Farm To Table 2018 Sajikan Buah dan Sayur Organik Terbaik di Indonesia

Jumat, 26 Oktober 2018 | 07:04 WIB
ES
B
Penulis: Elvira Anna Siahaan | Editor: B1
Direktur PT AMSL Indonesia Alphonzus Widjaja (kiri) dan Yuliva (kanan) selaku Kepala Bidang konsumsi pangan badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, melihat duren hasil panen seorang petani dari Jawa Barat, yang terlibat dalam pameran “Farm ToTable”, di Aeon Mall, sejak 25 Oktober hingga 4 November 2018.
Direktur PT AMSL Indonesia Alphonzus Widjaja (kiri) dan Yuliva (kanan) selaku Kepala Bidang konsumsi pangan badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, melihat duren hasil panen seorang petani dari Jawa Barat, yang terlibat dalam pameran “Farm ToTable”, di Aeon Mall, sejak 25 Oktober hingga 4 November 2018. (elvira anna siahaan)

Serpong - Sukses pada tahun 2017, pameran "Farm To Table" kembali menyapa pengunjung mal di kawasan Serpong. Tidak banyak berbeda dengan tahun lalu, jumlah petani yang terlibat dalam pameran buah dan sayur di 2018 ini sekitar 20 orang saja. Para petani yang berasal dari Bandung dan Bekasi ini membawa hasil panen mereka yang dipastikan 100% organik.

Pameran "Farm To Table" berlangsung sejak Kamis (25/10) hingga 4 November mendatang, di Aeon Mall BSD . Di sini pengunjung mal bisa menemukan ragam buah dan sayuran yang kemungkinan jarang dijual di pasar tradisional atau pasar modern. Sebut saja buah Matoa dari Papua hingga buah Kecapi yang konon susah ditemui di pasar tradisional.

Dikatakan Yuliva selaku Kepala Bidang konsumsi pangan badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, dalam jumpa pers di sela-sela festival berlangsung, Kamis (25/10), buah dan sayuran di Indonesia yang ada di Indonesia jumlahnya mencapai sekitar 300 jenis. Sayangnya, tidak semua buah dan sayur tersebut bisa ditemukan lagi. Sebagian dari jumlah tersebut sudah mulai langka atau bahkan tidak ditemukan lagi.

"Sebenarnya keragaman hayati Indonesia itu masuk urutan nomor tiga terkaya di dunia. Sayangnya petani kita tidak semuanya bisa menanam jenis buah dan sayuran yang jumlahnya ratusan tersebut. Ditambah lagi masyarakat kita pun tidak rutin mengkonsumsi buah dan sayur. Alhasil permintaan sayur dan buah sedikit, jadi petani pun hanya menanam buah dan sayur yang banyak diminta pasar saja," kata Yuliva.

Minimnya permintaan pasar, dikatakan Yuliva menjadi penyebab utama kelangkaan keberadaan buah dan sayur di Indonesia. Belum lagi persentase masyarakat Indonesia yang mengkomsumsi sayur hanya 10% dari jumlah penduduk yang diperkirakan 265 juta jiwa.

Sementara data dari southeast asian food and agriculture science and technology (SEAFAST) Center Institut Pertanian Bogor (IPB), belum lama ini juga melansir data konsumsi sayuran dan buah-buahan masyarakat Indonesia.

Data tersebut menyebut konsumsi masyarakat Indonesia masih rendah, bahkan di bawah standar Organisasi Pangan Dunia (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).Survei mencatat konsumsi buah dan sayuran baru mencapai 180 gram per kapita per hari, padahal standar WHO 400 gram per kapita per hari.

Berkaca dari fakta tersebut, Direktur PT AMSL Indonesia Alphonzus Widjaja, mengatakan pameran "Farm To Table" sangat tepat digelar selama dua tahun belakangan ini. Bahkan rencananya tahun depan area pameran di mal akan diperluas lagi. Harapannya, dengan area yang luas petani yang terlibat semakin banyak, dan pengunjung mal semakin teredukasi.

"Tujuan utama kami menggelar pameran hasil petani Indonesia ini adalah ingin mengedukasi pengunjung tentang ragam buah dan sayur organik. Lewat pameran ini petani bisa bertemu langsung dengan konsumen, dan sebaliknya konsumen bisa mengetahui buah dan sayur yang berkualitas bangus di Indonesia," kata Alphonzuz.

Pameran yang didukung oleh Kementerian Pertanian, masyarakat pertanian organik Indonesia (Maporina), dan himpunan kerukunan tani Indonesia (HKTI), juga menargetkan transaksi penjualan mencapai Rp 350 juta.

Demi mencapai target, tidak hanya menyajikan hasil panen petani berkualitas, di acara ini pengunjung pun mendapat pembelajaran tentang cara menanam sayur sendiri di rumah dengan konsep urban farming seperti micro green dan aquaponic.

Micro green dikembangkan oleh Maporina dengan memanfaatkan satu kotak kontainer kecil yang diisi dengan bibit microgreen yang bebas fungisida. Sedangkan aquaponic adalah sistem teknologi pertanian yang memanfaatkan ikan dan tanaman. 



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon