Polisi: Plot Serangan 17 Agustus Dibiayai Dana ISIS-JAD

Selasa, 23 Juli 2019 | 20:09 WIB
FA
JS
Penulis: Farouk Arnaz | Editor: JAS
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo (tengah), Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra (kiri) dan Anjak Madya Divisi Humas Polri AKBP Muhammad Iqbal Alkudusi (kanan) memberikan keterangan pers pengungkapan kasus tindak pidana terorisme di Divhumas Polri, Jakarta, Selasa (23/7/2019). Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri berhasil meringkus seorang anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Sumatera Selatan bernama Novendri alias Abu Zahran alias Abu Jundi di Padang, Sumatera Barat pada 18 Juli 2019 lalu yang merupakan salah satu bendahara JAD Indonesia yang bertugas mengatur pergerakan keuangan JAD.
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo (tengah), Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra (kiri) dan Anjak Madya Divisi Humas Polri AKBP Muhammad Iqbal Alkudusi (kanan) memberikan keterangan pers pengungkapan kasus tindak pidana terorisme di Divhumas Polri, Jakarta, Selasa (23/7/2019). Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri berhasil meringkus seorang anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Sumatera Selatan bernama Novendri alias Abu Zahran alias Abu Jundi di Padang, Sumatera Barat pada 18 Juli 2019 lalu yang merupakan salah satu bendahara JAD Indonesia yang bertugas mengatur pergerakan keuangan JAD. (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Jakarta, Beritasatu.com - Saefulah alias Dahniel alias Chaniago yang merupakan mantan penjaga perpustakaan di Ponpes Ibnu Masud di Jawa Barat muncul menjadi tokoh ISIS-JAD yang paling berbahaya.

Menurut polisi, lelaki yang diyakini berada di Kurasan, Afganistan setelah kabur dari Suriah itu berjejaring dengan pendukung ISIS di dunia. Dia mengantongi hampir 28.000 dolar AS atau Rp 413 juta menggunakan Western Union.

"Dana itu diterima dari dari 12 orang. Rinciannya empat kali dari Yahya Abdul Karim, Fawaaz Ali, Keberina Deonarine, Ricky Mohammed dua kali, dan Ian Marvin Balley; kelimanya dari negara Trinidad Tobago. Lalu ada Ahmed Afrah dari Maldives (Maladewa)," kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Selasa (23/7/2019).

Lalu ada Pedro Manuel dari Venezuela; Mahboob Suliman, Simouh Ilyaas keduanya dari Jerman, Muslih Alih dari Maldives, Furkan Cinar dari Trinadad dan Tobago, serta Jonius Onde dari Malaysia.

Uang itu dipergunakan untuk melakukan berbagai teror di Tanah Air. Misalnya diberikan kepada Yoga—yang ditangkap di Malaysia— untuk membeli senjata di Filipina dan membiayai Muhammad Aulia dan 10 orang lain ke Kurasan, Afganistan.

Aulia dideportasi dari Bangkok 13 Juni lalu dan ditangkap Densus setibanya di Bandara Kualanamu, Medan. Saefullah juga terkait dengan Heru Kuncoro alis Ucang yang merupakan adik ipar Dulmatin (tokoh Bom Bali 1).

"Heru dibekuk di Bandara Soekarno Hatta saat hendak ke Iran. Heru juga merupakan mantan napi terorisme yang bebas pada 2017 lalu. Heru terkait Abu Walid tokoh ISIS asal Indonesia yang tewas di Suriah pada Januari lalu," imbuhnya.

Uang itu juga diberikan ke bendahara bernama M Novendri. Novendri berencana mengebom Polda Sumbar dan Polresta Padang pada momen 17 Agustus nanti. Beruntung Novendri sudah dibekuk.

Dana dari Novendri juga mengalir ke jaringan MIT yang dipimpin Ali Kalora di Poso dan juga diterima Bondan pimpinan JAD Bekasi.

Bondan yang telah dibekuk awal Mei lalu juga berencana membuat bom TATP untuk mengebom aksi demo 22-22 Mei 2019 di Bawaslu.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon