Pascateror di Mapolres Poso, Polisi Tingkatkan Kewaspadaan
Selasa, 11 Juli 2017 | 13:19 WIB
Palu- Polres Poso Sulawesi Tengah (Sulteng) terus meningkatkan kewaspadaan di Mako Polres hingga polsek di wilayah Kabupaten Poso guna mengantisipasi serangan teroris pascateror di depan Mapolres Poso dan di depan SMA Kristen Poso, pada Minggu (9/7) subuh.
Kapolres Poso, AKBP Bogiek Sugiyarto mengatakan, teror di depan Mapolres Poso pada Minggu (9/7) berupa selebaran bertuliskan "Kami akan datang menumpah darah kalian wahai toghud" merupakan ancaman keamanan kepolisian oleh kelompok tertentu yang ingin mengacaukan situasi. "Ini merupakan teror karena ada selebaran yang mengganggu keamanan dan ketertiban kita," kata Bogiek, Senin (10/7).
Meski demikian, hingga saat ini situasi di wilayah Poso tetap kondusif. Masyarakat tidak terpengaruh oleh aksi teror dan tetap berkivitas seperti biasa.
Bogiek mengatakan, Polda Sulteng sedang melakukan penyelidikan untuk mengetahui pelaku serta motif teror tersebut.
Diketahui, sebuah benda mencurigakan pertama kali ditemukan di depan Polres Poso, Jalan Pulau Sumatra, Gebangrejo, Poso Kota Pada Minggu (9/7) sekitar pukul 03.00 Wita oleh seorang anggota Polres Poso Brigadir Syawaluddina yang sedang piket malam.
Dari hasil penguraian oleh tim Gegana Brimob Polda Sulteng, ditemukan tiga kabel berwarna putih, biru dan ungu, batu bata dan selembar kertas ditulis tangan berisi pesan bernada ancaman.
Sementara teror lainnya terjadi di depan gedung SMA Kristen Poso berupa bungkusan kecil berwarna putih dililit lakban hitam disertai kabel berwarna putih, ditemukan oleh seorang pekerja proyek bernama Aco, sekitar pukul 11.30 Wita. Semua barang bukti dari dua lokasi penemuan, saat ini sudah berada di Mapolda Sulteng.
Sementara Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Rudy Sufahriadi, usai upacara HUT Bhayangkara di Palu, Senin (10/7) mengatakan, saat ini aparat kepolisian terus melakukan penyuluhan dan pendampingan kepada berbagai kelompok masyarakat di seluruh wilayah Sulteng yang terindikasi pengaruh paham radikalisme.
Terkait kelompok bersenjata pimpinan Santoso atau Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Kapolda Rudy mengatakan, pasukan TNI dan Polri yang tergabung dalam Operasi Tinombala, terus melakukan pengejaran di hutan pegunungan Poso untuk menangkap sisa-sisa DPO yang diperkirakan masih tujuh orang lagi. "Operasi Tinombala diperpanjang tiga bulan ke depan, terhitung mulai 3 Juli hingga Oktober 2017. Dengan perpanjangan waktu ini, kita berupaya semaksimal mungkin untuk menangkap sisa kelompok Santoso," ujar Kapolda Rudy Sufahriadi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




