata. Sementara, sisanya adalah fiksi yang dibuat demi memenuhi selera pasar saat ini.

"Kalau tidak komersial, jatuhnya dokumenter," kata Iman. Sebagai pengagum Presiden pertama Soekarno, Iman mengatakan, dirinya tertantang untuk terus membuat film bertemakan nasionalisme.

"Saya akan tetap di genre ini," ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon