Karnaval Kemerdekaan Hadirkan Kemeriahan di Bandung

Sabtu, 26 Agustus 2017 | 18:53 WIB
AB
AB
Penulis: Anselmus Bata | Editor: AB
Joko Widodo dan Ahmad Heryawan.
Joko Widodo dan Ahmad Heryawan. (B1/Anselmus Bata)

Bandung - Suasana meriah terpancar dari "Karnaval Kemerdekaan Pesona Parahyangan" yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (26/8). Perhelatan yang diikuti sekitar 2.000 perserta dari sejumlah kabupaten/kota serta provinsi yang disaksikan Presiden Joko Widodo, Ibu Iriana, dan sejumlah pejabat berlangsung selama 3,5 jam sejak pukul 14.00 WIB. Ribuan warga Bandung dan pelancong terlihat memadati jalan yang dilewati peserta karnaval dari Gedung Sate hingga Taman Vanda sejauh 2,2 kilometer.

Mobil karnaval rancangan perupa Tisna Sanjaya yang ditumpangi Jokowi, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, beserta istri mereka berada pada barisan paling depan, diikuti mobil hias lainnya, serta peserta yang menggunakan sepeda dan berjalan kaki. Di sepanjang jalan, terdengar warga memanggil nama Pak Jokowi. Warga pun mengambil gambar presiden di atas mobil karnaval dengan handphone dan kamera. Di sepanjang jalan juga terdengar warga spontan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Bunyi-bunyian yang keluar dari berbagai perangkat menambah meriah suasana.

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Mahmudin melalui keterangan tertulis menyebutkan Jokowi yang mengenakan ikat kepala Makuta Sinatria saat memimpin karnaval menunjukkan dirinya sebagai pemimpin, seseorang yang sedang menjalankan tugas mulia, serta seseorang yang sedang mencari peningkatan kebaikan diri.

Makuta adalah mahkota, benda penutup kepala yang dipakai di atas kepala, sementara sinatria adalah kesatria, suatu karakter, sifat, sikap yang berani, adil, tegas dan jujur.

Dengan memakai iket Sunda Makuta Sinatria menunjukkan pemakai iket ini memberikan wejangan bahwa dirinya telah melaksanakan tilu eusi diri (tiga sikap diri). Pertama, mencerminkan sikap berani dan adil dalam membuat pilihan keputusan demi menegakkan keadilan dan kebenaran sejati.

Kedua, panceg yang berketetapan hati /tegas, yakni selalu menggunakan suara hati nurani dalam mengemban tugas lahiriah maupun bathiniah.

Ketiga, silih wangi atau saling mewangikan/saling memberikan kebaikan, melindungi mengayomi dengan sikap welas asih (kasih sayang) untuk mencapai kebaikan dan kesejahteraan bersama, serta menjalankan kebaikan untuk sesama, keluarga, masyarakat, negara juga pribadi sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon