Hoax Surat Suara, Tanda Kubu Prabowo Sadar Akan Kalah

Kamis, 3 Januari 2019 | 16:14 WIB
MS
WP
Penulis: Markus Sihaloho | Editor: WBP
Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-KH Ma'ruf Amin, Aria Bima (kanan).
Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-KH Ma'ruf Amin, Aria Bima (kanan). (Beritasatu Photo/Markus Sihaloho)

Jakarta - Partai politik (Parpol) kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dinilai sedang menyiapkan skenario kalah dalam Pemilu 2019. Hal ini dilakukan dengan membangun kecurigaan publik seakan-akan pelaksanaan pemilu curang. Hal itu terkait hoax yang disebar Wasekjen Partai Demokrat (PD), Andi Arief soal 7 juta suara suara sudah dicoblos.

Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-KH Ma'ruf Amin, Aria Bima menyatakan pihaknya mencatat berbagai upaya parpol kubu Prabowo-Sandi membangun framing seakan Pemilu 2019 curang.

Pertama, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyebut ada 7 juta daftar pemilih tetap (DPT) ganda yang belakangan dikoreksi. Setelah itu, isu kardus berisi e-KTP yang disebar secara tak jelas seakan-akan ada rencana menggandakan suara. Terakhir menyangkut 7 kontainer surat suara yang sudah dicoblos di Tanjung Priok, seperti disampaikan Andi Arief. "Ada grand design, hidden agenda, yang mengarahkan bahwa proses pemilu ini tidak jujur dan adil," kata Aria Bima, di Jakarta, Kamis (3/1/2019).

Padahal sejak awal, pemerintah selalu mendorong Komisi Pemilihan Umum (KPU) berkerja secara transparan dan akuntabel. Sejak pendaftaran hingga penetapan capres-cawapres, acara kampanye damai, hingga tahapan saat ini, semuanya dilakukan dengan baik.

Aria meminta Timses Prabowo-Sandi agar menertibkan orang-orangnya. Jangan mengarahkan pubik bahwa KPU seakan-akan pro salah satu pasangan calon sejak awal. "Semoga tidak terjadi, salah satu kandidat kalah dan mengatakan dia dicurangi di pemilu. Ekses pernyataan seperti itu akan terjadi kegaduhan besar lagi," tukasnya.

Jubir TKN Arya Sinulingga, menambahkan hoax lain yang berusaha mendiskreditkan KPU yakni kotak surat suara berbahan kardus. Padahal bahan kardus sudah digunakan sejak Pemilu 2014 di puluhan pilkada. "Begitupun soal DPT (daftar pemilih tetap). Padahal warga bertambah umurnya. Tiap tahun ya ada perubahan DPT," kata Arya.

Menurutnya, serangkaian hoax itu terjadi karena kubu Prabowo-Sandi sudah sadar akan kalah sebelum Pemilu 2019 dimulai. Karena tahu akan kalah, dicari alasan 'ngeles' yakni soal kecurangan pemilu. "Ini tanda-tanda siap kalah," kata Arya Sinulingga.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon