Haus Ruang Berinteraksi, Ratusan Warga Jakarta Kunjungi RPTRA Setiap Hari

Selasa, 13 Juni 2017 | 15:12 WIB
LT
FB
Penulis: Lenny Tristia Tambun | Editor: FMB
Puluhan anak-anak mengikuti kegiatan kompetisi menari dan futsal di RPTRA Sungai Bambu, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, 30 April 2017.
Puluhan anak-anak mengikuti kegiatan kompetisi menari dan futsal di RPTRA Sungai Bambu, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, 30 April 2017. (BeritaSatu Photo/Carlos Roy Fajarta)

Jakarta - Sepertinya, warga Jakarta sangat membutuhkan sebuah ruang untuk melepaskan lelah sejenak, bermain bersama anak-anak mereka atau berinteraksi dengan warga lainnya dengan bebas. Keberadaan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang kini sudah mencapai 186 taman tersebar di enam wilayah DKI Jakarta menjawab kerinduan tersebut.

Terbukti, berdasarkan pengamatan Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) DKI, rata-rata kunjungan ke RPTRA minimal 283 kunjungan setiap harinya. Kunjungan warga yang paling banyak ada di RPTA Kalijodo yang mencapai 2.500 per hari.

Kepala BPMPKB DKI, Dien Emmawati mengatakan pengunjung RPTRA cukup banyak setiap harinya. Itu artinya, keberadaan RPTRA sangat dibutuhkan warga yang selama ini menginginkan adanya taman luas yang bisa menjadi tempat bermain anak-anak dan juga melakukan kegiatan seperti olah raga, jalan-jalan dan kegiatan lainnya.

"Pengunjungnya cukup tinggi. Terlihat dari rata-rata kunjungan per hari itu paling rendah 283 warga. Nah kunjungan yang paling tinggi itu ada di RPTRA Kalijodo yang mencapai 2.500 orang," kata Dien di Balai Kota DKI.

Melihat hal itu, maka tak heran bila Pemprov DKI semakin menggencarkan pembangunan RPTRA di Kota Jakarta. Meski yang diresmikan baru 186 RPTRA, namun saat ini yang sudah terbangun mencapai 198 taman. Dengan target, tahun ini akan dibangun lagi 100 RPTRA. Sehingga total RPTRA di Jakarta pada akhir tahun 2017 bisa mencapai 298 taman.

"RPTRA dibangun dari APBD dan CSR perusahaan. Kita ingin menyediakan ruang publik sebanyak-banyaknya bagi warga Jakarta untuk menyalurkan hobi atau kegiatannya," ujar mantan Kepala Dinas Kesehatan ini.

Banyaknya warga yang mengunjungi RPTRA juga diakui oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI, Tinia Budiati. Salah satu tempat di RPTRA yang paling banyak dikunjungi adalah perpustakaan. Setiap RPTRA yang dibangun pasti dilengkapi dengan ruang perpustakaan.

"Wah, setiap hari, jumlah anak-anak yang mengunjungi perpustakaan di RPTRA cukup banyak. Jumlahnya sampai puluhan setiap hari. Belum lagi orangtuanya yang menunggu anak-anaknya membaca," kata Tinia.

Menurutnya, dengan banyaknya anak-anak mengunjungi perpustakaan di RPTRA, selain bermain di taman, menunjukkan, minat baca anak-anak di DKI Jakarta cukup tinggi. Hanya saja mereka tidak punya ruang atau akses untuk mendapatkan buku bacaan yang baik dan sehat.

"Saya senang sekali, apalagi kalau melihat ramainya perpustakaan di RPTRA, senang sekali," ujarnya.

Diungkapkannya, jumlah buku di setiap perpustakaan di RPTRA tergantung dari luas ruangan perpustakaan. Namun jumlahnya antara 600 buku untuk perpustakaan yang kecil hingga 2.000 buku untuk perpustakaan yang besar.

"Kalau untuk rotasi buku, juga tergantung permintaan masing-masing pengelola RPTRA. Ada yang satu bulan sudah minta ganti beberapa judul. Ada yang tiga bulan, ada yang setahun baru minta ganti," terangnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI, Djarot Saiful Hidayat menerangkan keberadaan RPTRA, tidak hanya dilihat dari sisi taman bermain, perpustakaan dan ruang beraktifitas saja. Tetapi dapat dilihat sebagai kawasan yang dinamis untuk mendorong warga terlibat dalam pembangunan kota dan negaranya.

"Warga Jakarta membutuhkan ruang terbuka, dimana bisa berinteraksi dan berbagi satu sama lain. Kalau ingin bangsa, maka pembangunan bangsa dimulai dari dini. Individu membentuk satu keluarga, lalu keluarga bangun komunitas, dan komunitas bangun dirinya jadi satu bangsa," kata Djarot.

RPTRA harus dijadikan salah satu sarana membumikan nilai-nilai Pancasila kepada sumbernya, yaitu ke anak-anak yang dapat menularkannya ke keluarganya.

"Jadi RPTRA itu oase. Sebagai tempat membumikan nilai dan karakter bangsa yang berideologikan Pancasila. RPTRA itu bukan tempat eksklusif, semua orang bisa berinteraksi. Tidak boleh mengkotak-kotakkan, dan pengelompokan. Jadi bukan hanya sekedar mewujudkan kota ramah anak, lebih dari itu, tempat pembumian nilai Pancasila," tegasnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon