Pidana Atau Tidak, Polisi Tunggu Penyelidikan KNKT

Jumat, 11 Mei 2012 | 14:51 WIB
FH
WP
Penulis: Farouk Arnaz/Feriawan Hidayat | Editor: WBP
Tim SAR gabungan dari TNI,  Polri dengan membawa anjing pelacak  melanjutkan evakuasi menuju lokasi jatuhnya  pesawat Sukhoi Superjet 100 untuk di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. FOTO: EPA/ADI WEDA
Tim SAR gabungan dari TNI, Polri dengan membawa anjing pelacak melanjutkan evakuasi menuju lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 untuk di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. FOTO: EPA/ADI WEDA
Polri pernah menggunakan hasil penyelidikan KNKT dalam menjerat pilot Garuda Indonesia

Mabes Polri bersikap pasif dalam proses investigasi penyebab jatuhnya  pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Rabu, (9/5).

Markas korps  baju coklat itu akan menunggu hasil penyelidikan Komite Keselamatan  Nasional Transportasi (KNKT) lebih dulu.
 
"Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan penanganan kasus ditangani sepenuhnya KNKT. Baru kita lihat (hasilnya) apakah ada pidananya apakah pelanggaran UU Penerbangan. Jadi ini ranahnya di KNKT," kata Kadiv Humas  Polri, Irjen Saud Usman Nasution, di Mabes Polri, Jumat, (11/5).
 
Kendati hasil investigasi KNKT sebenarnya tak bisa digunakan untuk  penyelidikan pro justisia, tapi Polri pernah menggunakan hasil  penyelidikan KNKT dalam menjerat pilot Garuda Indonesia.

Sebagai contoh, Marwoto Komar ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kecelakaan Garuda Indonesia di Bandar Udara Adisucipto Yogyakarta, Maret 2007,  meski belakangan Marwoto divonis bebas.
 
"Tim KNKT yang menangani kasus ini. Polri memberi bantuan laboratorium  forensik bila diperlukan. Kita juga masih fokus untuk mengevakuasi dan  mengidentifikasi korban," tambah Saud yang menambahkan jika sampel tes  DNA 10 orang asing yang ikut jadi korban belum didapatkan.

Adapun 10 orang warga negara asing itu terdiri dari delapan orang Rusia, satu orang Perancis, dan satu orang Amerika.

Polri juga telah menggandeng sejumlah pihak untuk melakukan tes DNA  andai kondisi korban sudah tidak bisa dikenali secara biasa--apalagi  korban diperkirakan sudah meninggal dua hari yang lalu.
 
"Kita  dibantu Fakultas Kedokteran UI. Kita bentuk sembilan tim yang  terdiri dari 60 orang ahli forensik dan DNA. Kita juga kerjasama dengan  pihak Rusia dan Laboratorium Eijkman di bawah Kemenristek," kata Saud, yang juga  meminta supaya keluarga korban menunggu di Jakarta saja  dibandingkan datang ke tempat kejadian perkara (TKP) lokasi jatuhnya Sukhoi.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon