Video Game Kekerasan Bikin Remaja Berperilaku Agresif
Selasa, 9 Oktober 2012 | 12:33 WIB
Anak yang sering bermain video game kekerasan cenderung bereaksi agresif terhadap provokasi, sekalipun itu tak disengaja.
Remaja -- baik anak perempuan maupun anak laki-laki -- yang bermain video game kekerasan selama beberapa tahun cenderung menjadi lebih agresif terhadap orang lain.
Ini terlihat dari perilaku mereka di sekolah yang cenderung bereaksi agresif terhadap provokasi yang tak disengaja seperti, seseorang tak sengaja menabrak anak yang sering bermain video game kekerasan.
Demikian hasil studi terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari Kanada.
Studi jangka panjang yang dilakukan para peneliti dari Brock University, Kanada ini, merupakan studi pertama yang menemukan adanya hubungan yang jelas antara periode yang berkelanjutan dari bermain game kekerasan dengan peningkatan sikap permusuhan.
"Penelitian saat ini merupakan yang pertama untuk menunjukkan hubungan antara bermain video game kekerasan yang berkelanjutan dengan perkembangan perilaku agresif," kata pemimpin peneliti Profesor Teena Willoughby.
Penelitian ini melibatkan 1.492 remaja di delapan sekolah tinggi di Ontario, 51 persen dari yang perempuan dan laki-laki 49 persen.
Survei dilakukan setiap tahun di seluruh empat tahun sekolah dengan peserta berusia 14 atau 15 tahun pada awal studi dan 17 atau 18 tahun pada saat studi berakhir.
Dalam penelitian tersebut, para remaja diminta menjawab serangkaian pertanyaan seperti seberapa sering mereka mendorong orang, dan apakah mereka sering menendang atau memukul orang-orang yang membuat mereka marah.
Para psikolog menggunakan kuesioner ini guna memberikan skor pada setiap individu untuk tingkat agresi mereka pada setiap titik waktu. Tak hanya itu, mereka juga ditanya apakah bermain video game.
Dalam dua tahun terakhir dari penelitian, mereka ditanya seberapa sering memainkan game tersebut, mulai dari tidak pernah selama lima jam atau lebih per hari.
Analisis menunjukkan bahwa remaja yang bermain video game kekerasan selama beberapa tahun mencatat kenaikan tajam dalam nilai agresi mereka selama studi.
Sementara, remaja yang sering bermain game non-kekerasan tidak menunjukkan bukti peningkatan agresi.
Kecenderungan tetap bahkan setelah memperhitungkan variabel lain yang dapat dikaitkan dengan agresi seperti jenis kelamin, perceraian orangtua dan penggunaan obat terlarang.
Dari temuan tersebut, para peneliti menyeimpulkan, game kekerasan bisa 'memperkuat gagasan bahwa agresi adalah cara yang efektif dan tepat untuk menangani konflik dan kemarahan'.
Hasil studi ini dipublikasikan dalam jurnal Developmental Psychology.
Remaja -- baik anak perempuan maupun anak laki-laki -- yang bermain video game kekerasan selama beberapa tahun cenderung menjadi lebih agresif terhadap orang lain.
Ini terlihat dari perilaku mereka di sekolah yang cenderung bereaksi agresif terhadap provokasi yang tak disengaja seperti, seseorang tak sengaja menabrak anak yang sering bermain video game kekerasan.
Demikian hasil studi terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari Kanada.
Studi jangka panjang yang dilakukan para peneliti dari Brock University, Kanada ini, merupakan studi pertama yang menemukan adanya hubungan yang jelas antara periode yang berkelanjutan dari bermain game kekerasan dengan peningkatan sikap permusuhan.
"Penelitian saat ini merupakan yang pertama untuk menunjukkan hubungan antara bermain video game kekerasan yang berkelanjutan dengan perkembangan perilaku agresif," kata pemimpin peneliti Profesor Teena Willoughby.
Penelitian ini melibatkan 1.492 remaja di delapan sekolah tinggi di Ontario, 51 persen dari yang perempuan dan laki-laki 49 persen.
Survei dilakukan setiap tahun di seluruh empat tahun sekolah dengan peserta berusia 14 atau 15 tahun pada awal studi dan 17 atau 18 tahun pada saat studi berakhir.
Dalam penelitian tersebut, para remaja diminta menjawab serangkaian pertanyaan seperti seberapa sering mereka mendorong orang, dan apakah mereka sering menendang atau memukul orang-orang yang membuat mereka marah.
Para psikolog menggunakan kuesioner ini guna memberikan skor pada setiap individu untuk tingkat agresi mereka pada setiap titik waktu. Tak hanya itu, mereka juga ditanya apakah bermain video game.
Dalam dua tahun terakhir dari penelitian, mereka ditanya seberapa sering memainkan game tersebut, mulai dari tidak pernah selama lima jam atau lebih per hari.
Analisis menunjukkan bahwa remaja yang bermain video game kekerasan selama beberapa tahun mencatat kenaikan tajam dalam nilai agresi mereka selama studi.
Sementara, remaja yang sering bermain game non-kekerasan tidak menunjukkan bukti peningkatan agresi.
Kecenderungan tetap bahkan setelah memperhitungkan variabel lain yang dapat dikaitkan dengan agresi seperti jenis kelamin, perceraian orangtua dan penggunaan obat terlarang.
Dari temuan tersebut, para peneliti menyeimpulkan, game kekerasan bisa 'memperkuat gagasan bahwa agresi adalah cara yang efektif dan tepat untuk menangani konflik dan kemarahan'.
Hasil studi ini dipublikasikan dalam jurnal Developmental Psychology.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




