Perputaran Uang di PON Jabar Diprediksi Lebih dari Rp 100 Miliar
Sabtu, 17 September 2016 | 13:11 WIB
Bandung - Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX percaya, pesta olahraga empat tahunan yang diikuti sedikitnya 9.000 atlet dari 34 provinsi bakal berdampak positif pada perekonomian Jawa Barat selaku tuan rumah. Diperkirakan, perputaran uang di ajang PON yang digelar 17-29 September ini, mencapai lebih dari Rp 100 miliar.
"Saya prediksi perputaran uang terkait bisnis perhotelan bisa mencapai Rp 87 miliar, dan di jasa kuliner mencapai Rp 52 miliar. Jadi lebih dari dampak ekonomi dari PON ini lebih dari Rp 100 miliar," ungkap Heryawan di Bandung, Jumat (16/9).
Perputaran uang yang cukup besar itu, belum termasuk dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dari sisi ekonomi kreatif yang melibatkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sejumlah wilayah di Jabar. Hal ini mengingat penyelenggaraan PON yang mempertandingkan 44 cabang olahraga, berlangsung di 15 kabupaten dan kota.
Heryawan memperkirakan, bakal ada sedikitnya 25.000 tamu resmi PON XIX. Untuk penyelenggaraan kegiatan ini, Pemprov Jabar mengalokasikan dana Rp 2,1 triliun. Dana itu termasuk Rp 90 miliar untuk kebutuhan persiapan, pembukaan dan penutupan PON, serta Pekan Paralimpik Nasional.
Dongkrak Ekonomi
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Barat, Rosmaya Hadi mengungkapkan, pada sektor konstruksi, pemerintah memberikan bantuan keuangan kepada pemerintah daerah baik kabupaten maupun kota, dalam rangka revitalisasi tempat serta perbaikan infrastruktur dan jalan penunjang pelaksanaan PON sebesar Rp 373,58 miliar.
"Penerima bantuan terbesar adalah Kabupaten Bandung mencapai Rp 129,03 miliar, Kabupaten Pangandaran sebesar Rp 39,71 miliar, dan Kabupaten Bogor sebesar Rp 31,96 miliar," ujar Rosmaya.
Pada sektor perdagangan, lanjutnya, diperkirakan bakal ada peningkatan pada sektor kuliner dan cenderamata selama acara berlangsung.
"Pada sektor penyediaan akomodasi dan makanan-minuman, jumlah hotel yang akan digunakan baik untuk atlet maupun panitia mencapai 203 hotel. Di mana 98 hotel untuk atlet dan 105 hotel untuk panitia pelaksana. Sebanyak 50% hotel berlokasi di Kota Bandung dan sisanya tersebar di 17 kabupaten dan kota lainnya," jelas Rosmaya.
Dengan asumsi pengeluaran rata-rata per orang mencapai Rp 600.000 per malam, Rosmaya memperkirakan, dari sedikitnya 14.000 atlet dan official selama satu pekan, alokasi dana untuk akomodasi atlet dan official bisa mencapai sekitar Rp 50 miliar.
Berdasarkan asumsi itu, Rosmaya optimistis kinerja ekonomi di Jawa Barat tahun 2016 bisa meningkat. "Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap tumbuh kuat pada kisaran 5,9-6,1%," imbuhnya.
Dia menambahkan, ajang nasional empat tahunan itu akan memberikan dampak positif terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi baik dari konsumsi maupun investasi. Salah satu bentuk nyata perputaran uang itu adalah pembuatan suvenir untuk PON XIX.
Ketua Bidang Promosi, Dana, dan Usaha PB PON XIX, Hening Widiatmoko mengatakan, pihaknya mengalokasikan dana Rp 2,1 miliar. Proses produksinya, sambung Hening, melibatkan pelaku UMKM yang membuat 12 jenis suvenir PON, seperti topi, boneka, dan kaos.
Seluruh suvenir itu disebarkan ke tempat-tempat penyelenggaraan pertandingan. "Ada juga pameran-pameran di pusat kota, tempat pertandingan, serta hotel tempat kontingen menginap," kata Hening.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menilai, secara umum event skala nasional yang digelar di daerah, seperti PON, memang dapat menggerakkan perekonomian daerah. Namun, dalam perencanaan dan pelaksanaan perlu dilakukan secara matang.
Dalam PON misalnya, daerah yang menjadi penyelenggara atau tuan rumah seharusnya tidak hanya fokus mengejar juara umum, tetapi juga harus menargetkan berapa output perekonomian yang bisa dihasilkan.
Dia menambahkan, di negara-negara lain, terutama negara maju yang industri olahraganya sudah berkembang, event olahraga menjadi rebutan untuk menjadi tuan rumah karena melihat dampak ekonominya yang besar. Oleh karena itu, agar event olahraga dapat memberi nilai tambah ekonomi maka daerah perlu menggandeng stakeholders perekonomian daerah setempat, terutama pelaku UMKM dan pariwisata.
"Jadi, indikator keberhasilan tidak cukup hanya lancarnya penyelenggaraan ataupun menjadi juara umum. Sejauh mana keterlibatan pelaku ekonomi daerah, peningkatan transaksi ekonomi, peningkatan pendapatan pelaku ekonomi, juga perlu menjadi tolok ukur keberhasilan," ungkapnya.
Menurutnya, kelemahan penyelenggaraan selama ini hanya fokus pada target juara umum dan terselesaikannya fasilitas sarana-prasarana penunjang PON. Pemda belum banyak yang fokus menggarap manfaat ekonominya secara optimal.
Ekonom Indef lainnya, Enny Sri Hartati pernah mengatakan, ajang olahraga yang dibalut wisata merupakan kegiatan yang pasti akan memberikan dampak positif ke perekonomian. Untuk bisa memaksimalkannya, Kementerian Pemuda dan Olahraga harus bisa mensinergikannya dengan Kementerian Pariwisata, sehingga ajang itu bisa berfungsi sebagai promosi destinasi pariwisata.
"Dampaknya tidak hanya ke event, tapi daerah tempat penyelenggaraan jadi terkenal karena ternyata mempunyai destinasi wisata yang sangat menarik. Apalagi jika disinergikan lagi ke Kementerian UKM dan disambungkan dengan ekonomi kreatif, maka akan memberikan multiplier effect yang luas," ungkapnya.
Ada Keberlanjutan
Secara terpisah, Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kempora, Gatot Dewa Broto memastikan seluruh peralatan pertandingan dan venue di PON XIX/2016 Jawa Barat yang digunakan pada 17-29 September, bisa digunakan untuk ajang internasional, seperti Asian Games 2018 mendatang.
"Konkretnya supaya ada kelanjutan dari PON, Asian Games, hingga SEA Games. Jadi jangan sampai penyelenggaraan PON ini tidak menyambung ke event lain," ujar Gatot.
Berkat PON, Jabar kini memiliki fasilitas olahraga bertaraf internasional, termasuk Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Apalagi lima stadion yang ada di Jabar, seperti Pakansari, Patriot, Galuh, Singaperbangsa, dan GBLA, sangat layak untuk penyelenggaraan pertandingan sepakbola level internasional.
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan, fasilitas yang baru dibangun maupun direnovasi sangat bermanfaat. Segudang agenda olahraga pun diakui pria yang akrab disapa Aher ini tengah dicanangkan, agar fasilitas olahraga tersebut tetap terpelihara.
"Jadi Insya Allah, venue yang ada tidak akan terbengkalai. Apalagi fasilitasnya sudah banyak yang internasional, seperti futsal yang menjadi satu-satunya di Indonesia berstandar internasional. Berkat PON kita punya standar," ucap Aher dari siaran tertulisnya.
Aher meyakini sarana dan prasarana yang dibangun untuk perhelatan PON XIX dan Pekan Paralimpiade Nasional (Perpanas) XV 2016 di Jawa Barat akan menjadi investasi yang besar untuk dunia olahraga Indonesia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




