Kempora Siapkan Digitalisasi Kebijakan Pembangunan Kepemudaan

Minggu, 25 November 2018 | 18:31 WIB
IC
IC
Penulis: Iman Rahman Cahyadi | Editor: CAH
Deputi  Pemberdayaan Pemuda Kempora, Esa Sukmawijaya di sela-sela penutupan Forum Koordinasi Lintas Sektor Pemberdayaan Pemuda yang digelar Sekretariat Deputi Pemberdayaan Pemuda, dalam siara pers yang diterima Minggu, 25 November 2018.
Deputi Pemberdayaan Pemuda Kempora, Esa Sukmawijaya di sela-sela penutupan Forum Koordinasi Lintas Sektor Pemberdayaan Pemuda yang digelar Sekretariat Deputi Pemberdayaan Pemuda, dalam siara pers yang diterima Minggu, 25 November 2018. (istimewa)

Jakarta – Era digital sudah seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengimpun data yang akurat dan menjadi dasar dalam penyusunan program dan kebijakan pemerintah. Atas dasar itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora) mulai melirik dan menyiapkan digitalisasi data yang berbasis pada Indeks Pembangunan Kepemudaan (IPP) sehingga dapat disusun program-program kepemudaan yang tepat dan terukur, baik di tingkat pusat maupun daerah.

"Dengan adanya digitalisasi data, akan memudahkan pemerintah terutama kami di Kemenpora dalam merencanakan program-program yang lebih mengena, sehingga bisa diproyeksikan target untuk menaikkan Indeks Pembangunan Kepemudaan secara lebih terukur," ujar Sekretaris Deputi Pemberdayaan Pemuda Kempora, Esa Sukmawijaya di sela-sela penutupan Forum Koordinasi Lintas Sektor Pemberdayaan Pemuda yang digelar Sekretariat Deputi Pemberdayaan Pemuda, dalam siara pers yang diterima Minggu (25/11).

Kempora sebagai leading sector yang menangani kepemudaan, memang terpacu untuk meningkatkan IPP nasional yang relatif masih rendah, yaitu 50,17 pada 2016 dalam skala 0-100. Tanggung jawab besar untuk melunasi "utang jasa" terhadap kaum muda yang memerdekakan bangsa, sekaligus mengoptimalkan momentum bonus demografi saat ini guna mencetak generasi emas 2045, menjadi visi besar pemerintah yang harus diwujudkan dengan menjadikan IPP sebagai paramaternya.

Data 2017, lanjut Esa, jumlah pemuda mencapai 63,362 juta jiwa atau sekitar 25 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Kemudian pada rentang 2020 sampai 2030, bonus demografi Indonesia mencapai puncaknya dengan perkiraan mencapai 70 persen penduduk berada di usia produktif.

"Kita berharap data digital yang berbasis pada IPP nantinya juga bisa diakses oleh semua stakeholder terkait, termasuk pemerintah daerah. Sehingga ada sinkronisasi kebijakan diantara semua stakeholder, di pusat hingga ke daerah" tambah Esa.

lPP memuat capaian 15 indikator pembangunan kepemudaan yang dituangkan dalam lima domain, yaitu pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, kesempatan dan lapangan kerja, kepemimpinan dan partisipasi, serta gender dan diskriminasi.

Sementara aplikasi yang sedang dirancang oleh Komunitas Digital Innovation bekerjasama dengan Deputi 1 Kemenpora diberi nama Patria.

Fredy Setiawan dan Muhammad Syamsul Arifin dari Komunitas Digital Innovation berkesempatan menyampaikan presentasi terkait aplikasi digital data kepemudaaan tersebut dalam forum koordinasi dimaksud. Kendati aplikasi yang saat ini dirancang berbasis pada IPP, namun ke depan memungkinkan untuk dikembangkan lebih jauh.

"Seperti memetakan potensi pemuda di setiap daerah, bisa juga ditambahkan dengan tempat-tempat nongkrong anak muda atau data-data lainnya," kata Arifin.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon