Inggris Masih Pertimbangkan Strategi Brexit
Kamis, 8 September 2016 | 00:11 WIB
London – Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May, pada Rabu (7/9) mengingatkan, pemerintah tidak akan buru-buru menerangkan bagaimana akan meninggalkan Uni Eropa (UE), menyusul hasil referendum 23 Juni 2016 yang menunjukkan Inggris akan keluar dari keanggotaan UE atau Brexit.
Pemerintahan Konservatif yang dipimpin May baru menyatakan, negosiasi keluar dari UE tidak akan digulirkan hingga tahun depan.
"Saya tahu banyak orang menginginkan proses yang cepat dan ingin memahami seperti apa Inggris pasca-Brexit. Kami masih terus menyiapkan tugas besar tersebut. Kami tidak akan mengambil keputusan sampai kami siap. Kami tidak akan mengumumkannya lebih awal dan tidak akan terus-terusan mengeluarkan komentar," tutur May di hadapan parlemen.
Ketua Partai Buruh Jeremy Corbyn mengatakan saat ini ada ketidakpastian sangat besar dan kurangnya perencanaan. Ia juga mengingatkan maraknya kejahatan karena kebencian terhadap para imigran UE.
"Parlemen dan masyarakat tidak bisa dikesampingkan dari perubahan konstitusional besar seperti ini," ujar Corbyn.
Angus Robertson, anggota parlemen dari Scottish National Party menantang May untuk memberikan jawaban tegas apakah Inggris akan tetap menjadi anggota penuh pasar tunggal Eropa.
"Kami tidak berhak untuk mengasumsikan negosiasi. Tapi kami akan menjamin untuk menangkap semua peluang pertumbuhan dan kemakmuran bagi seluruh Inggris Raya, termasuk pertumbuhan dan kemakmuran di Skotlandia," jawab May.
May sudah mendapatkan sinyal positif dari India, Meksiko, Korea Selatan, Singapura, dan terutama Australia bahwa Inggris bisa tetap menjalin kesepakatan perdagangan baru di luar UE.
Tapi, dalam pidato di London, Selasa (6/9), Menteri Perdagangan Australia Steven Ciobo mengingatkan bahwa perundingan menuju perjanjian bilateral masih jauh. Australia, tambah dia, akan memprioritaskan perjanjian dengan UE.
"Kami sedang mengerjakan perjanjian perdagangan bebas Australia-UE, yang akan membuka jalan bagi perjanjian-perjanjian ke depannya. Kesepakatan terbaik adalah yang dilakukan secara cepat dan perundingan dengan UE sudah lebih maju," tutur Ciobo.
Jerman pada Rabu mengingatkan Inggris untuk tidak memburu negosiasi perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara non-UE sebelum benar-benar meninggalkan blok 28 negara tersebut.
"Sebagai juru bicara pemerintah Jerman, saya tidak akan mengatur dengan siapa PM Inggris harus menggelar pembicaraan. Tapi sudah jelas bahwa negara anggota UE tidak bisa menggelar pembicaraan bilateral mengenai perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara non-UE sepanjang masih anggota UE," tutur Steffen Seibert, kepada para wartawan di Berlin.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




