Gairah Cinta Dalam Balutan Kisah Perang di Matah Ati
Jumat, 22 Juni 2012 | 15:03 WIB
“Ide ini muncul dari konfigurasi waktu adegan perang."
Cinta dan kekaguman serta gejolak dalam peperangan menjadikan Rubiyah, seorang gadis dari desa Matah menerima lamaran dari seorang ksatria yang sangat dikenal keberaniannya melawan penjajahan VOC yang semena-mena dan berlaku tidak adil terhadap rakyat pada zaman itu.
Ksatria tersebut bernama Raden Mas Said dan dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyowo, yang berasal dari Surakarta. Keberaniannya memimpin perang melawan tentara VOC pada abad 18 tersebut menumbuhkan kekaguman Rubiyah.
Begitu pun dengan Raden Mas Said, ketika ia melihat Rubiyah yang tubuhnya memancarkan sinar ksatria dari Surakarta itu pun kagum, terpesona dan jatuh cinta. Raden Mas Said kemudian memutuskan untuk menjadikan Rubiyah sebagai pendamping hidupnya. Raden Mas Said merasa bahwa Rubiyah adalah penyemangatnya dalam berjuang menegakkan ketidakadilan dan menolong rakyatnya.
Ketangkasan, kelembutan, kemuliaan hati, kecantikan, dan kesederhanaan yang ada pada diri Rubiyah membuatnya seolah menjadi seorang perempuan yang sempurna. Namun karakter tersebut bisa berubah beringas dalam memimpin peperangan di kelompok prajurit perempuan yang dikenal tangkas dalam segala taktik peperangan dan olah senjata.
Karakter Rubiyah yang tangguh tersebut dibentuk oleh Raden Mas Said, dan membuat Rubiyah menjadi prajurit yang sangat tangguh. Kepekaan Rubiyah dalam melihat nasib rakyat yang terjajah, dan rasa cinta serta ketulusan pengabdiannya kepada sang tambatan hati, maka jadilah Rubiyah penguat jiwa di saat menumpas lawan-lawannya.
Hingga 16 tahun peperangan dan pemberontakan terjadi. Kekalahan lawan mendorong diadakannya perjanjian di Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757, dan saat itu Raden Mas Said pun resmi diangkat menjadi penguasa setempat dan diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro dan Rubiyah menjadi istri beliau dengan nama Bandoro Raden Ayu Kusuma Matah Ati karena lahir di desa Matah yang juga bisa diartikan Melayani Hati Sang Pangeran. Dari beliaulah kemudian turun para penguasa Mangkunegaran.
Cerita di atas kemudian dipaparkan dalam sebuah adegan dalam bentuk seni tari yang diberi tajuk Matah Ati.
Dibuka dengan prolog yang menampilkan Laskar Prajurit Putri, pejuang yang siap menunggu perintah pimpinan untuk menumpas penjajahan demi kesejahteraan rakyat, kemudian dilanjutkan dengan penampilan Rubiyah, seorang penari yang sedang bermimpi menjadi seorang putri ningrat.
Matah Ati dibagi dalam delapan babak dan satu babak pembukaan di awal. Setiap babak menampilkan adegan-adegan seni tari yang menggambarkan proses perkenalan Rubiyah dengan Raden Mas Said, peperangan yang terjadi hingga pernikahan Raden Mas Said dengan Rubiyah.
Semua itu dikemas dengan sangat apik dan didukung oleh detail properti yang digunakan para penari serta alunan musik khas tanah Jawa yang menggetarkan hati.
Menggunakan panggung miring untuk mementaskan gelaran Matah Ati membuat pertunjukan yang diarsiteki oleh Atilah Soeryadjaya, Jay Subyakto dan Inet Leimana ini makin terasa unik dan berbeda dari pertunjukan seni tari lainnya.
“Ide ini muncul dari konfigurasi waktu adegan perang. Waktu latihan di bidang datar tidak terlalu kelihatan konfigurasi tariannya, jadi saya munculkan ide bidang miring untuk bisa menampilkan adegan perang dengan melempar caping dan sebagainya supaya bisa lebih terlihat,” tutur Jay Subyakto selaku Penata Artistik Matah Ati saat dijumpai usai Gladiresik Matah Ati di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki Kamis malam (21/6).
Pertunjukan Matah Ati yang akan digelar mulai tanggal 22-25 Juni 2012 merupakan pertunjukan ketiga, setelah sebelumnya telah dipertunjukkan pada tahun 2010 di Esplanade, Singapura dan tahun 2011 di Taman Ismail Marzuki.
“Banyak permintaan dari masyarakat lewat Twitter, Facebook, dan E-mail yang meminta kami untuk menggelar pertunjukan ini kembali. Setelah ini juga akan digelar di Solo pada tanggal 8-10 September 2012,” jelas Jay.
Untuk harga tiket dipatok mulai dari Rp250 ribu hingga Rp1,2 juta dan bisa didapatkan di lokasi pertunjukan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki sebelum acara dimulai pada pukul 20.00 WIB.
Cinta dan kekaguman serta gejolak dalam peperangan menjadikan Rubiyah, seorang gadis dari desa Matah menerima lamaran dari seorang ksatria yang sangat dikenal keberaniannya melawan penjajahan VOC yang semena-mena dan berlaku tidak adil terhadap rakyat pada zaman itu.
Ksatria tersebut bernama Raden Mas Said dan dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyowo, yang berasal dari Surakarta. Keberaniannya memimpin perang melawan tentara VOC pada abad 18 tersebut menumbuhkan kekaguman Rubiyah.
Begitu pun dengan Raden Mas Said, ketika ia melihat Rubiyah yang tubuhnya memancarkan sinar ksatria dari Surakarta itu pun kagum, terpesona dan jatuh cinta. Raden Mas Said kemudian memutuskan untuk menjadikan Rubiyah sebagai pendamping hidupnya. Raden Mas Said merasa bahwa Rubiyah adalah penyemangatnya dalam berjuang menegakkan ketidakadilan dan menolong rakyatnya.
Ketangkasan, kelembutan, kemuliaan hati, kecantikan, dan kesederhanaan yang ada pada diri Rubiyah membuatnya seolah menjadi seorang perempuan yang sempurna. Namun karakter tersebut bisa berubah beringas dalam memimpin peperangan di kelompok prajurit perempuan yang dikenal tangkas dalam segala taktik peperangan dan olah senjata.
Karakter Rubiyah yang tangguh tersebut dibentuk oleh Raden Mas Said, dan membuat Rubiyah menjadi prajurit yang sangat tangguh. Kepekaan Rubiyah dalam melihat nasib rakyat yang terjajah, dan rasa cinta serta ketulusan pengabdiannya kepada sang tambatan hati, maka jadilah Rubiyah penguat jiwa di saat menumpas lawan-lawannya.
Hingga 16 tahun peperangan dan pemberontakan terjadi. Kekalahan lawan mendorong diadakannya perjanjian di Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757, dan saat itu Raden Mas Said pun resmi diangkat menjadi penguasa setempat dan diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro dan Rubiyah menjadi istri beliau dengan nama Bandoro Raden Ayu Kusuma Matah Ati karena lahir di desa Matah yang juga bisa diartikan Melayani Hati Sang Pangeran. Dari beliaulah kemudian turun para penguasa Mangkunegaran.
Cerita di atas kemudian dipaparkan dalam sebuah adegan dalam bentuk seni tari yang diberi tajuk Matah Ati.
Dibuka dengan prolog yang menampilkan Laskar Prajurit Putri, pejuang yang siap menunggu perintah pimpinan untuk menumpas penjajahan demi kesejahteraan rakyat, kemudian dilanjutkan dengan penampilan Rubiyah, seorang penari yang sedang bermimpi menjadi seorang putri ningrat.
Matah Ati dibagi dalam delapan babak dan satu babak pembukaan di awal. Setiap babak menampilkan adegan-adegan seni tari yang menggambarkan proses perkenalan Rubiyah dengan Raden Mas Said, peperangan yang terjadi hingga pernikahan Raden Mas Said dengan Rubiyah.
Semua itu dikemas dengan sangat apik dan didukung oleh detail properti yang digunakan para penari serta alunan musik khas tanah Jawa yang menggetarkan hati.
Menggunakan panggung miring untuk mementaskan gelaran Matah Ati membuat pertunjukan yang diarsiteki oleh Atilah Soeryadjaya, Jay Subyakto dan Inet Leimana ini makin terasa unik dan berbeda dari pertunjukan seni tari lainnya.
“Ide ini muncul dari konfigurasi waktu adegan perang. Waktu latihan di bidang datar tidak terlalu kelihatan konfigurasi tariannya, jadi saya munculkan ide bidang miring untuk bisa menampilkan adegan perang dengan melempar caping dan sebagainya supaya bisa lebih terlihat,” tutur Jay Subyakto selaku Penata Artistik Matah Ati saat dijumpai usai Gladiresik Matah Ati di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki Kamis malam (21/6).
Pertunjukan Matah Ati yang akan digelar mulai tanggal 22-25 Juni 2012 merupakan pertunjukan ketiga, setelah sebelumnya telah dipertunjukkan pada tahun 2010 di Esplanade, Singapura dan tahun 2011 di Taman Ismail Marzuki.
“Banyak permintaan dari masyarakat lewat Twitter, Facebook, dan E-mail yang meminta kami untuk menggelar pertunjukan ini kembali. Setelah ini juga akan digelar di Solo pada tanggal 8-10 September 2012,” jelas Jay.
Untuk harga tiket dipatok mulai dari Rp250 ribu hingga Rp1,2 juta dan bisa didapatkan di lokasi pertunjukan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki sebelum acara dimulai pada pukul 20.00 WIB.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




