Kisah Para Pemburu Sperma di Zimbabwe
Jumat, 23 Maret 2012 | 13:04 WIB
Mereka merangsang laki-laki di bawah todongan senjata, bahkan ular hidup, lalu memperkosanya berkali-kali sebelum dicampakan di pinggir jalan
Sekelompok gangster perempuan di Zimbabwe menebar ancaman bagi para laki-laki: mereka menculik laki-laki, biasanya yang sedang dalam perjalanan, lalu diperkosa untuk kemudian mengambil sperma mereka.
Susan Dhliwayo, perempuan setempat, mengatakan baru-baru ini dia pernah mengendarai mobilnya dan berhenti ketika melihat sekelompok laki-laki yang sedang mencari tumpangan. Tetapi dia heran karena para lelaki itu menolak naik ke dalam mobilnya karena takut akan diperkosa.
"Kini lelaki takut pada perempuan. Mereka mengatakan 'kami tidak bisa pergi bersama Anda karena kami tidak mempercayai Anda'," kata Dhliwayo yang baru berusia 19 tahun.
Sejumlah media lokal sebelumnya memberitakan sejumlah korban pencari tumpangan yang diperkosa dibawah todongan senjata api atau pisau - bahkan dalam satu kasus para perempuan itu menggunakan ular hidup untuk mengancam korbannya.
Para pelaku lalu merangsang lelaki-lelaki itu dan memaksa mereka berhubungan seksual berkali-kali sebelum dicampakan di pinggir jalan.
Kisah para pemburu sperma itu pertama kali menjadi perhatian media pada 2009 dan polisi setempat telah menangkap tiga perempuan bersama barang bukti sebuah kantung plastik berisi 31 kondom bekas pakai pada Oktober tahun lalu.
Akan tetapi serangan terus berlanjut meski ketiga perempuan yang diduga telah memperkosa 17 laki-laki itu telah ditangkap.
"Kami tidak mempunyai angka pasti tentang jumlah kasus yang terjadi,' kata juru bicara polisi nasional Zimbabwe, Wayne Bvudzijena.
"Insiden-insiden itu biasanya terjadi ketika korban sedang mencari tumpangan dan menumpang kendaraan pribadi. Kami mendorong orang-orang untuk menggunakan transportasi publik," sambung Bvudzijena.
Hingga kini tujuan pengumpulan sperma itu belum jelas, tetapi banyak yang menduga digunakan untuk "juju" atau ritual tradisional untuk mendatangkan keberuntungan, kekayaan, keberhasilan dalam bisnis, dan agar tindakan kriminal tidak terendus.
"Itu benar-benar sebuah masalah yang membuat pusing," kata Watch Ruparanganda, sosiolog dari University of Zimbabwe. "Sebuah misteri besar. Jelas kita tahu itu digunakan untuk berbagai ritual," imbuhnya.
Ruparanganda mengaku terkejut ketika tujuh tahun lalu sedang melakukan penelitian untuk thesis doktoralnya menemukan bahwa sperma telah menjadi komoditas yang bisa diperdagangkan. Sejumlah anak-anak jalanan mengatakan bahwa para pengusaha sering mengajak mereka ke hotel membelikan mereka baju baru dan mencecoki mereka dengan minuman keras.
Mereka lalu disuruh bercinta pekerja seks komersial tetapi setelah itu harus menyerahkan kondom bekas mereka kepada si pengusaha itu.
"Itu menunjukan bahwa ada penah besar di satu tempat, seseorang yang mengendalikan semuanya, yang berada di bawah permukaan dan mengendalikan perempuan-perempuan itu," duga Ruparanganda.
Asosiasi Nasional Dukun Tradisional Zimbabwe tidak tinggal diam dan mengkritik praktek tersebut.
"Kami percaya ini adalah bentuk sihir. Jadi kami sangat menentang gagasan itu,," kata George Kandiyero, juru bicara asosiasi itu.
"Itu menakutkan. Praktek itu benar-benar membuat orang terkejut karena biasanya yang terjadi sebaliknya, normalnya kita tahu laki-laki yang memperkosa perempuan, bukan sebaliknya," keluh Kandiyero.
Sementara kelompok pembela hak-hak perempuan Zimbabwe memprotes pemberitaan yang memojokan perempuan dan mengatakan kekerasan terhadap perempuan di negeri itu seharusnya juga ditanggapi dengan porsi yang sama.
Adapun ketiga perempuan yang ditangkap dalam kasus itu menarik perhatian masyarakat dan memantik kemarahan publik. Setiap kali persidangan masyarakat membanjiri ruang sidang dan salah satu pengacara mereka mengatakan telah menerima ancama pembunuhan.
Tidak ada hukum di Zimbabwe yang mengatur hukuman bagi perempuan yang memperkosa laki-laki, jadi tiga perempuan yang ditangkap bersama satu laki-laki itu hanya didakwa dengan tuduhan perbuatan tidak senonoh.
Tetapi pengacara dari dua perempuan dan laki-laki yang ditahan justru mengatakan polisi telah salah tangkap. Ia mengajukan protes kepada pengadilan karena setelah lima bulan ditangkap mereka belum juga menjalani tes DNA dan menuduh pemerintah hanya menjadikan mereka tontonan di televisi nasional sebagai "perempuan pemerkosa".
"Kami belum mendapat apa-apa. Kami percaya mereka tidak ingin membawa kami ke pengadilan karena mereka menangkap orang yang salah," tegas Dumisani Mthombeni sang pengacara.
Sekelompok gangster perempuan di Zimbabwe menebar ancaman bagi para laki-laki: mereka menculik laki-laki, biasanya yang sedang dalam perjalanan, lalu diperkosa untuk kemudian mengambil sperma mereka.
Susan Dhliwayo, perempuan setempat, mengatakan baru-baru ini dia pernah mengendarai mobilnya dan berhenti ketika melihat sekelompok laki-laki yang sedang mencari tumpangan. Tetapi dia heran karena para lelaki itu menolak naik ke dalam mobilnya karena takut akan diperkosa.
"Kini lelaki takut pada perempuan. Mereka mengatakan 'kami tidak bisa pergi bersama Anda karena kami tidak mempercayai Anda'," kata Dhliwayo yang baru berusia 19 tahun.
Sejumlah media lokal sebelumnya memberitakan sejumlah korban pencari tumpangan yang diperkosa dibawah todongan senjata api atau pisau - bahkan dalam satu kasus para perempuan itu menggunakan ular hidup untuk mengancam korbannya.
Para pelaku lalu merangsang lelaki-lelaki itu dan memaksa mereka berhubungan seksual berkali-kali sebelum dicampakan di pinggir jalan.
Kisah para pemburu sperma itu pertama kali menjadi perhatian media pada 2009 dan polisi setempat telah menangkap tiga perempuan bersama barang bukti sebuah kantung plastik berisi 31 kondom bekas pakai pada Oktober tahun lalu.
Akan tetapi serangan terus berlanjut meski ketiga perempuan yang diduga telah memperkosa 17 laki-laki itu telah ditangkap.
"Kami tidak mempunyai angka pasti tentang jumlah kasus yang terjadi,' kata juru bicara polisi nasional Zimbabwe, Wayne Bvudzijena.
"Insiden-insiden itu biasanya terjadi ketika korban sedang mencari tumpangan dan menumpang kendaraan pribadi. Kami mendorong orang-orang untuk menggunakan transportasi publik," sambung Bvudzijena.
Hingga kini tujuan pengumpulan sperma itu belum jelas, tetapi banyak yang menduga digunakan untuk "juju" atau ritual tradisional untuk mendatangkan keberuntungan, kekayaan, keberhasilan dalam bisnis, dan agar tindakan kriminal tidak terendus.
"Itu benar-benar sebuah masalah yang membuat pusing," kata Watch Ruparanganda, sosiolog dari University of Zimbabwe. "Sebuah misteri besar. Jelas kita tahu itu digunakan untuk berbagai ritual," imbuhnya.
Ruparanganda mengaku terkejut ketika tujuh tahun lalu sedang melakukan penelitian untuk thesis doktoralnya menemukan bahwa sperma telah menjadi komoditas yang bisa diperdagangkan. Sejumlah anak-anak jalanan mengatakan bahwa para pengusaha sering mengajak mereka ke hotel membelikan mereka baju baru dan mencecoki mereka dengan minuman keras.
Mereka lalu disuruh bercinta pekerja seks komersial tetapi setelah itu harus menyerahkan kondom bekas mereka kepada si pengusaha itu.
"Itu menunjukan bahwa ada penah besar di satu tempat, seseorang yang mengendalikan semuanya, yang berada di bawah permukaan dan mengendalikan perempuan-perempuan itu," duga Ruparanganda.
Asosiasi Nasional Dukun Tradisional Zimbabwe tidak tinggal diam dan mengkritik praktek tersebut.
"Kami percaya ini adalah bentuk sihir. Jadi kami sangat menentang gagasan itu,," kata George Kandiyero, juru bicara asosiasi itu.
"Itu menakutkan. Praktek itu benar-benar membuat orang terkejut karena biasanya yang terjadi sebaliknya, normalnya kita tahu laki-laki yang memperkosa perempuan, bukan sebaliknya," keluh Kandiyero.
Sementara kelompok pembela hak-hak perempuan Zimbabwe memprotes pemberitaan yang memojokan perempuan dan mengatakan kekerasan terhadap perempuan di negeri itu seharusnya juga ditanggapi dengan porsi yang sama.
Adapun ketiga perempuan yang ditangkap dalam kasus itu menarik perhatian masyarakat dan memantik kemarahan publik. Setiap kali persidangan masyarakat membanjiri ruang sidang dan salah satu pengacara mereka mengatakan telah menerima ancama pembunuhan.
Tidak ada hukum di Zimbabwe yang mengatur hukuman bagi perempuan yang memperkosa laki-laki, jadi tiga perempuan yang ditangkap bersama satu laki-laki itu hanya didakwa dengan tuduhan perbuatan tidak senonoh.
Tetapi pengacara dari dua perempuan dan laki-laki yang ditahan justru mengatakan polisi telah salah tangkap. Ia mengajukan protes kepada pengadilan karena setelah lima bulan ditangkap mereka belum juga menjalani tes DNA dan menuduh pemerintah hanya menjadikan mereka tontonan di televisi nasional sebagai "perempuan pemerkosa".
"Kami belum mendapat apa-apa. Kami percaya mereka tidak ingin membawa kami ke pengadilan karena mereka menangkap orang yang salah," tegas Dumisani Mthombeni sang pengacara.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




