Tsunami di Selat Sunda Tidak Terprediksi

Senin, 24 Desember 2018 | 20:28 WIB
ZM
ZM
Penulis: Zumrotul Muslimin | Editor: ZTM
Presiden Joko Widodo meninjau lokasi bekas tsunami di Kampung Pasawahan, Carita, Pandeglang, Banten, 24 Desember 2018.
Presiden Joko Widodo meninjau lokasi bekas tsunami di Kampung Pasawahan, Carita, Pandeglang, Banten, 24 Desember 2018. (Antara/Asep Fatulrahman)

Pandeglang - Tsunami yang menghantam kawasan Banten dan Lampung adalah kejadian yang tidak terprediksi. Datangnya gelombang tsunami tidak diketahui warga karena tak ada gempa yang dirasakan sebelumnya.

Tsunami di perairan Selat Sunda tepatnya yang melanda wilayah Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12) malam adalah tsunami yang tidak terprediksi. Datangnya gelombang tsunami tak diketahui oleh warga.

Sebelumnya juga tak ada gempa yang dirasakan. Berbeda dengan kejadian tsunami yang diawali gempa seperti di Aceh (2004) dan Palu-Donggala (Oktober 2018). Tidak adanya peringatan dini, warga tak punya banyak waktu untuk menyelamatkan diri.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan berdasarkan data citra satelit diketahui kepundan Anak Gunung Krakatau kolaps akibat erupsi. Kepundan yang kolaps inilah yang akhirnya memicu longsor bawah laut dan mengakibatkan terjadinya tsunami.

Material longsor Anak Gunung Krakatau yang jatuh ke laut memicu gelombang tinggi. Gelombang ini dapat menjadi semakin tinggi ketika mencapai permukaan yang dangkal. Gelombang tsunami biasanya datang beberapa kali. Salah satu tanda utama akan datangnya gelombang tinggi tsunami adalah menyusutnya permukaan air laut jauh dari kondisi normalnya.

Sementara itu Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan beberapa hal terkait tsunami di Selat Sunda. Sutopo menyebut Indonesia belum memiliki sistem peringatan dini tsunami yang disebabkan longsor bawah laut dan erupsi gunung api.

Saat ini hanya ada sistem peringatan dini yang dibangkitkan gempa. Menurutnya, sistem ini sudah berjalan baik. Kurang dari lima menit setelah gempa, BMKG sudah dapat memberitahukan peringatan kepada publik.

Sutopo juga menyatakan Indonesia harus membangun sistem peringatan dini yang dibangkitkan longsor bawah laut dan erupsi gunung api agar efek dahsyatnya tsunami dan jatuhnya korban jiwa bisa diminimalisir.

Lihat video:



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon