Antipasi Banjir Jakarta dengan Keterbatasan Drainase
Sabtu, 7 November 2020 | 11:09 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Suatu apel kesiapsiagaan berlangsung di lapangan JIC II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (4/5). Ratusan personel dari berbagai unsur hadir dalam apel kesiapsiagaan mengantisipasi banjir di musim hujan ini. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memimpin apel tersebut. Apel itu untuk menyatukan gerak dalam mengantisipasi banjir. Juga untuk mengingatkan senya pihak tetap siaga selama musim hujan.
Selain itu, mengirimkan pesan ke seluruh masyarakat bahwa seluruh komponen pemerintah, TNI, Polri dan unsur masyarakat bersatu padu dalam mengantisipasi musim hujan. Jakarta sebagai kota metropolitan memang harus diakui masih bergelut dengan persoalan banjir. Sejak zaman baheula hingga kini masih menghadapinya dan entah sampai kapan.
Posisi geografis Jakarta berada lebih rendah dari wilayah sekitarnya menyebabkan kota ini rawan banjir. Asumsi itu diperkuat adanya 13 sungai yang melintasi Jakarta sebelum sampai ke Teluk Jakarta. Letaknya yang berada di pinggir laut, menambah potensi kerawanan banjir di kota ini. Banjir rob acap terjadi di beberapa kawasan di Jakarta Utara.
Kalau banjir 'kiriman' dari Bogor bisa terdeteksi dari Bendung Katulampa, banjir akibat rob datang setiap saat sesuai cuaca di lautan. Kalau bukan akibat 'kiriman' dari Bogor (di selatan) dan bukan akibat rob (dari utara) tetapi terjadi banjir, maka persoalan ada pada drainase.
Karena itulah, Anies Baswedan meminta jajarannya memperhatikan betul kondisi drainase. Sejumlah kawasan di Jakarta yang telah dilanda banjir dalam kurun September-Oktober lalu diidentifikasi akibat luapan sungai dan drainase, di samping adanya tanggul jebol.
Sistem drainase di Jakarta mampu menampung air untuk curah hujan maksimal 100 milimeter (mm) per hari ketika musim hujan. Karena itu bila curah hujan lokal di bawah 100 milimeter, ditargetkan tidak boleh terjadi banjir.
Namun bila curah hujan di atas 100 mm seperti awal 2020, maka Pemprov DKI harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Waktu itu curah hujan diperkirakan mencapai 377 cm.
"Jika ada curah hujan yang amat lebat, kita bisa surut dalam waktu kurang dari enam jam," kata Anies.
Kini semua pihak di Jakarta sedang bersiaga agar Jakarta bebas dari banjir. Kalaupun tetap masih ada banjir maka diupayakan tidak terlalu parah.
Indikatornya, dari keberhasilan menanganinya tertumpu pada dua hal. Pertama, genangan air sesegera mungkin surut. Kedua, tak ada korban jiwa.
Implementasi dari indikator itu ada pada sedikitnya ada tiga kata kunci untuk pengendalian banjir saat menghadapi musim hujan kali ini. Yaitu siaga, tanggap dan galang.
Siaga, diartikan dengan menyiapkan seluruh potensi yang dimiliki untuk menghadapi semua kemungkinan terjadi saat musim hujan. Kemudian, tanggap dimaknai selalu memantau secara dekat perkembangan cuaca khususnya hujan sehingga dapat merespon dengan cepat apapun kondisinya.
Tanggap menjadi bagian dari keseharian seluruh peserta apel di beberapa waktu yang akan datang. Karena itu, prosedur standar operasional (SOP), yakni sinergi antarseluruh unsur dipersiapkan agar dapat bekerja di lapangan dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya, galang merupakan manifestasi dari kegotongroyongan bangsa dalam menghadapi bencana dengan menghimpun seluruh kekuatan dan saling memanggul bersama amanat yang diembankan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




