KPU Pertimbangkan Debat Ketiga Tanpa Pendukung

Selasa, 19 Februari 2019 | 14:55 WIB
YP
WM
Penulis: Yustinus Patris Paat | Editor: WM
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) saling memberi salam seusai debat capres 2019 disaksikan moderator di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019.
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) saling memberi salam seusai debat capres 2019 disaksikan moderator di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019. (SP/Joanito De Saojoao/SP/Joanito De Saojoao)


Jakarta, Beritasatu.com - Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Viryan mengatakan, komisinya segera melakukan evaluasi internal terkait pelaksanaan debat pilpres kedua di Holtel Sultan, Senayan, Jakarta Minggu (17/2) malam. Salah satu yang akan dievaluasi adalah keberadaan pendukung pasangan calon (paslon) di ruang debat.
"Di setiap sesi berlangsung, apabila ada hal penting yang kemudian bisa menjadi bahan evaluasi, sudah kami identifikasi. Beberapa di antaranya adalah pertama jumlah pendukung yang hadir terlalu banyak sehingga mengganggu konsentrasi pasangan calon dalam berdebat," ujar Viryan, di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Senin (18/2).
Viryan mengatakan, sejumlah pihak mengatakan format debat pilpres kedua sudah memadai. Namun, kata Viryan, pendukung yang terlalu banyak dan sorak-sorai yang kurang tertib membuat konsentrasi calan presiden terganggu.
"Tamu undangan memberi masukan yang sama para fans (pendukung) ini berikan euforia ya, tapi mestinya sadar itu mengganggu calon mereka," kata Viryan.
KPU, kata Viryan, akan melakukan evaluasi terkait keberadaan pendukung ini. Pilihannya, kata Viryan, ada dua, yakni jumlahnya dikurangi atau pendukung sama sekali ditiadakan pada saat debat.
"Yang jelas akan dikurangi sampai berapa, ada yang sebut angka 50 bahkan ada masukan nggak usah lagi ada fans, kan, ada nobar, ini siarang langsung supaya suasana pada saat debat bisa fokus," jelas Viryan.
KPU, kata Viryan, ingin menghadirkan debat yang bisa membuat calon konsentrasi untuk menyampaikan visi, misi, dan program.
"KPU ingin hadirkan debat yang paslonnya benar-benar konsentrasi total keluarkan pandangannya, visi-misi dan program tanpa terganggu. Ini kan ksempatan langkah setiap detik bermakna sehimgga hal-hal seperti itu, tak akan terulang, jadi catatan penting dari debat kedua terkait para pendukung hadir," pungkas Viryan.
Pada debat kedua ini, KPU memberikan undangan kepada tim pasangan calon masing-masing sebanyak 140 undangan. Sementara undangan untuk tamu KPU sebanyak 320 undangan.

Alat Bantu
Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) angkat bicara soal dugaan bahwa Calon Presiden Nomor Urut 01 Joko Widodo mengguanakan earpiece saat debat pilpres yang kedua. KPU dan Bawaslu mengaku tidak melihat jika Jokowi menggunakan earpiece tersebut.
Komisioner KPU Wahyu Setiawan menegaskan bahwa Jokowi maupun Prabowo Subianto sama sekali tidak menggunakan alat bantu komunikasi baik yang berupa earpiece atau alat bantu lainnya.
"Tidak ada yang menggunakan alat bantu," kata Wahyu, saat dihubungi, Senin (18/2).
Menurut Wahyu, sejauh yang diamatinya selama debat, capres Jokowi tidak menggunakan alat bantu komunikasi berupa earpiece. Pasalnya, alat bantu tersebut dilarang digunakan oleh kedua capres, baik Jokowi maupun Prabowo.
"Baik capres 01 dan capres 02 tidak ada yang menggunakan alat bantu. Jadi clear ya seperti itu," ungkap dia.
Secara terpisah, anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar mengaku tidak melihat Jokowi menggunakan earpiece selama debat pilpres kedua berlangsung. Fritz yang ikut hadir secara langsung menyaksikan debat tidak melihat adanya pemakaian alat bantu komunikasi itu.
"Tetapi kami tidak melihat itu sih, tidak melihat apakah benar pakai earphone atau tidak. Jadi saya tidak bisa mengkonfirmasi lah," kata Fritz, di Kantor Bawaslu, Jakarta, Senin (18/2).
Fritz pun enggan memberikan lebih lanjut soal dugaan Jokowi yang membawa alat bantu berupa earpiece. Bawaslu, kata Fritz, lagi fokus melakukan evaluasi internal soal jalan debat pilpres kedua.
"Kami belum masuk ranah itu, kami lagi fokus evaluasi jalannya debat kedua secara keseluruhan," katanya.
Sebelumnya, Jokowi menanggapi tudingan penggunaan alat bantu komunikasi saat debat pilpres kedua, Minggu (17/2). Jokowi menegaskan, informasi yang beredar di media sosial (medsos) itu bentuk fitnah yang semestinya dihentikan.
"Ada-ada saja. Itu fitnah-fitnah seperti itu jangan diterus-terusinlah," kata Jokowi, di sela-sela kunjungan kerjanya, di Pandeglang, Banten, Senin (17/2).
Seperti diketahui, jagat medsos diramaikan kabar Jokowi memakai earphone bluetooth atau alat komunikasi dengar. Ada juga gambar ketika Jokowi memegang pulpen yang disebut-sebut sebagai alat bantu untuk mengoneksikan komunikasi dengan earphone bluetooth.
Jokowi membantah isu tersebut. Jokowi juga menunjukkan pulpen itu kepada awak media. "Ini pulpen ini? Ini kan. Ya dibuka saja. Jangan membuat isu fitnah-fitnah yang enggak bermutu," kata Jokowi.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon