Dari Lukisan Kerbau hingga Peti Mati

Selasa, 15 Juni 2010 | 12:05 WIB
JG
B
Penulis: Juan Ardya Guardiola | Editor: B1

Catatan wartawan beritasatu.com ketika meliput pendaftaran calon ketua KPK di hari terakhir pendaftaran, Senin 15 Juni 2010.

Hiruk pikuk pendaftaran calon pengganti ketua KPK berakhir. Panitia seleksi menerima sekitar 400 pendaftar.
 
Dari jumlah itu hanya 268 peserta yang melengkapi berkasnya.
 
Beberapa nama tenar seperti Busyro Muqqodas (Ketua Komisi Yudisial), Jimly Asshiddiqie (mantan Ketua Mahkamah Konstitusi), Bondan Gunawan (mantan Menteri Sekretaris Negara era Presiden Abdurahman Wahid), Amir Hasan Ketaren (Ketua Komisi Kejaksaan), Maria Ulfa Rombot (anggota Komisi Kejaksaan), Bambang Widjajanto (pengacara Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah) mendaftar.
 
Sampai di sini tidak ada yang menarik. Yang unik adalah prosesi beberapa calon ketika mendaftar.
 
Mantan ketua tim pencari fakta aktivis HAM, Munir, Marsudi Hanafi, misalnya.
 
Ketika mendaftar, dia membawa peti mati dan kacamata kuda.
 
"Peti mati adalah media untuk mengingatkan dirinya jika melawan korupsi harus siap masuk peti mati. Seharusnya di kantor-kantor pejabat legislatif, yudikatif, dan eksekutif juga ada peti mati. Berani enggak kalau korupsi masuk peti mati?" kata Marsudi.
 
Lalu kacamata, kata dia bermakna ketua KPK harus melihat lurus dalam pemberantasan korupsi.
 
"Jangan lihat kanan kiri, tetapi tabrak depan. Kita harus bekerja berlandaskan Undang-Undang," kata dia.
 
Lain lagi dengan aksesori yang dibawa Kepala Kantor Departemen Hukum dan HAM Nusa Tenggara Barat, Irhamni Habibur Rahman.  
 
Dia  mendaftar dengan membawa sebuah lukisan orang  naik kerbau.
 
"Gambar orang yang sedang menaiki kerbau adalah simbol kesederhanaan yang tidak bisa diintervensi," kata Irhamni.
 
Dua pendaftar lain, Jusuf Rizal, ketua Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) dan pengacara Eggy Sudjana membawa belasan orang ke sekretariat panitia seleksi di Kementerian Hukum dan HAM.
 
Pendukung Eggy melakukan aksi teatrikal dengan bermain bola. Seorang pria berbaju batik yang tergabung dalam GPK Macan Tamil lantas menggiring bola bertuliskan korupsi ke gawang mini bertuliskan KPK.
 
Aksi itu, menurut mereka, sengaja dilakukan untuk menegaskan Eggy akan menggiring koruptor diusut di KPK.
 
Bola menjadi simbol dari koruptor. Sedangkan gawang mini itu adalah KPK.
 
Mereka membagikan buku karya Eggy berjudul "Negara Tanpa KPK" kepada semua orang yang ada di tempat pendaftaran.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon