Sopir Angkot di Bekasi Keluhkan Penurunan Jumlah Penumpang

Jumat, 4 Januari 2019 | 23:02 WIB
MN
FH
Penulis: Mikael Niman | Editor: FER
Kondisi angkot di Terminal Induk Kota Bekasi, yang kini sepi penumpang, Jumat (4/1).
Kondisi angkot di Terminal Induk Kota Bekasi, yang kini sepi penumpang, Jumat (4/1). (Beritasatu Photo/Mikael Niman)

Bekasi - Kalangan sopir angkutan kota (angkot) Kota Bekasi mengeluhkan penurunan jumlah penumpang sejak beberapa tahun belakangan ini. Namun mereka tak mampu berbuat banyak dan pasrah dengan kondisi tersebut. Termasuk memendam harapan menjadi sopir angkutan massal yang mendapat gaji tanpa dipengaruhi besar-kecilnya jumlah penumpang.

"Sebenarnya mau menjadi sopir yang digaji, kayak sopir Transpatriot tapi mentok di ijazah atau persyaratan lain," ujar sopir angkot 15A, Dana (52), Jumat (4/1).

Dia menambahkan, persyaratan usia sudah dapat dipastikan membuat dirinya tidak lolos seleksi. "Pasti yang dicari, umurnya masih muda," tuturnya.

Persyaratan dan kualifikasi lain yang menjadi hambatan para sopir angkot ini, enggan melamar pekerjaan sebagai sopir Transpatriot.

Saat ini, kata dia, setoran rata-rata angkot di Kota Bekasi sekitar Rp 80.000 per hari. Sementara, pendapatan para sopir angkot berkisar Rp 100.000-150.000 per hari.

"Seringnya dapat di bawah Rp 80.000, buat tutup setoran aja masih kurang," ungkapnya.

Beruntung, dia tidak memikirkan setoran karena angkotnya milik pribadi. Angkot 15A melayani rute Terminal Induk Kota Bekasi-Kampung Gabus (Kabupaten Bekasi), sehari-hari ayah yang memiliki tiga anak ini, menunggu penumpang di Terminal Induk Kota Bekasi, Pasar Proyek. Lainnya, bukan pusat-pusat keramaiannya.

"Penumpang makin berkurang pas ada ojek online. Kami hanya menaiki anak-anak sekolahan, dapatnya lumayan," ungkapnya.

Di sepanjang Jalan Agus Salim, Bekasi Timur, terdapat beberapa sekolah yang menjadi lokasi turun naik penumpang angkot.

Sementara itu, sopir angkot 19, Ahmad Fauzi (23), mengaku beruntung masih bisa menutup setoran Rp 80.000 per hari. Bahkan, dia bisa mendapatkan Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per hari.

Angkot 19 melayani rute Terminal Induk Kota Bekasi-Mutiara Gading Timur. Senada dengan Dana, ia pun berharap dapat penghasilan lebih baik lagi. "Kalau jadi sopir Transpatriot, penghasilannya (gaji) lebih besar, mau saja," imbuhnya.

Tak hanya angkot, di Kota Bekasi juga beroperasi bajaj yang merupakan binaan pemerintah daerah. Kehadiran transportasi daring, pemilik motor semakin bertambah, membuat para sopir bajaj mengeluh, minimnya penumpang.

"Seharian cuma bisa dapat Rp 100.000, dipotong buat bayar cicilan bajaj Rp 60.000 per hari," ungkap Nasim (50).

Dia masih menyicil bajaj Rp 1.625.000 per bulan selama empat tahun. Namun kehadiran bus Transpatriot tidak berdampak dengan penghasilan para sopir bajaj ini.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon