Penyerang Gubernur Sulsel Jaringan Teror Poso-Makassar
Senin, 12 November 2012 | 14:33 WIB
Mabes Polri memastikan jika pelaku pelemparan bom pipa yang gagal meledak saat dilemparkan ke Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Minggu (11/11) terkait dengan jaringan teroris Poso yang tengah diburu.
"Waktu itu ditangkap A, atau Awaluddin dan sekitar kurang lebih 1 jam kemudian, tidak jauh dari lokasi itu, dilakukan penangkapan laki-laki berusia 27 tahun bernama Andika. Dua orang ini merupakan target yang sudah ditetapkan oleh Densus 88/Mabes Polri," beber Karo Penmas Polri Brigjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Senin (12/11).
Bahkan, jenderal bintang satu itu mengklaim jika, saat itu sebenarnya aparat Densus 88 telah mengintai dan berupaya menyergap tersangka. Namunm hal itu belum dilakukan supaya berkembang pada kelompok lainnya lebih dulu.
"Ini kelompok yang diduga melakukan aktivitas (teror) di Poso. Sebagaimana kami sampaikan, di Poso ada pihak-pihak lain yang datang dari luar kota Poso dan luar Sulawesi (untuk berlatih terorisme). Karena kita terus menerus menggelar razia maka banyak diantara mereka yang sudah meninggalkan Poso termasuk ke Sulsel," imbuh Boy.
Saat ini petugas masih memeriksa intensif terhadap kedua orang tersebut. Boy menambahkan, polisi juga tengah dikembangkan kelompok dan jaringan yang punya rencana untuk melakukan amaliah atau amalan di Sulsel. Polisi masih mengejar para pelaku lainnya.
Barang bukti yang disita dari kelompok teror jaringan poros Poso-Makassar ini adalah sebuah bom pipa, sebuah revolver, lima buah amunisi, dan dua buah alat komunikasi dari tangan Awaluddin dan sebuah pistol dari Andika.
Seperti diberitakan, Awaluddin Nasir ditangkap masyarakat dan diamankan polisi setelah bom yang dia lemparkan ke Yasin Limpo gagal meledak.
Saat kejadian, Yasin Limpo tengah berpidato di panggung di depan Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat di Jalan Jenderal Sudirman, Makassar.
Yasin Limpo berpidato dalam acara jalan santai ribuan warga untuk memperingati HUT ke-48 Partai Golkar.
Ini adalah serangan teroris pertama yang diarahkan kepada pejabat pemerintah setingkat gubernur.
Kelompok ini menganggap pemerintah, termasuk TNI dan Polri, adalah thagut atau setan karena memimpin tanpa dasar Syariat Islam.
"Waktu itu ditangkap A, atau Awaluddin dan sekitar kurang lebih 1 jam kemudian, tidak jauh dari lokasi itu, dilakukan penangkapan laki-laki berusia 27 tahun bernama Andika. Dua orang ini merupakan target yang sudah ditetapkan oleh Densus 88/Mabes Polri," beber Karo Penmas Polri Brigjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Senin (12/11).
Bahkan, jenderal bintang satu itu mengklaim jika, saat itu sebenarnya aparat Densus 88 telah mengintai dan berupaya menyergap tersangka. Namunm hal itu belum dilakukan supaya berkembang pada kelompok lainnya lebih dulu.
"Ini kelompok yang diduga melakukan aktivitas (teror) di Poso. Sebagaimana kami sampaikan, di Poso ada pihak-pihak lain yang datang dari luar kota Poso dan luar Sulawesi (untuk berlatih terorisme). Karena kita terus menerus menggelar razia maka banyak diantara mereka yang sudah meninggalkan Poso termasuk ke Sulsel," imbuh Boy.
Saat ini petugas masih memeriksa intensif terhadap kedua orang tersebut. Boy menambahkan, polisi juga tengah dikembangkan kelompok dan jaringan yang punya rencana untuk melakukan amaliah atau amalan di Sulsel. Polisi masih mengejar para pelaku lainnya.
Barang bukti yang disita dari kelompok teror jaringan poros Poso-Makassar ini adalah sebuah bom pipa, sebuah revolver, lima buah amunisi, dan dua buah alat komunikasi dari tangan Awaluddin dan sebuah pistol dari Andika.
Seperti diberitakan, Awaluddin Nasir ditangkap masyarakat dan diamankan polisi setelah bom yang dia lemparkan ke Yasin Limpo gagal meledak.
Saat kejadian, Yasin Limpo tengah berpidato di panggung di depan Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat di Jalan Jenderal Sudirman, Makassar.
Yasin Limpo berpidato dalam acara jalan santai ribuan warga untuk memperingati HUT ke-48 Partai Golkar.
Ini adalah serangan teroris pertama yang diarahkan kepada pejabat pemerintah setingkat gubernur.
Kelompok ini menganggap pemerintah, termasuk TNI dan Polri, adalah thagut atau setan karena memimpin tanpa dasar Syariat Islam.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




