Tangani Covid-19, Kemristek Percepat Riset Vaksin Lokal

Jumat, 5 Juni 2020 | 22:53 WIB
AR
B
Penulis: Ari Supriyanti Rikin | Editor: B1
Ilustrasi penyuntikan vaksin
Ilustrasi penyuntikan vaksin (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah melalui Kementerian Riset Teknologi (Kemristek) membentuk tim optimalisasi pembuatan vaksin Covid-19 berbasis strain virus Covid-19 yang berasal dari transmisi lokal. Upaya ini dilakukan agar riset penemuan vaksin bisa dipercepat dan Indonesia bisa mandiri untuk memproduksi vaksin.

Menteri Riset Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro mengatakan, riset vaksin ini ditekankan sebagai solusi pamungkas menghadapi Covid-19. Sebelumnya, Kementerian Riset Teknologi (Kemristek) membentuk konsorsium riset penanganan Covid-19 yang di dalamnya terdiri banyak riset dan inovasi menghadapi pandemi ini. Salah satunya adalah riset vaksin yang dilakukan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

"Sekarang ada perlombaan perusahaan farmasi di dunia, karena mereka melihat market yang besar. Sekian miliar orang di dunia menunggu vaksin Covid-19 agar tuntas," katanya dalam telekonferensi di Jakarta, Jumat (5/6/2020).

Lembaga Eijkman lanjutnya, sudah lama melakukan penelitian terkait SARS. Hal inilah yang membuatnya optimistis bahwa hasil riset vaksin akan terwujud tahun depan.

"Kita harus memperbaiki kualitas kemampuan lembaga riset vaksin penyakit menular khususnya di daerah tropis," ucapnya.

Lembaga Eijkman saat ini masih mengembangkan riset vaksin Covid-19 yang berada dalam tahap whole genome sequencing. Ditargetkan riset Eijkman berlangsung satu tahun, lalu masuk tahap praklinis dan uji klinis yang melewati berbagai tahapan.

Oleh karena itu tim yang dibentuk dan terdiri dari berbagai lembaga serta swasta ini akan mempercepat riset yang dilakukan Eijkman. Misalnya saja ada riset dengan pendekatan platform lainnya.

Terkait anggaran, Bambang menyebut, riset didukung anggaran yang menyatu dalam konsorsium riset yang totalnya mencapai Rp 200 miliar. Pengembangan riset ini juga melibatkan BUMN dan swasta, sehingga dalam setiap prosesnya, BUMN dan perusahaan swasta bisa terlibat di dalamnya.

Sedangkan ketika nanti vaksin ditemukan, wewenang untuk imunisasi massal berada di tangan Kementerian Kesehatan. Sementara wewenang untuk produksi massal berada di tanggung jawab BUMN dan swasta.

Untuk pengembangan vaksin Covid-19 lokal ini, peneliti Indonesia pun terbuka untuk bekerja sama dengan pihak luar negeri.
Saat ini, Bio Farma juga bekerja sama dengan Tiongkok, Kalbe Farma bekerja sama dengan Korea. Dengan beragam instansi dan model pendekatan yang beragam diharapkan, penemuan vaksin berbasis virus lokal ini bisa segera terwujud.

"Dengan bisa diproduksi di dalam negeri, kita tidak bergantung vaksin impor. Negara kita besar, sangat riskan jika kita bergantung vaksin impor," ucapnya.

Dalam pengembangan vaksin lokal ini juga akan diberikan ruang penelitian khusus vaksin yang aman untuk anak-anak. Dengan percepatan riset vaksin, Bambang berharap pada 2021 imunisasi massal bisa dilakukan. Jika diasumsikan vaksin yang dibutuhkan 300 juta ampul dengan harga satuannya US$ 1 maka anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 5,5 triliun.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon