DPR: Disabotase KRI Klewang Terbakar
Senin, 1 Oktober 2012 | 13:57 WIB
KRI klewang merupakan prototipe kapal perang yang bisa bersembunyi dari radar dengan harga Rp 114 miliar per unit.
Komisi I DPR yang membidangi pertahanan dan luar negeri, mendesak TNI dan Mabes Polri untuk melakukan investigasi terhadap terbakarnya KRI Klewang. Mereka menduga ada sabotase dalam kejadian itu.
Menurut Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, kecurigaan adanya sabotase itu didasari asumsi bahwa kejadian itu bertepatan dengan akan disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) Industri Pertahanan pada 2 Oktober mendatang.
Dikatakan Mahfudz, RUU itu menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengembangkan industri pertahanan nasional, yang berarti belanja anggaran negara untuk alutsista dalam negeri akan lebih besar dibanding belanja ke luar negeri.
"KRI itu merupakan satu pengembangan kapal perang yang tergolong canggih. Apakah ada upaya-upaya untuk menjatuhkan nama baik industri pertahanan nasional? Ini menjadi dugaan yang berkembang," kata Mahfudz.
Dijelaskan, KRI Klewang adalah produk baru yang dikembangkan perusahaan lokal PT Lundin Industry Invest atas pesanan TNI Angkatan Laut. Pada 2012, kata Mahfudz, ada sejumlah kapal cepat rudal yang dipesan, yang sebagian akan dibangun di perusahaan lokal seperti PT Palindo di Batam.
Perusahaan-perusahaan lokal itu baru membuat prototipe dan rencananya prototipe itu akan dites TNI AL. Apabila dianggap bagus, maka pemesanan akan ditambah.
KRI klewang merupakan salah satu dari prototipe kapal perang itu. Berdasarkan informasi yang didapat Komisi I DPR, KRI Klewang memiliki kemampuan bersembunyi dari radar dan berharga Rp 114 miliar per unit.
Mahfudz menambahkan, meski pihak PT Lundin sudah mengumumkan penyebab kebakaran tersebut adalah karena korsleting listrik, namun pihaknya meyakini bahwa kejadiannya pasti tidak sesederhana itu.
"Apakah sesederhana itu, seperti rumah kontrakan korsleting, lalu kebakaran? Ini kan kapal canggih. Sedangkan bobot kebakaran cukup tinggi," tanya Mahfudz.
Mahfudz mengatakan bahwa pihaknya akan mempertanyakan masalah itu kepada pihak TNI dan Kementerian Pertahanan (Kemhan), yang akan bertemu dengan mereka (Komisi I) dalam sebuat rapat, malam ini.
"Kalau prinsipnya, komitmen kita (adalah) ingin mengembangkan industri dalam negeri," tuturnya.
Seperti diberitakan, KRI Klewang-625 terbakar di Pangkalan TNI AL Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (28/9), sekitar pukul 15.00 WIB.
KRI Klewang ini diluncurkan pada 31 Agustus silam dan ditujukan untuk penerjunan pasukan khusus. Kapal itu diklaim punya kemampuan "siluman" karena tidak dapat dideteksi radar.
Komisi I DPR yang membidangi pertahanan dan luar negeri, mendesak TNI dan Mabes Polri untuk melakukan investigasi terhadap terbakarnya KRI Klewang. Mereka menduga ada sabotase dalam kejadian itu.
Menurut Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, kecurigaan adanya sabotase itu didasari asumsi bahwa kejadian itu bertepatan dengan akan disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) Industri Pertahanan pada 2 Oktober mendatang.
Dikatakan Mahfudz, RUU itu menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengembangkan industri pertahanan nasional, yang berarti belanja anggaran negara untuk alutsista dalam negeri akan lebih besar dibanding belanja ke luar negeri.
"KRI itu merupakan satu pengembangan kapal perang yang tergolong canggih. Apakah ada upaya-upaya untuk menjatuhkan nama baik industri pertahanan nasional? Ini menjadi dugaan yang berkembang," kata Mahfudz.
Dijelaskan, KRI Klewang adalah produk baru yang dikembangkan perusahaan lokal PT Lundin Industry Invest atas pesanan TNI Angkatan Laut. Pada 2012, kata Mahfudz, ada sejumlah kapal cepat rudal yang dipesan, yang sebagian akan dibangun di perusahaan lokal seperti PT Palindo di Batam.
Perusahaan-perusahaan lokal itu baru membuat prototipe dan rencananya prototipe itu akan dites TNI AL. Apabila dianggap bagus, maka pemesanan akan ditambah.
KRI klewang merupakan salah satu dari prototipe kapal perang itu. Berdasarkan informasi yang didapat Komisi I DPR, KRI Klewang memiliki kemampuan bersembunyi dari radar dan berharga Rp 114 miliar per unit.
Mahfudz menambahkan, meski pihak PT Lundin sudah mengumumkan penyebab kebakaran tersebut adalah karena korsleting listrik, namun pihaknya meyakini bahwa kejadiannya pasti tidak sesederhana itu.
"Apakah sesederhana itu, seperti rumah kontrakan korsleting, lalu kebakaran? Ini kan kapal canggih. Sedangkan bobot kebakaran cukup tinggi," tanya Mahfudz.
Mahfudz mengatakan bahwa pihaknya akan mempertanyakan masalah itu kepada pihak TNI dan Kementerian Pertahanan (Kemhan), yang akan bertemu dengan mereka (Komisi I) dalam sebuat rapat, malam ini.
"Kalau prinsipnya, komitmen kita (adalah) ingin mengembangkan industri dalam negeri," tuturnya.
Seperti diberitakan, KRI Klewang-625 terbakar di Pangkalan TNI AL Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (28/9), sekitar pukul 15.00 WIB.
KRI Klewang ini diluncurkan pada 31 Agustus silam dan ditujukan untuk penerjunan pasukan khusus. Kapal itu diklaim punya kemampuan "siluman" karena tidak dapat dideteksi radar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




