Prospek Ekonomi Global
Jumat, 6 Juli 2018 | 17:17 WIB
Pertemuan KTT G-7 di Quebec, Kanada 8-9 Juni 2018 lalu masih berkutat persoalan makro ekonomi, termasuk salah satunya yaitu perang dagang AS-Tiongkok terkait pengenaan tarif baja. Intinya ada tiga fokus pembahasan pada KTT G-7 yaitu upaya menjaga stabilitas mata uang global, dukungan pembiayaan infrastruktur, dan kajian profit perusahaan multinasional. Meski demikian, kajian secara global juga berkembang karena persoalan riil setiap negara pasti berbeda.
Esensi pertemuan G-7 mengindikasikan isu global yang berpengaruh terhadap fluktuasi ekonomi menarik dicermati. Relevan dengan ini pada dasarnya upaya lebih menyinergikan antara kepentingan bilateral-multilateral, terutama mereduksi ancaman prospek ekonomi di tahun 2018 dari fluktuasi era global, termasuk kasus konflik semenanjung Arab dengan pengucilan Qatar dan konflik Korea.
Mengacu target pertumbuhan ekonomi tahun 2018 tampaknya tidak mudah untuk bisa merealisasikannya. Paling tidak, ada beberapa faktor yang perlu dicermati, baik mikro atau makro. Maka pertemuan G-7 diharapkan mampu mengurai fluktuasi ekonomi global yang muncul sejak pertengahan tahun 2013 lalu sehingga orientasi terhadap target perekonomian di tahun 2019 menjadi lebih baik.
Yang menjadi persoalan yaitu komitmen semua anggota G-7 untuk mampu melepaskan diri dari fluktuasi ekonomi yang terjadi. Hal ini menjadi sangat penting dan pengalaman dari gejolak krisis yang dialami sejumlah negara pada dasarnya menunjukkan komitmen untuk segera bebas dari jerat krisis adalah solusi cerdas dibanding mengharap bantuan negara lain, baik melalui jalinan bilateral atau multilateral.
Jaminan
Jika dicermati, persoalan yang dibahas forum G-7 pada intinya terfokus pada dua aspek yaitu politik dan ekonomi. Aspek politik tidak bisa terlepas dari kondisi internal dan eksternal termasuk misalnya bagaimana interaksi regional dan internasional.
Oleh karena itu, kajian tentang aspek politik di berbagai forum dunia, tidak hanya G-7, tapi juga APEC, G-20 dan Asean Regional Forum selalu mengedepankan aspek pembenahan terhadap isu-isu politik. Alasan yang mendasari karena isu-isu politik tidak bisa terlepas dari aspek stabilitas dan karenanya kajian tentang politik menjadi dominan di berbagai forum dunia.
Selain itu, sinergi antara isu politik–ekonomi dan ekonomi–politik tidak akan pernah bisa dipisahkan. Oleh karena itu, persoalan diplomasi multilateral adalah sangat penting karena hal ini tidak hanya terkait dengan dukungan terhadap ekonomi. Tapi juga sosial–politik dalam konteks jangka panjang, termasuk misalnya isu tentang terorisme yang kini semakin marak di berbagai negara.
Pembahasan isu-isu politik pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua yaitu politik di internal negara dan politik dalam jalinan bilateral–multilateral. Di satu sisi, dari interaksi ekonomi global maka kajian politik internal atau domestik tidak bisa lepas dari isu yang terjadi dalam jalinan bilateral–multilateral.
Oleh karena itu, apa yang ada di isu bilateral–multilateral secara tidak langsung berpengaruh terhadap isu yang muncul dan berkembang di kondisi politik internal atau domestik. Meski demikian, isu di politik internal atau domestik suatu negara belum tentu akan memengaruhi isu dalam politik bilateral–multilateral. Di sisi lain, ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap iklim politik, baik dalam negeri ataupun luar negeri.
Aspek kedua yang juga menarik dicermati dari berbagai forum pertemuan dunia adalah aspek ekonomi. Betapa tidak, kajian tentang ekonomi tidak hanya menyangkut peluang untuk melakukan kegiatan perdagangan bilateral–multilateral, tetapi juga menyangkut bagaimana membangun jaringan pasar bersama yang lebih baik. Oleh karena itu, potensi dari aspek ekonomi justru menjadi perhatian utama. Meski demikian, kajian tentang hal ini tentu tidak bisa lepas dari aspek politik karena ada sinergi dari keduanya. Yaitu aspek politik yang tangguh dan dijabarkan dalam stabilitas sospol yang kuat akan memberikan jaminan terhadap pondasi perekonomian internal atau domestik yang kokoh. Begitu juga sebaliknya, ketika fundamental ekonomi kuat maka akan memberikan kepastian terhadap iklim politik dalam negeri.
Mengacu sinergi ekonomi politik dalam pembahasan di berbagai forum dunia, termasuk di forum G-7, maka AS memainkan peran yang sangat penting. Karena sampai saat ini dominasi AS terhadap isu ekonomi politik masih kuat, terutama pasca runtuhnya Uni Soviet. Artinya, peran AS menjadi acuan membawa perubahan tata kelola perekonomian global.
Yang tidak bisa diabaikan bahwa sebenarnya acuan untuk bisa menciptakan tata kelola perekonomian di era global harus mengacu kerja sama, kerelaan dan saling pengertian karena tidak ada satupun negara yang mampu terbebas dari persoalan fluktuasi global. Artinya, ini adalah konsekuensi logis dari globalisasi dan karenanya semua negara harus mengerti dan memahami persoalan yang muncul karena faktor yang menjadi penyebab bisa berbeda di tiap kasus di masing-masing negara. Artinya, pertemuan G-7 diharapkan mampu membangun pondasi ekonomi politik yang lebih baik lagi.
Fakta dari forum G-7 memberikan gambaran bahwa sinergi persoalan ekonomi–politik masih dominan sehingga sengketa dagang AS–Tiongkok terkait pengenaan tarif baja masih menjadi isu sensitif. Paling tidak, imbas dari perang dagang itu sendiri akan merembet juga ke sejumlah negara karena konsekuensi dari globalisasi.
Oleh karena itu tuntutan terhadap transparansi dan regulasi global terkait perdagangan harus mengacu komitmen terhadap daya saing, bukan sekadar tekanan atas dalih politik semata. Jadi, abai terhadap sinergi ekonomi–politik justru akan berakibat fatal bagi globalisasi.
Edy Purwo Saputro, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




