Lemah, Pendataan Pemain Sepakbola Muda
Kamis, 22 November 2012 | 00:21 WIB
Setiap akan ada kejuaraan harus membuka pendaftaran secara konvensional.
Asosiasi Sekolah Sepak Bola Indonesia (ASSBI) menyoroti lemahnya pendataan pemain sepak bola muda Indonesia, sehingga setiap akan ada kejuaraan harus membuka pendaftaran secara konvensional.
Ketua Umum ASSBI, Taufik Jursal Efendi, menilai pendataan dengan cara konvesional sudah ketinggalan zaman, dan dibutuhkan sistem yang berbasis teknologi informasi (TI).
"Sudah saatnya berubah. Sekarang tidak zamannya lagi kita meneteng dokumen untuk mendaftarkan pemain muda jika akan turun di sebuah turnamen," kata Taufik, disela launching Program Pembinaan Atlet Sepak Bola Berbasis TI bersama XL. di Jakarta, Rabu (21/11).
Dengan berbasis TI akan lebih mudah dalam mencari data mulai dari umur pemain, posisi pemain, hasil psikotes serta grafik pemain selama berlatih di Sekolah Sepak Bola (SSB) anggota ASSBI yanag tersebar di seluruh Indonesia.
Data yang dimasukkan dalam sistem yang dinamai Sistem Informasi Terpadu Sekolah Sepak Bola (Sifoster SSB) ini, disebutnya akan dikendalikan oleh ASSBI Pusat namun untuk pengisiannya bisa dilakukan langsung oleh anggota.
"SSB anggota nantinya akan diberi password sendiri-sendiri dan bisa langsung memasukkan data pemain. Baru kami yang di pusat akan langsung melakukan rekapitulasi," katanya.
Dengan adanya sistem Sifoster SSB ini maka yang diuntungkan bukan hanya ASSBI saja tetapi semua pihak terutama pemangku kepentingan yang mengurusi sepak bola Indonesia.
"Misalnya untuk membentuk timnas junior. Kita tinggal memantau data dan memanggil pemain-pemain yang pantas dan selanjutnya menjalani seleksi akhir," katanya.
Juga Senior
Penggunaan sistem Siforfer ini juga cocok untuk pendataan pemain senior, karena selama ini pendataan pemain senior juga kurang maksimal sehingga banyak masyarakat maupun pemain itu sendiri kesulitan mencari data.
Sulitnya mencari data bagi pemain sepak bola Indonesia juga diakui oleh salah satu pengamat sepak bola Indonesia yaitu Anton Sanjoyo. Menurutnya, data pemain timnas Indonesia yang ada saat ini masih belum tertata dengan baik.
"Seperti data Kurniawan. Berapa gol yang tercipta selama memperkuat timnas, berapa caps membela timnas serta grafiknya semuanya kurang jelas. Seharusnya semuanya terdata dengan baik," kata Anton, di acara sama.
Sementara itu VP Enterprise & Carrier PT XL Axiata, Titus Dondi, mengaku sangat mendukung program yang dicanangkan oleh ASSBI dalam hal mengelola data digital bagi pemain sepak bola muda Indonesia.
"XL akan mendukung penuh Sifosfer SSB ini dalam lima tahun kedepan," kata Titus, usai penandatangan nota kesepahaman (MoU) dengan ASSBI.
Asosiasi Sekolah Sepak Bola Indonesia (ASSBI) menyoroti lemahnya pendataan pemain sepak bola muda Indonesia, sehingga setiap akan ada kejuaraan harus membuka pendaftaran secara konvensional.
Ketua Umum ASSBI, Taufik Jursal Efendi, menilai pendataan dengan cara konvesional sudah ketinggalan zaman, dan dibutuhkan sistem yang berbasis teknologi informasi (TI).
"Sudah saatnya berubah. Sekarang tidak zamannya lagi kita meneteng dokumen untuk mendaftarkan pemain muda jika akan turun di sebuah turnamen," kata Taufik, disela launching Program Pembinaan Atlet Sepak Bola Berbasis TI bersama XL. di Jakarta, Rabu (21/11).
Dengan berbasis TI akan lebih mudah dalam mencari data mulai dari umur pemain, posisi pemain, hasil psikotes serta grafik pemain selama berlatih di Sekolah Sepak Bola (SSB) anggota ASSBI yanag tersebar di seluruh Indonesia.
Data yang dimasukkan dalam sistem yang dinamai Sistem Informasi Terpadu Sekolah Sepak Bola (Sifoster SSB) ini, disebutnya akan dikendalikan oleh ASSBI Pusat namun untuk pengisiannya bisa dilakukan langsung oleh anggota.
"SSB anggota nantinya akan diberi password sendiri-sendiri dan bisa langsung memasukkan data pemain. Baru kami yang di pusat akan langsung melakukan rekapitulasi," katanya.
Dengan adanya sistem Sifoster SSB ini maka yang diuntungkan bukan hanya ASSBI saja tetapi semua pihak terutama pemangku kepentingan yang mengurusi sepak bola Indonesia.
"Misalnya untuk membentuk timnas junior. Kita tinggal memantau data dan memanggil pemain-pemain yang pantas dan selanjutnya menjalani seleksi akhir," katanya.
Juga Senior
Penggunaan sistem Siforfer ini juga cocok untuk pendataan pemain senior, karena selama ini pendataan pemain senior juga kurang maksimal sehingga banyak masyarakat maupun pemain itu sendiri kesulitan mencari data.
Sulitnya mencari data bagi pemain sepak bola Indonesia juga diakui oleh salah satu pengamat sepak bola Indonesia yaitu Anton Sanjoyo. Menurutnya, data pemain timnas Indonesia yang ada saat ini masih belum tertata dengan baik.
"Seperti data Kurniawan. Berapa gol yang tercipta selama memperkuat timnas, berapa caps membela timnas serta grafiknya semuanya kurang jelas. Seharusnya semuanya terdata dengan baik," kata Anton, di acara sama.
Sementara itu VP Enterprise & Carrier PT XL Axiata, Titus Dondi, mengaku sangat mendukung program yang dicanangkan oleh ASSBI dalam hal mengelola data digital bagi pemain sepak bola muda Indonesia.
"XL akan mendukung penuh Sifosfer SSB ini dalam lima tahun kedepan," kata Titus, usai penandatangan nota kesepahaman (MoU) dengan ASSBI.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




