9 Juli, Terjadi "Kiamat Internet"
Kamis, 5 Juli 2012 | 21:58 WIB
Virus DNS Changer menyebabkan lebih dari 350 ribu komputer kehilangan akses internet pada Senin (9/7) mendatang.
Kiamat internet alias hilangnya akses ke dunia maya akan terjadi pada 350 ribu komputer, Senin (9/7) mendatang. Hal ini terjadi karena infeksi yang disebabkan virus DNS Changer.
Virus yang pertama kali digunakan pada 2007 itu membajak komputer pengguna tanpa sepengetahuan mereka. Komputer yang terinfeksi itu kemudian diarahkan untuk mengakses iklan milik si empunya virus.
Modus yang dilakukan virus DNS Changer yang dibuat mafia asal Estonia ini sempat berjalan dengan lancar hingga pihak berwenang dan Biro Penyelidik Federal AS (FBI) menghentikannya pada November tahun lalu. Pada puncak infeksinya virus ini menjangkiti 500 ribu PC dan Mac.
Memang tak ada pengaruh yang signifikan pada komputer yang terinfeksi selain memperlambat koneksi internet dan menonaktifkan aplikasi anti virus. Tapi virus ini mengarahkan komputer yang terinfeksi pada server milik para penipu tersebut.
Mematikan server yang sudah diambil alih pihak FBI itu akan menyebabkan komputer yang terinfeksi tak bisa mengakses internet. Hal tersebut membuat FBI secara sementara menggantikan server itu dengan situs yang berguna untuk mengecek apakah komputer yang berkunjung telah terjangkit virus.
Situs DNS Checker Page memungkingkan para pengguna mengetes apakah komputer mereka telah terjangkit virus dan membasminya. Situs ini juga membuat penurunan penyebaran virus tersebut dalam jumlah yang cukup besar.
Saat ini FBI berencana mematikan server itu pada Senin (9/7) karena untuk biaya pengoperasiannya membutuhkan lebih dari $10 ribu (Rp93,457 juta) tiap bulannya. Ketika dimatikan Senin mendatang sekitar 350 ribu komputer yang masih terinfeksi di seluruh dunia bakal kehilangan akses ke internet.
Kiamat internet alias hilangnya akses ke dunia maya akan terjadi pada 350 ribu komputer, Senin (9/7) mendatang. Hal ini terjadi karena infeksi yang disebabkan virus DNS Changer.
Virus yang pertama kali digunakan pada 2007 itu membajak komputer pengguna tanpa sepengetahuan mereka. Komputer yang terinfeksi itu kemudian diarahkan untuk mengakses iklan milik si empunya virus.
Modus yang dilakukan virus DNS Changer yang dibuat mafia asal Estonia ini sempat berjalan dengan lancar hingga pihak berwenang dan Biro Penyelidik Federal AS (FBI) menghentikannya pada November tahun lalu. Pada puncak infeksinya virus ini menjangkiti 500 ribu PC dan Mac.
Memang tak ada pengaruh yang signifikan pada komputer yang terinfeksi selain memperlambat koneksi internet dan menonaktifkan aplikasi anti virus. Tapi virus ini mengarahkan komputer yang terinfeksi pada server milik para penipu tersebut.
Mematikan server yang sudah diambil alih pihak FBI itu akan menyebabkan komputer yang terinfeksi tak bisa mengakses internet. Hal tersebut membuat FBI secara sementara menggantikan server itu dengan situs yang berguna untuk mengecek apakah komputer yang berkunjung telah terjangkit virus.
Situs DNS Checker Page memungkingkan para pengguna mengetes apakah komputer mereka telah terjangkit virus dan membasminya. Situs ini juga membuat penurunan penyebaran virus tersebut dalam jumlah yang cukup besar.
Saat ini FBI berencana mematikan server itu pada Senin (9/7) karena untuk biaya pengoperasiannya membutuhkan lebih dari $10 ribu (Rp93,457 juta) tiap bulannya. Ketika dimatikan Senin mendatang sekitar 350 ribu komputer yang masih terinfeksi di seluruh dunia bakal kehilangan akses ke internet.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




