Pasca Debat II, Swing Voter Akan Lebih Lirik Jokowi

Senin, 18 Februari 2019 | 18:07 WIB
YS
YD
Penulis: Yeremia Sukoyo | Editor: YUD
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) saling memberi salam seusai debat capres 2019 disaksikan moderator di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019.
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) saling memberi salam seusai debat capres 2019 disaksikan moderator di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019. (SP/Joanito De Saojoao/SP/Joanito De Saojoao)

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah berhasil menyelenggarakan debat Pilpres 2019 tahap dua yang diikuti oleh dua kandidat Capres Nomor Urut 01 Joko Widodo dan Capres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto.

Pasca debat kedua, diyakini tetap akan sulit menggoyahkan para loyalis pemilih Jokowi maupun Prabowo. Mengingat, kedua kandidat sudah tampil cukup baik untuk berargumentasi di ranah publik.

"Pemilih koyal 01 akan semakin kuat memilih 01, begitu juga pemilih loyal 02 akan semakin kuat memilih 02 untuk dipilih karena Prabowo tampil lebih orisinil," kata Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo, dalam diskusi publik "Telaah Visi Misi Capres dan Kupas Debat Capres Seri-2", di Kantor Para Syndicate, Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Senin (18/2).

Namun demikian, Ari menilai, pasca debat kedua, yang menarik perhatian dirinya adalah akan adanya pemilih swing voter maupun undecided voter yang akan mulai menentukan pilihan.

Jika sebelumnya masih ada sekitar 20 persen pemilih yang masih bimbang, maka pascadebat dirinya yakin para pemilih yang belum menentukan pilihan akan mulai menentukan pilihan.

"Yang menjadi perhatian adalah pemilihan di tengah, baik itu undecided voter maupun swing voter, jika kemarin masih bimbang, mereka akan lebih cenderung dan punya tren referensi ke 01," ucap Ari.

Referensi tersebut didapat setelah dalam debat kedua Jokowi dapat lebih memaparkan kebijakannya secara lebih jelas dan konkret. Terlebih, sebagai calon petahana, Jokowi juga dianggap cukup baik menyampaikan pencapaian atau keberhasilan selama masa pemerintahannya.

"Jokowi paparannya lebih jelas, konkret, programatik. Dia baseline pencapaian sekarang dan kemudian ditarik menjadi rencana kebijakan berikutnya seperti apa. Itu jelas menggunakan data," ungkap Ari.

Sebaliknya, dalam debat Prabowo justru sebanyak tiga kali mengafirmasi keberhasilan program-program pemerintahan Jokowi. Padahal, dalam debat, upaya mengafirmasi keberhasilan lawan sebaiknya dihindari.

"Dalam debat, upaya mengafirmasi keberhasilan lawan sebaiknya tidak diungkap secara gamblang. Prabowo setuju dengan apa yang sudah dilakukan Jokowi. Namun disebutkan kami berbeda dari segi falsafah, dari segi strategi, tetapi berbedanya dimana? Turunan policy-nya tidak muncul," ucapnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon