Industri Minuman Ringan Tahan Kenaikan Harga
Jumat, 18 Mei 2018 | 08:00 WIB
JAKARTA – Industri minuman ringan menahan kenaikan harga jual produk, karena daya beli masyarakat masih tertekan. Padahal, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah.
Ketua Asosiasi Minuman Ringan (Asrim) Triyono Prijosoesilo mengatakan, hingga kuartal I-2018 pertumbuhan minuman ringan atau nonalcohol ready to drink (NARTD) masih stagnan jika dilihat secara volume. Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kenaikan produksi minuman ringan mencapai 4% pada periode itu.
"Memang mulai April ini industry sudah mulai menaikkan produksi untuk antisipasi memasuki Bulan Puasa dan Ramadan. Tetapi, itu masih dalam tataran volume produksi yang didistribusikan ke ritel," kata Triyono kepada Investor Daily di Jakarta, pekan lalu.
Dari sisi permintaan di sisi konsumen akhir, dia memprediksi kenaikan mulai terasa sekitar Mei. Yang membuat industri lebih optimistis adalah tahun ini Puasa tidak berbarengan dengan semester baru sekolah, sehingga beban finansial konsumen tidak seberat tahun lalu.
"Harapan kami tentunya ada kenaikan. Mudah-mudahan bisa lebih baik dibanding tahun lalu," kata Triyono.
Triyono berharap periode Puasa dan Lebaran tahun ini bisa berkontribusi 30-40% dari total penjualan. Pasalnya, periode ini masih menjadi momentum yang paling berpengaruh signifikan terhadap penjualan. Sementara itu, pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak efeknya tidak langsung, seperti momentum Idul Fitri.
"Memang, akan lebih banyak uang beredar di masyarakat selama pilkda. Oleh sebab itu, harapan kami bisa membantu penjualan. Tapi, kami tidak berani menargetkan angka tertentu untuk dampak pilkada," kata Triyono.
Daya beli masyarakat, kata dia, masih menjadi persoalan tahun ini, terutama konsumen di level tertentu. Dia menegaskan, jika daya konsumen tidak naik secara berkelanjutan, akan susah bagi industri minuman ringan untuk bangkit cepat.
Pelemahan rupiah, demikian Triyono, juga menjadi kekhawatiran produsen minuman ringan. Sebab, hal itu bisa berpengaruh terhadap kenaikan harga bahan baku. Apalagi, bahan baku industri ini masih cukup banyak yang diimpor.
Jika pelemahan rupiah terjadi secara berkelanjutan, Triyono tidak menutup kemungkinan harga akan naik. Jal ini dilematis, karena menaikkan harga dalam kondiri daya beli tertekan akan sangat menyulitkan bagi industri minuman.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




