Kesadaran Meningkat, Regenerasi Petani Harus Segera Dilakukan

Minggu, 27 Mei 2018 | 14:37 WIB
H
B
Penulis: Heriyanto | Editor: B1
Sejumlah pembicara dalam diskusi bertema Pertanian dan Pangan di Mata Anak Muda Perkotaan di Jakarta, Kamis (24/5).
Sejumlah pembicara dalam diskusi bertema Pertanian dan Pangan di Mata Anak Muda Perkotaan di Jakarta, Kamis (24/5). (Ist)

Jakarta – Regenerasi petani di Indonesia harus segera dilakukan karena mayoritas populasi petani berusia di atas 45 tahun dan berpendidikan sekolah dasar. Di sisi lain, dunia pertanian sebenarnya menjanjikan masa depan masyarakat Indonesia. Untuk itu, animo generasi muda pada pertanian harus difasilitasi dan ditopang dengan berbagai dukungan.

Demikian salah satu benang merah dalam diskusi yang digelar Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) bersama dengan di Jakarta, pekan lalu. Kegiatan yang didukung Oxfam Indonesia itu juga melibatkan jaringan AgriProFocus Indonesia, Kuncup Padang Ilalang (KAIL), dan workout.id.

Koordinator Nasional KRKP Said Abdullah menjelaskan bahwa animo orang muda perkotaan cukup baik terhadap aktivitas pertanian. Kajian KRKP di kota Bogor (Jawa Barat) menunjukkan kaum muda kota sebesar 89,5 persen dengan responden campuran laki-laki dan perempuan memandang pertanian sangat penting untuk kelanjutan produksi pangan dan menghindari kelaparan.

Namun, lanjutnya, pandangan ini tak didukung kondisi ideal agar anak muda dapat aktif terlibat dalam produksi pangan. Hasil kajian menunjukkan kaum muda kota sebesar 51 persen melihat kebijakan pemerintah saat ini belum memprioritaskan sektor pertanian. Tampak dalam kajian terdapat keinginan kaum muda kota terlibat dalam produksi pangan di pedesaan.

"Animo yang tinggi dari orang muda perkotaan ini harus didukung dan difasilitasi guna mendorong regenerasi petani yang saat ini didominasi orang tua. Perhatian kaum muda kota yang tinggi tentu saja bisa dijadikan modal penting aktifitas pertanian ke depan sehingga upaya kedaulatan pangan dapat terwujud," kata alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Untuk itu, KRKP dan jaringannya mendorong sinergi antara kaum muda kota dan desa menjadi produsen pangan. Semoga ini dapat mendorong peningkatan pendapatan petani.

Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Samsul Widodo, yang hadir dalam diskusi tersebut menegaskan bahwa potensi generasi muda di kota dan desa dalam pengembangan pertanian masih sangat besar. Untuk itu, dia memberi apresiasi atas upaya mendorong sinergi sebagaimana langkah KRKP dan jaringannya tersebut. Hal itu juga tengah dirintis pihaknya dalam mengembangkan potensi pertanian dan pedesaan agar lebih mempunyai akses pasar sehingga berdampak pada kesejahteraan masyarakat desa.

"Kami terus mendorong generasi muda semakin terlibat dalam usaha di pedesaan yang saling menguntungkan. Beberapa sudah kami rintis dengan menghubungkan orang-orang muda pengelola aplikasi dengan beberapa petani dari sejumlah daerah produsen buah-buahan," ujarnya.

Maria Lauranti yang juga Koordinator Program Oxfam di Indonesia menjelaskan bahwa regenerasi petani merupakan hal yang krusial dalam mendorong aktifitas pertanian dan konsumsi pangan yang berkelanjutan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kelompok umur pemuda 15-24 tahun mencapai 42 juta atau setara 16,5 persen dari total penduduk (BPS, 2015). Jumlah penduduk muda ini diperkirakan terus bertambah hingga 2030 dengan 26 persen tinggal di perkotaan dan 23 persen di pedesaan. Jumlah kaum muda tersebut sangat potensial untuk menjadi pendorong produk pangan.

Untuk itu, salah satu upaya yang dilakukan pihaknya dengan menggelar Duta Petani Muda 2018. Ajang yang digelar untuk ketiga kali tersebut dalam rangka mendorong regenerasi petani dengan dukungan dari banyak pihak.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon