193 Warga Banglades Disekap dalam Ruko di Medan

Rabu, 6 Februari 2019 | 21:08 WIB
AS
YD
Penulis: Arnold H Sianturi | Editor: YUD
Ilustrasi Human Trafficking
Ilustrasi Human Trafficking (Suara Pembaruan/Robert Isidorus)

Medan, Beritasatu.com - 193 orang imigran gelap asal Bangladesh berhasil diamankan tim gabungan dari lokasi penyekapan di rumah toko (Ruko) di Jl Pantai Barat, Kecamatan Helvetia Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Tim gabungan yang meliputi pihak Imigrasi, Polrestabes Medan dan Komando Distrik Militer 0201/BS mengamankan imigran yang diduga illegal itu setelah mendapatkan laporan dari masyarakat setempat.

"Setelah dilakukan pemeriksaan atas kelengkapan dokumen warga asing itu ternyata hanya 14 orang yang memiliki paspor. Selama ini, mereka mengaku disekap," ujar Kepala Kantor Imigrasi Kelas 1 Medan, Fery Monang, Rabu (6/2).

Fery mengatakan, seluruh warga asing itu saat ditemukan dalam kondisi himpit - himpitan di dalam ruko tersebut. Seluruh warga asing itu kemudian dievakuasi ke kantor imigrasi untuk menjalani proses pemeriksaan.

Masyarakat yang membuat pengaduan kepada petugas mencurigai adanya penyekapan setelah mendengar suara jeritan dan teriakan dari dalam ruko tersebut. Warga pun berusaha memberikan pertolongan.

"Ada tiga orang penjaga ruko yang tidak bersedia membuka ruko saat keributan sedang berlangsung. Kemungkinan, imigran ini korban dari mafia perdagangan manusia," ujar warga di kawasan Helvetia.

Kepala Lingkungan setempat, Bebi Annisa, mengungkapkan warganya terkejut lantaran teriakan terdengar dari ruko itu. Warga kemudian menggedor pintu dan terkejut melihat ratusan manusia dengan kondisi sumpek, lemas di dalam ruangan.

Saat pintu dibuka, ada tiga penjaga ruko yang tidak bisa menunjukkan dokumen keimigrasian dan izin penyaluran tenga kerja.

Bahkan, satu diantanya berhasil melarikan diri. Salah seorang warga Bangladesh mengatakan telah empat bulan di Indonesia menggunakan jalur laut melalui Batam dan Bali.

Mereka membayar sejumlah uang dalam bentuk ringgit dan rupiah kepada seorang agen dengan diiming-imingi dipekerjakan. Namun, hingga jalan sebulan di perantauan, para imigran itu tidak juga mendapat kejelasan hidup.

Mereka terkatung-katung dan nyaris tidak mendapat jatah makanan dan minuman oleh agen penyalur. Mereka kemudian diangkut dengan menggunakan truk untuk ditampung di rumah toko tersebut dengan berpindah-pindah kota.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon