BMKG Yogyakarta Imbau Nelayan Jangan Melaut Sampai Akhir Juli

Jumat, 27 Juli 2018 | 16:19 WIB
FE
IC
Penulis: Fuska Sani Evani | Editor: CAH
Wisatawan mengamati ombak tinggi di kawasan wisata Pantai Glagah, Temon, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), 20 Juli 2018.
Wisatawan mengamati ombak tinggi di kawasan wisata Pantai Glagah, Temon, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), 20 Juli 2018. (Antara/Andreas Fitri Atmoko)

Yogyakarta - Gelombang tinggi yang menghantam wilayah pesisir pantai Selatan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, akan terus terjadi hingga 30 Juli. Karena itu Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta nelayan pantai Selatan untuk tidak melaut dulu hingga gelombang tinggi benar-benar reda.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Yogyakarta Djoko Budiyono mengatakan, kerusakan bangunan, kapal nelayan, perlengkapan nelayan, tambak, fasilitas wisata merupakan dampak dari ketinggian gelombang yang mencapai 7 meter. Menurutnya beberapa hari ke depan atau hingga akhir bulan, kawasan pantai Selatan sangat rawan.

"Nelayan tidak melaut dulu. Bahkan pada Rabu kemarin, gelombang tinggi naik cukup signifikan, di atas 7 meter," kata Djoko Jumat (27/7).

Dijelaskan, terpantau beberapa pusat tekanan udara rendah di bagian Utara. Salah satunya di sekitar China bagian Selatan dan beberapa pusat tekanan tinggi di Selatan, seperti di sekitar Australia bagian Barat. Kondisi tersebut terjadi akibat perbedaan tekanan udara yang signifikan antara Utara dan Selatan. Dampaknya terjadi peningkatan kecepatan angin hingga lebih dari 35 kilometer perjam dan peningkatan tinggi gelombang laut di Pesisir Selatan DIY.

Kawasan wisata Pantai Selatan Bantul juga porak-poranda dihajar gelombang tinggi. Seperti terpantau di Pantai Pandansimo, Pandansimo Baru, Kuwaru, Goa Cemara, Patehan hingga Samas. Selain merusak kawasan wisata, air laut juga masuk ke Sungai Opak dan Winongo kemudian menggenangi lahan pertanian di Tirtohargo Kretek dan Srigading Sanden yang ditanami bawang merah, melon, jagung dan lainnya.

Menurut Koordinator SAR Bantul, Ali Sutanta Jaka Saputra, gelombang laut pasang terjadi Selasa (24/7) malam pukul 19.30 WIB, disusul Rabu (25/7) pagi pukul 04.00 WIB dan pukul 07.30 WIB.

Gelombang setinggi 7 meter juga mengakibatkan sejumlah rumah makan di Pantai Depok Parangtritis kemasukan material pasir.

Di pantai Parangtritis, terjangan gelombang merobohkan pos pantau. "Setelah Subuh gelombang sangat tinggi sampai airnya mendekati perkampungan warga," katanya.

Berbagai fasilitas umum, tempat usaha/warung dan rumah tinggal warga di Pantai Selatan Kulonprogo rusak diterjang gelombang besar. Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut, namun kerugian diperkirakan mencapai Rp 5 miliar.

Gelombang tinggi pada Rabu pagi lebih besar dibandingkan kejadian pekan lalu. Ketinggian mencapai sekitar 8 meter. Hempasan gelombang di bibir pantai masuk ke daratan hingga sejauh 200 meter.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon