Pascakemerdekaan, RI Dinilai Lupakan Pembangunan Karakter

Minggu, 24 Maret 2019 | 17:14 WIB
CP
WP
Penulis: Carlos KY Paath | Editor: WBP
Ilustrasi Pancasila
Ilustrasi Pancasila (istimewa/istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com – Kemerdekaan yang diraih Indonesia karena adanya perasaan senasib dan sepenanggunan antara pendiri bangsa. Pejuang kemerdekaan menolak politik adu domba penjajah. Meski di antara tokoh-tokoh bangsa kala itu berbeda latar belakang suku, agama, etnis dan lainnya.

Hal itu disampaikan aktivis hak asasi manusia dan sosial ekonomi, HS Dillon dalam diskusi kebangsaan yang digelar Aliansi Anak Bangsa untuk Indonesia (AABI) di Hotel Treva, Jakarta, Minggu (24/3/2019). "Di antara pendiri bangsa ada perbedaan, tapi mereka kesampingkan. Mereka lintasi perbedaan itu, karena ada kepentingan bersama yaitu memerdekakan diri dari penjajahan," kata Dillon.

Setelah proklamasi kemerdekaan, menurut HS Dillon, Indonesia agak melupakan pembangunan karakter bangsa. Ketidakadilan ternyata tidak dipatahkan sungguh-sungguh. Fragmentasi di tengah bangsa, disebut sudah terjadi sebelum sekarang. Pemusatan seluruh pembangunan, termasuk pendidikan berada di Pulau Jawa.

"Yang dikembangkan sekarang adalah dusta dan benci. Dusta dan benci bisa hidup berkembang, tumbuh subur karena kita biarkan ketidakadilan. Pancasila tidak kita laksanakan. Upaya untuk mematahkan ketidakadilan feodal kolonial tidak berhasil, sehingga benci dan dusta bisa tumbuh subur," ujar HS Dillon.

HS Dillon menambahkan, banyak masyarakat yang dibiarkan hidup dengan kurang pengetahuan. Kemampuan dari setiap masyarakat, khususnya di daerah tidak dikembangkan. "Tidak kita berikan pendidikan. Untuk saya, yang saya inginkan adalah kesadaran bahwa kita adalah senasib sepenanggunan," imbuh HS Dillon.

HS Dillon menambahkan, perubahan iklim dan kemajuan teknologi merupakan tantangan yang akan dihadapi bangsa. "Apapun agama kita, betapa kaya atau miskin kita, perubahan iklim akan menghantam kita. Belum lagi perkembangan teknologi yang akan menjadikan sebagian besar kita tidak siap. Yang kita rindukan solidarity maker atau orang-orang yang bisa menyatukan," ucap HS Dillon.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon