Kasus Rasialisme, Kapolri Minta Mahasiswa Papua Berbaur

Kamis, 29 Agustus 2019 | 11:02 WIB
FA
YD
Penulis: Farouk Arnaz | Editor: YUD
Massa yang tergabung dalam Mahasiswa Papua Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme dan Militerisme menggelar unjuk rasa di Jalan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis 22 Agustus 2019.
Massa yang tergabung dalam Mahasiswa Papua Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme dan Militerisme menggelar unjuk rasa di Jalan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis 22 Agustus 2019. (Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao)

Jakarta, Beritasatu.com - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian meminta agar mahasiswa Papua yang bersekolah di luar Papua agar berbaur dan tidak bersifat eksklusif. Mereka diminta berbaur dan menjunjung budaya setempat.

"Saya juga sampaikan ke para tokoh di Papua, tolong juga, kita namanya pendatang, siapapun juga yang pendatang, dimanapun juga, pendatang di seluruh dunia ini juga berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lokal wisdom, dengan adat istiadat, norma yang berlaku di daerah itu," kata Tito di Mabes Polri, Kamis (29/8/2019).

Misalnya orang dari Sumatera sekolah di Yogyakarta, maka dia harus menyesuaikan dengn kultur di sana. Beradaptasi, bergaul dengan masyarakat dan lingkungan.

"Sama, adik-adik dari Papua sekolah di Yogya, Surabaya, Medan, dan lainnya kalau bisa, jangan eksklusif tetapi bergaul dengan masyarakat sekitar. Berbaur dan menghargai budaya, adat yang ada ditempat itu," imbuhnya.

Hal yang sama juga berlaku dengan masyarakat yang datang ke Papua, baik WNI atau WNA, mereka juga harus paham kultur dan adat istiadat di Papua dan menyesuaikan diri.

"Kalau tidak bisa itu bisa menimbulkan konflik. Jadi kita harus lihat kasus (rasialisme) di Surabaya dilakukan oknum, tidak mewakili masyarakat. Itu tidak benar dan perkataan itu tidak boleh. Kita telah tegakkan hukum," tegasnya.

Mahasiswa asal Papua yang sekolah di luar Papua dijamin keamanannya tapi juga harus menghargai masyarakat lokal, budaya, dan adatnya sehingga bisa berbaur seperti para seniornya terdahulu.

Seperti diberitakan, Polda Jawa Timur telah menetapkan tersangka dalam kasus rasialisme dalam penggrebekan asrama mahasiswa Papua di Surabaya.

Namun penanganan kasus rasisme ini terkesan terlambat ditangani sehingga banyak masyrakat Papua yang terkadung terbakar dan marah. Apalagi kondisi tersebut diperparah dengan hoax yang provokatif.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon