“Kembalikan Sentani yang Asri”

Rabu, 27 Maret 2019 | 19:29 WIB
JM
AB
Penulis: Jeis Montesori | Editor: AB
Warga mengungsi akibat banjir bandang di Sentani Jayapura, Papua, Senin 18 Maret 2019.
Warga mengungsi akibat banjir bandang di Sentani Jayapura, Papua, Senin 18 Maret 2019. (Antara)

Sentani, Beritasatu.com - Dengan air mata berlinang, Carolina Henny Kaway memandang sekeliling tempat tinggalnya di Doyo Baru, Sentani.

"Oh, sungguh benar-benar menyedihkan," katanya.

Kampung yang dahulu sejuk, asri, dan nyaman, kini telah berubah menjadi tanah gersang, berlumpur, dan berdebu. Tak terlihat lagi pepohonan dan rerumputan hijau yang tumbuh subur di sepanjang perkampungan dan pinggiran-pinggiran sungai.

Di sana-sini yang tampak onggokan batu-batu besar, batang-batang kayu, dan lumpur yang hanyut dibawa banjir dan menutupi rumah-rumah warga serta ruas jalan raya.

Pada, Selasa (26/3/2019), warga terlihat masih berusaha membersihkan lumpur di atas puing-puing rumah mereka yang hancur dihantam banjir bandang. Mereka mencoba mencari sisa-sisa harta benda yang mungkin masih bisa digunakan untuk bertahan hidup.

"Oh di mana kiranya kampungku yang dahulu itu? Apakah masih bisa ditemukan dan dipulihkan kembali seperti dahulu lagi?" tanya Carolina Henny Kaway penuh kesedihan.

Banjir bandang yang datang secara tiba-tiba sekitar pukul 21.00 Wita, Sabtu (16/3/2019) malam lalu, telah meluluhlantakkan sebagian besar permukiman warga di Doyo Baru. Kampung yang masuk dalam wilayah Distrik Waibu ini berada di kaki Gunung Cycloop. Kampung ini termasuk yang terparah dilanda banjir. Rumah-rumah warga rusak diterjang banjir bercampur lumpur.

Lapangan terbang untuk pesawat Mission Aviation Fellowship (MAF) milik Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) di Doyo Baru, tergenang banjir cukup tinggi. Pesawat terbang misi yang sedang parkir di lapangan terbang tersebut ikut terseret arus banjir hingga ke jalan raya dan rusak parah.

Brent Kafiar, warga Sentani lainnya mengatakan, bencana tersebut telah menghilangkan kondisi asli Sentani-Doyo yang eksotis di bawah kaki Cycloop.

"Duhulu, kami suka bermain-main di sepanjang pinggiran sungai sambil menikmati pemandangan alam yang indah. Kami mendengar kicauan burung-burung yang terbang bebas di angkasa luas, tetapi bencana banjir telah meluluhlantakkan semua itu," kata Brent.

Ulah Manusia
Dikutip dari BBC.com, kepala suku yang juga tetua di Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Amos Ondi, menyebutkan kerusakan hutan di Pegunungan Cycloop atau disebut Dobonsolo oleh warga Sentani, sudah dimulai sejak 1980-an. Kerusakan hutan terjadi sejak apa yang mereka sebut "kedatangan perambah hutan".

"Akhirnya ada yang ikut-ikut melakukan penebangan. Tanpa izin. Kita di sini itu orang adat tahu diri. Kepala suku bilang wilayah ini boleh, wilayah ini jangan. Alam kita juga berubah. Kalau sejak dahulu orangtua kita meminta kita tidak boleh tebang-tebang, jaga dia. Kali itu juga sumber kehidupan, tetapi saudara dari gunung datang, mereka punya budaya lain dengan orang Jayapura asli," ujar pria yang berusia 77 tahun ini.

Musibah ini, lanjut Amos, bukan karena alam, melainkan karena ulah manusia. "Musibah ini kita sendiri yang undang datang. Ini akibatnya," kata Amos Ondi.

Amos Ondi menuturkan Pegunungan Cycloop dan Danau Sentani merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Pasalnya, beberapa aliran sungai dari Pegunungan Cycloop bermuara di Danau Sentani. Kerusakan yang terjadi di hulu, tentu berdampak ke hilir.

"Kalau gunung selamat, danau pasti selamat. Kalau gunung rusak, danau juga rusak," kata Amos Ondi. 



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon