Stok Beras Cipinang di Bawah Angka Minimum

Minggu, 4 Februari 2018 | 19:38 WIB
YS
JS
Penulis: Yeremia Sukoyo | Editor: JAS
Ilustrasi.
Ilustrasi. (Antara)

Jakarta - Stok beras di Pasar Beras Induk Cipinang (PBIC), Jakarta Timur pada Minggu (4/2) mengalami kondisi yang kritis. Stok beras minimum PBIC berada di angka 30.000 ton, sedangkan stok saat ini berada di angka 22.000 ton.

Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna memenuhi stok beras di PBIC. Kendati demikian, dia menekankan, pihaknya masih mengendalikan kelangkaan stok ini.

"Kami berupaya menjaga stoknya di atas 25.000. Sedangkan minggu ini kami dapat tambahan dari Bulog sekitar 6.000 ton. Setiap minggu, kami minta terus dengan Bulog," kata Arief.

Angka minimum stok beras di PBIC sebenarnya berada di 35.000 ton pada tahun sebelumnya. Pada 2016 sampai 2017, stok tersebut tercukupi karena bantuan impor sebesar 1,5 juta ton pada 2015.

Impor beras tersebut masuk pada 2015 sebesar 600.000 ton dan 2016 sebanyak 900.000 ton. Kondisi itu membuat stok beras di PBIC stabil hingga 2017.

Arief mengharapkan panen raya yang dinyatakan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman benar terwujud. Hal ini untuk mengisi stok beras yang berada di PBIC sekaligus mencukupi kebutuhan pangan di Ibu Kota.

Meski demikian, Arief menyatakan, panen raya yang masuk pada Februari dan Maret ini tidak bisa langsung mengisi PBIC. Paling lambat, tiga bulan ke depan masuk di PBIC, karena harus melewati proses produksi, pengeringan, dan distribusi di setiap daerah.

"Jangan sampai ada banjir, wereng. Kami tunggu nih, benar-benar itu panen raya. Panen raya itu satu juta hektare panen semua, enggak parsial. Kan istilah panen raya, tapi ada panen yang dirayakan, ini dua hal yg berbeda. Kalau orang mau objektif, panen raya itu maksudnya semua daerah," kata Arief.

Arief menyadari, jika produksi beras tidak mencukupi PBIC, keputusan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita soal impor 500.000 ton merupakan solusi terbaik. Hal itu untuk mengamankan stok beras menunggu hasil panen raya mengisi sentra-sentra beras dan sampai di PBIC.

"Impor ini enggak akan dipakai kalau pemenuhan lokal sudah cukup. Jadi itu akan masuk gudang Bulog. Tidak ada hubungannya panen petani. Itu masuknya ke Bulog, sebagai penguatan stok," ujarnya.

Per 2 Februari, disebutkan stok beras di Bulog berada di angka 690.000 ton . Angka tersebut, menurut Arief, sangat mengkhawatirkan sehingga perlu penyerapan beras secepatnya.

Oleh karena itu, Arief mengharapkan, panen raya nasional, khususnya di Jawa Tengah seperti di Demak, Kudus, Porwodadi, Grobokan dan wilayah Jawa Timur Bojonegoro menghasilkan panen yang maksimal.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon